Anak sopir bajaj di Jogja, Andromeda Sufi Anggoro, berhasil mewujudkan mimpinya kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ayahnya, Basuni Yusuf, mengaku sempat bingung saat menerima kabar tersebut, terutama soal biayanya.
Khawatir Biaya Mahal
Basuni warga Tegalrejo, Jogja, itu mengatakan sejak lama anaknya ingin berkuliah di ITB. Namun, ia awalnya tak mengizinkan.
"Saya ndak mengizinkan (kuliah di ITB), karena jauh dan saya ndak ada biayanya, kan biayanya mahal kalau di Bandung itu," kata Basuni saat ditemui di kediamannya, Jumat (24/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kuliah Setahun di UPN
Alhasil, Andro berkuliah di UPN Jogja usai lulus SMA pada 2025. Menurut Basuni, Andro mau berkuliah di UPN semata demi menuruti orang tua.
"(Kuliah) UPN setahun, dapat KIP. Jurusannya Fakultas Teknik Informatika. Bukan (keinginan Andro), karena dia itu yang waktu di Jogja itu, dia hanya menuruti orang tuanya aja, dia menuruti kemauan orang tuanya, nglegani itu," ujarnya.
Diam-diam Daftar ITB
Setahun kuliah kuliah di UPN, tak membuat Andro mengubur mimpinya. Sulung dari 7 bersaudara itu diam-diam mendaftar ke ITB tahun ini. Andro pun diterima di jurusan yang ia impikan, yaitu astronomi.
"Tiba-tiba dia itu 'ayah aku diterima di ITB, aku mau ke Bandung Yah'. Saya waktu denger itu ya bingung, soalnya biaya itu mau pakai apa, saya nggak pegang uang. Akhirnya saya jawab, 'oke Ndro, kamu boleh ke Bandung asal ada beasiswa'," kata Basuni.
Basuni yang pernah bekerja sebagai pemarut kelapa di Pasar Karangwaru itu sempat gamang. Ia ingin memfasilitasi mimpi anaknya, namun keadaan ekonomi jadi penghalang.
Basuni masih tak yakin penghasilannya sebagai sopir dengan bajaj sewaan dengan biaya Rp 80 ribu per hari itu bisa membantu banyak. Di saat itu, ibu Andro yang menjadi penguat.
Istri Basuni, Suci Wahyuningsih (45), meminta Basuni menyerahkan semua ke Sang Pencipta. Basuni pun merestui Andro, asal bisa dapat beasiswa.
Antar Pakai Bajaj
Basuni pun nekat mengantar Andro ke Bandung denga bajaj. Ia juga sempat bagikan rencana perjalanannya ke grup WhatsApp orang tua mahasiswa ITB.
Basuni, Suci, Andro, dan satu adiknya, pun bertolak ke Bandung pada Jumat (17/7) pukul 5 sore. Mereka mengendarai bajaj setelah Basuni mendapat izin dari si empunya bajaj.
Siapa sangka langkah itu justru menjadi pembuka jalan bagi Andro mendapat beasiswa.
"Sebelumnya saya memang berencana mau saya antar pakai bajaj, saya share ke grup Ikatan Orang Tua Mahasiswa ITB. Kemudian sembari cari-cari beasiswa, malah dari pihak ITB itu mengundang kami supaya datang ke ITB, kami diundang mau dikasih beasiswa," terangnya.
Habis Bensin Rp 400 Ribu
Perjalanan panjang naik bajaj itu menghabiskan biaya bensin Rp 400 ribu.
"Perjalanan itu 24 jam, nginep dulu tapi. Sampai Gombong jam 23.30 nginep di pondok, paginya berangkat lagi. Saya istirahat dua kali, sampai Bandung pukul 20.23," papar Basuni.
"(Bensin) Sekitar Rp 400.000 PP (pergi-pulang), soalnya jalannya santai. Ya alhamdulillah, karena ya saking senangnya ya toh, semangat toh, jadinya nggak terasa, tapi kita jalannya santai, waktu jam salat berhenti, salat dulu. Nanti tidur dulu. Jadi agak lama," imbuhnya.
Dapat Beasiswa
Ternyata, pihak ITB membuatkan acara khusus menyambut Andro sekeluarga. Di sana, secara seremonial Andro diberi berbagai bantuan untuk menunjang perkuliahannya.
"Ternyata diacarani, saya datang ke ITB ndak ngerti. Saking senengnya saya sujud syukur. Disambut pak Dekan, disambut pak Rektor di rumah dinasnya," terang Basuni.
"Dikasih uang tunai Rp 5 juta untuk biaya perjalanan. Anak saya dikasih laptop. Terus dikasih beasiswa untuk biaya hidup Rp 6 juta per semester. Biaya kuliah ndak, UKT-nya dapat Rp 1 juta, insyallah mampu," lanjutnya.
Untuk meringankan biaya, selama kuliah di Bandun Andro akan tinggal ponpes mahasiswa. Sisanya, Andro hanya tinggal menjalani mimpinya yang jadi kenyataan.
"Di sana di pondok pesantren mahasiswa. Jadi dari sini sudah online daftar. Nggih, karena kalau kos mahal di sana. Di sana itu kosnya yang paling murah Rp 1 juta, pondok itu kan setahun Rp3,5 juta," pungkas Basuni.
