Jogja 'Dikeroyok' Sepeda Saat JLFR Bikin Pemkot Turun Tangan

Round-Up

Jogja 'Dikeroyok' Sepeda Saat JLFR Bikin Pemkot Turun Tangan

Tim detikJogja - detikJogja
Sabtu, 11 Jul 2026 05:00 WIB
Pesepeda asal Purworejo, Toha Mafrudin atau Toheng (21) saat ditemui di Kotabaru, Kota Jogja, Jumat (28/11/2025).
Pesepeda asal Purworejo, Toha Mafrudin atau Toheng (21) saat ditemui di Kotabaru, Kota Jogja, Jumat (28/11/2025). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja
Jogja -

Pemkot Jogja mulai membatasi Jogja Last Friday Ride (JLFR) atau kegiatan bersepeda tiap Jumat malam di pekan keempat, melintasi kawasan Malioboro. Para pesepeda juga diminta tak menyerbu ruang publik saat JLFR.

Langkah ini diambil Pemkot Jogja buntut ramainya pesepeda saat JLFR. Dia merasa Jogja seperti dikeroyok pesepda dari berbagai daerah.

"Nah, dalam keadaan seperti ini, memang kita mengondisikan. Dalam keadaan kita malam Minggu atau malam weekend itu, kalau kita dikeroyok sepeda tanpa aturan, tidak ada koordinasi, kan sulit sekali. Maka akhirnya kita menutup jalur-jalur tertentu pada saat itu juga, gitu," ujar Walkot Jogja Hasto kepada wartawan, Kamis (9/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tegaskan Tak Larang Kegiatan Bersepeda

Dia menegaskan pihaknya bukan melarang kegiatan bersepda. Hanya saja, Pemkot akan mengatur jalur-jalur tertentu saat ada kegiatan JLFR.

"Mungkin, sepeda yang dilarang itu pada saat itu, pada saat malam Jumat itu. Malam Jumat kan pengecualian bahwa di malam itu sepeda yang masuk di Kota Jogja ini eh tidak terduga, tidak terencana, tidak terprogram masuk dari segala penjuru full ke Kota Jogja sehingga sangat mengganggu lalu lintas," jelasnya.

ADVERTISEMENT

Hasto juga berharap kegiatan ini bisa lebih terkoordinasi ke depannya. Terutama agar para pesepeda tidak memadati kawasan core zone maupun buffer zone Kota Jogja yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.

"Saya berharap ya, meskipun komunitas ini kan tanpa bentuk ya, tidak ada ketuanya, tidak ada organisasinya, tapi saya yakin sebetulnya ada leader-nya yang bisa mengarahkan lah," katanya.

"Harapan saya itu, dan saya sampaikan kepada komunitas sepeda yang kalau enggak salah hari Jumat, Minggu keempat ya, Minggu terakhir, kami berharap untuk bersepedanya terkoordinasi dengan baik dan tidak menyerbu di ruang-ruang publik yang padat seperti di core zone dan buffer zone untuk di Kota Jogja," pungkasnya.

JLFR Siap Evaluasi

Sebelumnya, Jogja Last Friday Ride (JLFR) buka suara terkait pembatasan rute di kawasan Malioboro Jogja. Mereka mengaku siap evaluasi.

Dalam pernyataan yang diterima detikJogja, JLFR menyoroti ironi ketika kemacetan akibat dominasi kendaraan bermotor dianggap sebagai hal yang lumrah. Sebaliknya, aktivitas warga seperti bersepeda dan berjalan kaki di ruang publik justru dinilai sebagai gangguan.

"Yang ironis hari ini bukan sekadar perdebatan tentang sebuah kegiatan bersepeda, melainkan cara kita memandang ruang jalan," tulis JLFR dalam pernyataan sikapnya melalui salah satu perwakilan yang enggan disebut namanya, Kamis (9/7/2026).

JLFR menegaskan sejak awal komunitas tersebut tidak dibentuk untuk menguasai jalan atau menghambat aktivitas masyarakat. Menurut mereka, kegiatan Last Friday Ride bertujuan merayakan budaya bersepeda sekaligus mengingatkan bahwa jalan merupakan ruang publik yang seharusnya dapat dinikmati seluruh pengguna secara adil, aman, dan saling menghormati.

"Kami menyadari bahwa setiap kegiatan di ruang publik harus diselenggarakan secara tertib, menghormati aturan, serta meminimalkan dampak terhadap masyarakat. Apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya, kami terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan," demikian bunyi pernyataan tersebut.

"Apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya, kami terbuka terhadap evaluasi dan perbaikan," lanjut pernyataan tersebut.

Polisi Ungkap Kesulitan Komunikasi

Diketahui, pembatasan pesepeda di Malioboro saat JLFR sudah mulai dilakukan. Kasat Lantas Polresta Jogja, AKP Alvian Hidayat mengatakan penyekatan dilakukan karena pihaknya kesulitan membangun komunikasi.

"Pada dasarnya kegiatan kita mengarahkan untuk tidak masuk Malioboro ini sudah berjalan lama, pasca kejadian yang edisi 184 atau 185. Kita ambil kebijakan sementara, karena kita sudah berupaya untuk komunikasi dengan teman-teman yang di JFLR tapi tidak ada jawaban, tidak ada tanggapan, ya akhirnya kalau untuk melarang secara total kan enggak bisa ya," ujar Alvian saat dihubungi detikJogja, Kamis (2/7/2026).

"Orang namanya orang mau sepedaan masak enggak boleh. Kita tidak bisa melarang secara total orang bersepeda. Akhirnya kita tidak perkenankan melalui jalur utama Malioboro," lanjutnya.

Sejauh ini, pihaknya membatasi pesepeda dengan melakukan penyekatan. Penyekatan pesepeda dilakukan tiap Jumat pada akhir bulan.

"Langkah antisipasi kita mengupayakan ini di pintu masuk utama yang di depan Hotel De Djokja dan juga depan Pos Teteg yang Loco Cafe itu. Kita gelar personel di sana. Ketika ada teman-teman pesepeda kita arahkan untuk lurus ke barat, ke arah Pasar Kembang," tuturnya.



(afn/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads