Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, menjadi sorotan. Ia menuai hujatan karena membandingkan Yesus Kristus dengan pendiri Kekaisaran Mongol, Genghis Khan.
Komparasi itu muncul di tengah pertemuan antara Netanyahu dengan jurnalis asing, seperti disiarkan televisi pada Kamis (19/3) malam waktu setempat. Saat itu, dia mengutip sejarawan Amerika Serikat (AS) Will Durant.
Netanyahu menyebut bahwa "sejarah membuktikan bahwa, sayangnya dan tidak menyenangkan, Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Agresi akan mengalahkan moderasi. Jadi Anda tidak punya pilihan," tambahnya, mengutip Durant.
Netanyahu kemudian membela serangan gabungan antara Israel dengan Amerika Serikat (AS) yang dilakukan sejak 28 Februari 2026. Ia bersikeras bahwa itu adalah cara terbaik untuk melindungi tidak hanya Israel tetapi "seluruh dunia" dari apa yang disebutnya sebagai ancaman program nuklir dan rudal balistik Iran.
Menuai Kecaman Keras
Sontak, pernyataan Bibi, panggilan Netanyahu, menuai kritik di media sosial. Terutama dari umat Kristen yang marah.
Pasalnya, Netanyahu membandingkan Yesus Kristen, yang dianggap umat Kristen sebagai Tuhan yang menjelma di dunia sekaligus "Raja Damai", dengan Genghis Khan, pendiri Kekaisaran Mongol pada abad ke-13, yang pasukannya meluluhlantakkan Asia mulai dari China hingga Mediterania.
Munther Isaac, seorang pendeta Lutheran Palestina dari Betlehem, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus, mengatakan di X bahwa pernyataan Netanyahu "menyinggung di berbagai tingkatan".
"Bukan hanya membandingkan Yesus dengan Genghis Khan," tulisnya, "tetapi juga menyiratkan bahwa jalan Yesus itu naif, sementara pendekatan yang kejam dan 'kekuatanlah yang menentukan kebenaran'... adalah apa yang pada akhirnya memungkinkan kebaikan untuk mengalahkan kejahatan."
"Netanyahu, dan para pendukung Zionis Kristennya, sedang memperolok-olok etika Yesus," tambahnya.
Iran Sebut Netanyahu Lakukan "Penghinaan Luar Biasa"
Sementara Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga melontarkan kecaman kepada Negeri. Ia menyatakan ucapan Netanyahu sebagai "penghinaan luar biasa".
"Bagi seorang pria yang sangat bergantung pada niat baik umat Kristen di Amerika Serikat, penghinaan terbuka Netanyahu terhadap Yesus Kristus (SAW) sangat luar biasa," tulis Araghchi di X sambil mengunggah video yang menampilkan pernyataan Netanyahu, dilansir Anadolu, Sabtu (21/3/2026).
"Pujian tanpa batas" Perdana Menteri Israel terhadap Genghis Khan, "pembantai terburuk yang pernah dilihat kawasan kita, juga sesuai dengan statusnya saat ini sebagai buronan penjahat perang," kata Araghchi.
Netanyahu Beri Klarifikasi
PM Israel berusia 76 tahun tersebut lantas merespons dan mengklarifikasinya di media sosial. Ia berkilah ucapannya tidak dimaksudkan untuk menyinggung Yesus.
"Lebih banyak berita palsu tentang sikap saya terhadap umat Kristen, yang dilindungi dan berkembang di Israel. Izinkan saya memperjelas: Saya tidak merendahkan Yesus Kristus dalam konferensi pers saya," tulis Netanyahu dalam bahasa Inggris di X, dilansir AFP via detikNews, Sabtu (21/3/2026).
"Sebaliknya, saya mengutip sejarawan besar Amerika Will Durant. Seorang pengagum Yesus Kristus yang setia, Durant menyatakan bahwa moralitas saja tidak cukup untuk memastikan kelangsungan hidup," tambahnya.
Ia kembali menegaskan kata-katanya bahwa dirinya tidak bermaksud merendahkan Yesus Kristus.
"Peradaban yang unggul secara moral masih dapat jatuh ke tangan musuh yang kejam jika tidak memiliki kekuatan untuk membela diri. Tidak ada maksud untuk menyinggung," tulisnya.

Komentar Terbanyak
Mahasiswa UGM Terancam Sanksi Buntut Hina Pasien BPJS Yurizal
Ancaman Sanksi Pemasang Pelang Jalan Malioboro Ilegal
Info Dab! Pemda DIY Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan hingga 30 September