PM Israel Netanyahu Klarifikasi soal Pernyataannya yang Singgung Yesus Kristus

Internasional

PM Israel Netanyahu Klarifikasi soal Pernyataannya yang Singgung Yesus Kristus

Rolando Fransiscus Sihombing - detikJogja
Sabtu, 21 Mar 2026 15:51 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu saat pidato di Sidang Umum PBB, New York, Jumat (26/9/2025). (YouTube/United Nations)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: YouTube/United Nations
Jogja -

Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, mengklarifikasi usai pernyataan di siaran televisi dirinya membandingkan Yesus Kristus dengan pendiri Kekaisaran Mongol Genghis Khan. Netanyahu berdalih ia sama sekali tidak bermaksud merendahkan Yesus.

"Lebih banyak berita palsu tentang sikap saya terhadap umat Kristen, yang dilindungi dan berkembang di Israel. Izinkan saya memperjelas: Saya tidak merendahkan Yesus Kristus dalam konferensi pers saya," tulis Netanyahu dalam bahasa Inggris di X, dilansir AFP via detikNews, Sabtu (21/3/2026).

"Sebaliknya, saya mengutip sejarawan besar Amerika Will Durant. Seorang pengagum Yesus Kristus yang setia, Durant menyatakan bahwa moralitas saja tidak cukup untuk memastikan kelangsungan hidup," tambahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

PM Israel yang dipanggil Bibi itu kembali menegaskan tidak ada maksudnya untuk menyinggung Yesus.

"Peradaban yang unggul secara moral masih dapat jatuh ke tangan musuh yang kejam jika tidak memiliki kekuatan untuk membela diri. Tidak ada maksud untuk menyinggung," tulisnya.

ADVERTISEMENT

Sebut Yesus Tak Punya Keunggulan dari Genghis Khan

Dalam pertemuan bersama pers asing yang disiarkan Kamis (19/3) malam waktu setempat, Netanyahu menyebut bahwa "sejarah membuktikan bahwa, sayangnya dan tidak menyenangkan, Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan."

"Agresi akan mengalahkan moderasi. Jadi Anda tidak punya pilihan," tambahnya, mengutip Durant.

Netanyahu kemudian membela serangan gabungan antara Israel dengan Amerika Serikat (AS) yang dilakukan sejak 28 Februari 2026. Ia bersikeras bahwa itu adalah cara terbaik untuk melindungi tidak hanya Israel tetapi "seluruh dunia" dari apa yang disebutnya sebagai ancaman program nuklir dan rudal balistik Iran.

Pernyataannya memicu gelombang kritik di media sosial, khususnya dari umat Kristen yang marah dengan perbandingan antara Yesus--yang mereka anggap sebagai Tuhan yang menjelma dan "Pangeran Perdamaian"--dan Genghis Khan, pendiri Kekaisaran Mongol abad ke-13 yang pasukannya menghancurkan Asia dari China hingga Mediterania.

Munther Isaac, seorang pendeta Lutheran Palestina dari Betlehem, yang diyakini sebagai tempat kelahiran Yesus, mengatakan di X bahwa pernyataan Netanyahu "menyinggung di berbagai tingkatan".

"Bukan hanya membandingkan Yesus dengan Genghis Khan," tulisnya, "tetapi juga menyiratkan bahwa jalan Yesus itu naif, sementara pendekatan yang kejam dan 'kekuatanlah yang menentukan kebenaran'... adalah apa yang pada akhirnya memungkinkan kebaikan untuk mengalahkan kejahatan."

"Netanyahu, dan para pendukung Zionis Kristennya, sedang memperolok-olok etika Yesus," tambahnya.

Iran Kecam Keras

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, juga mengecam keras pernyataan Netanyahu tersebut. Ia menyebut perkataan Netanyahu "penghinaan luar biasa".

"Bagi seorang pria yang sangat bergantung pada niat baik umat Kristen di Amerika Serikat, penghinaan terbuka Netanyahu terhadap Yesus Kristus (SAW) sangat luar biasa," tulis Araghchi di X sambil mengunggah video yang menampilkan pernyataan Netanyahu, dilansir Anadolu, Sabtu (21/3/2026).

"Pujian tanpa batas" Perdana Menteri Israel terhadap Genghis Khan, "pembantai terburuk yang pernah dilihat kawasan kita, juga sesuai dengan statusnya saat ini sebagai buronan penjahat perang," kata Araghchi.



(apu/aku)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads