Tanggal 21 Mei menjadi salah satu momen penting dalam sejarah Indonesia. Hari tersebut menandai berakhirnya pemerintahan Orde Baru (Orba) setelah Presiden ke-2 RI, Soeharto, resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada 21 Mei 1998.
Peristiwa Reformasi 1998 lahir dari gelombang demonstrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa dan masyarakat di berbagai daerah. Mereka menuntut perubahan pemerintahan di tengah kondisi ekonomi yang memburuk akibat krisis moneter, tingginya harga kebutuhan pokok, serta maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Peringatan Hari Reformasi bukan hanya menjadi pengingat sejarah jatuhnya Orde Baru, tetapi juga simbol perjuangan rakyat dalam memperjuangkan demokrasi, keadilan, dan pemerintahan yang lebih terbuka. Namun, sebenarnya seperti apa sejarahnya hingga Hari Reformasi itu muncul?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut penjelasan sejarah dan makna Hari Reformasi bagi Indonesia, dirangkum dari buku Jejak Sejarah Indonesia (Dari Kolonialisme hingga Era Reformasi) tulisan Sigit Pandu dan Seri IPS Sejarah oleh Prawoto. Baca sampai tuntas, ya, detikers!
Hari Reformasi 2026 yang ke Berapa?
Hari Reformasi diperingati setiap tanggal 21 Mei. Tanggal tersebut merujuk pada peristiwa pengunduran diri Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 yang kemudian menjadi awal dimulainya Era Reformasi di Indonesia. Momentum tersebut menjadi tonggak penting perjalanan bangsa karena membuka jalan bagi berbagai perubahan di bidang politik, hukum, pemerintahan, hingga kebebasan berpendapat. Pada tahun 2026 ini, masyarakat Indonesia akan memperingati Hari Reformasi yang ke-28 terhitung sejak 21 Mei 1998.
Apa Itu Reformasi?
Reformasi merupakan gerakan perubahan untuk menyusun kembali sistem pemerintahan dan kehidupan bernegara yang sebelumnya dianggap menyimpang. Secara bahasa, reformasi berasal dari kata re yang berarti kembali dan formasi yang berarti susunan, sehingga reformasi dapat diartikan sebagai penyusunan kembali.
Di Indonesia, reformasi identik dengan berakhirnya era Orde Baru dan dimulainya era baru setelah pengunduran diri Presiden Soeharto pada tahun 1998. Selama lebih dari tiga dekade pemerintahan Orde Baru, muncul berbagai persoalan seperti praktik KKN, pembatasan kebebasan berpendapat, hingga penyalahgunaan kekuasaan.
Gerakan Reformasi dipelopori mahasiswa yang melakukan demonstrasi di berbagai daerah. Tuntutan mereka antara lain:
- Mengadili Soeharto dan kroni-kroninya
- Melaksanakan amandemen UUD 1945
- Menghapus dwifungsi ABRI
- Melaksanakan otonomi daerah yang luas
- Menegakkan supremasi hukum
- Menciptakan pemerintahan yang bersih dari KKN.
Latar Belakang Hari Reformasi 21 Mei
Latar belakang Reformasi 1998 tidak terlepas dari krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1997. Nilai tukar rupiah merosot tajam, inflasi meningkat, harga kebutuhan pokok melambung, dan daya beli masyarakat menurun drastis.
Situasi semakin memanas setelah Sidang Umum MPR pada Maret 1998 kembali memilih Soeharto dan B.J. Habibie sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI untuk masa jabatan 1998-2003. Setelah itu, Soeharto membentuk Kabinet Pembangunan VII.
Pada Mei 1998, mahasiswa dari berbagai daerah mulai menggelar demonstrasi dan aksi keprihatinan. Mereka menuntut penurunan harga sembako, penghapusan KKN, dan mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenan.
Demonstrasi semakin besar setelah pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM dan ongkos angkutan pada 4 Mei 1998. Gelombang protes mahasiswa pun terjadi di berbagai kota.
Puncak ketegangan terjadi pada tanggal 12 Mei 1998 dalam aksi demonstrasi mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta. Bentrokan dengan aparat keamanan menyebabkan empat mahasiswa, yakni Elang Mulia Lesmana, Hery Hartanto, Hafidhin A. Royan, dan Hendriawan Sie, meninggal dunia akibat tertembak. Puluhan mahasiswa lainnya juga mengalami luka-luka dan dibawa ke RS Sumber Waras.
Kematian empat mahasiswa Trisakti memicu gelombang demonstrasi yang lebih besar di berbagai daerah. Pada 13-14 Mei 1998 terjadi kerusuhan massal dan penjarahan di Jakarta dan sejumlah wilayah lain. Banyak toko dibakar dan dijarah, bahkan ratusan orang dilaporkan meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Pada 19 Mei 1998, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berhasil menduduki gedung MPR/DPR di Jakarta. Pada hari yang sama, Harmoko selaku pimpinan MPR/DPR juga menyampaikan anjuran agar Presiden Soeharto mengundurkan diri.
Di Jogja, jutaan masyarakat berkumpul di Alun-alun Utara Keraton Jogja dalam acara Pisowanan Agung untuk mendengarkan maklumat Sri Sultan Hamengku Buwono X dan Sri Paku Alam VII.
Sehari kemudian, tepatnya 20 Mei 1998, Presiden Soeharto mengundang sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk meminta pertimbangan terkait pembentukan Dewan Reformasi.
Namun tekanan publik terus meningkat. Hingga akhirnya pada 21 Mei 1998 pukul 10.00 WIB di Istana Negara, Presiden Soeharto resmi mengundurkan diri di hadapan Ketua dan anggota Mahkamah Agung.
"Saya memutusken untuk menyataken berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak saya bacaken pernyataan ini, pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998," ucap Presiden Soeharto saat itu, dilansir detikNews (19/5/2023).
Berdasarkan Pasal 8 UUD 1945, jabatan presiden kemudian diserahkan kepada Wakil Presiden B.J. Habibie yang langsung dilantik sebagai Presiden RI. Tanggal 21 Mei kemudian senantiasa diperingati sebagai Hari Reformasi meski belum secara resmi ditetapkan melalui aturan perundang-undangan.
Makna Hari Reformasi 21 Mei bagi Indonesia
Hari Reformasi memiliki makna penting bagi perjalanan demokrasi Indonesia. Peristiwa ini menjadi simbol perjuangan rakyat dalam menuntut perubahan dan pemerintahan yang lebih adil. Reformasi juga membuka jalan bagi berbagai perubahan besar di Indonesia, seperti kebebasan pers, pelaksanaan pemilu yang lebih demokratis, pembatasan masa jabatan presiden, hingga meningkatnya kebebasan masyarakat dalam menyampaikan pendapat.
Selain itu, Hari Reformasi menjadi pengingat bahwa demokrasi harus terus dijaga. Semangat reformasi diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk terus mengawal pemerintahan, menegakkan hukum, dan mencegah praktik korupsi, kolusi, serta nepotisme di Indonesia.
Demikian sejarah singkat Reformasi 1998 di Indonesia serta makna di balik peristiwa ini bagi masyarakat. Tahun 2026 ini, Indonesia memperingati Hari Reformasi ke-28. Semoga dengan adanya peringatan ini, masyarakat kembali sadar akan pentingnya makna perjuangan orang-orang terdahulu terhadap bangsa. Semoga informasi ini bermanfaat detikers!
Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
