Di balik Perbukitan Menoreh, Dusun Dukuh, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo, terdapat rumah sederhana yang menjadi saksi bisu perjuangan Republik Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan saat masa Agresi Militer Belanda II. Adalah Rumah Sandi yang menjadi markas komunikasi darurat pejuang sandi pada masa itu.
Bangunan bergaya joglo dengan mayoritas menggunakan konstruksi kayu itu pernah menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Saat Belanda menyerbu Jogja pada Desember 1948, kantor persandian yang terletak di Kotabaru, Kota Jogja tak lagi aman.
"Secara historis, ini digunakan sebagai kamar sandi darurat saat Agresi Militer Belanda II. Karena kantor Dinas Kode di Kotabaru diserang, para sandiman bergerak ke arah barat untuk menyelamatkan diri," ujar Kepala Museum Sandi Yogyakarta, Setyo Budi Prabowo, saat ditemui di lokasi, Selasa (31/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum menuju lokasi Rumah Sandi, para sandiman sempat berkonsolidasi di daerah Dekso, Kalibawang, hingga akhirnya berpencar menjalankan tugas. Kemudian, salah satu personel menemukan rumah di Dusun Dukuh yang dinilai strategis.
"Di Dekso dilakukan konsolidasi, kemudian dibagi tugas. Ada yang mendampingi pimpinan, dan ada yang mencari lokasi aman untuk operasi sandi. Akhirnya ditemukan rumah milik warga yang tidak jauh dari radio militer, dan digunakan untuk kegiatan sandi-menyandi," lanjut Setyo.
Rumah Sandi yang terletak di Dusun Dukuh, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo, Selasa (31/3/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja |
Setyo mengatakan peran rumah tersebut tak hanya sekadar untuk tempat bersembunyi. Di Rumah Sandi, berbagai pesan dikirim ke berbagai wilayah, termasuk luar negeri.
"Untuk kirim dan terima berita, semua informasi yang bersifat rahasia disandikan terlebih dulu sebelum dikirim melalui radio. Dari sini ke Playen (Gunungkidul), kemudian beranting ke Sumatera Barat, bahkan sampai ke perwakilan kita di New Delhi," tuturnya.
Tak hanya itu, Setyo menjelaskan Rumah Sandi juga berfungsi sebagai titik penyaringan bagi siapapun yang akan bertemu dengan pimpinan militer.
"Kalau ada yang ingin bertemu Wakil Kepala Staf Angkatan perang, dicek dulu di Dekso ini. Lalu di sini dicek apakah dia pro Republik atau tidak," ucapnya.
Setyo menambahkan keberadaan rumah tersebut memang sulit diketahui pihak Belanda. Namun, Rumah Sandi tetap aman pada masa tersebut.
"Belanda memang tahu wilayah ini jadi basis, tapi lokasi pastinya tidak diketahui, lokasi ini tersembunyi. Belanda juga memonitor komunikasi, jadi harus diamankan dengan persandian agar tidak terbaca," ujarnya.
Kini, Rumah Sandi masih terjaga dan terbuka untuk umum. Menurut Setyo, tempat ini menjadi pengingat pentingnya perjuangan pejuang di balik layar untuk mempertahankan kemerdekaan RI.
"Perjuangan itu tidak hanya dengan senjata, tapi juga melalui komunikasi rahasia yang dijaga oleh para sandiman," pungkasnya.
Rumah Sandi yang terletak di Dusun Dukuh, Kalurahan Purwoharjo, Kapanewon Samigaluh, Kulon Progo, Selasa (31/3/2026). Foto: Serly Putri Jumbadi/detikJogja |
(apl/ams)














































Komentar Terbanyak
Komandan IRGC Tokoh Kunci Penutupan Selat Hormuz Tewas Diserang Israel
Fakta-fakta Polisi Jogja Gugur Saat Operasi Ketupat Progo
Pengunjung dari Iran Dilarang Masuk ke Australia