PM Israel Bawa-bawa Yesus Saat Bicara Agresi, Menlu Iran Mencak-mencak

Internasional

PM Israel Bawa-bawa Yesus Saat Bicara Agresi, Menlu Iran Mencak-mencak

Rolando Fransiscus Sihombing - detikJogja
Sabtu, 21 Mar 2026 15:04 WIB
NEW YORK, NEW YORK - SEPTEMBER 26: Prime Minister of Israel Benjamin Netanyahu speaks at the 80th session of The United Nations General Assembly (UNGA) on September 26, 2025 in New York City. This years theme for the annual global meeting is:Better together: 80 years and more for peace, development and human rights.   Alexi J. Rosenfeld/Getty Images/AFP (Photo by Alexi J. Rosenfeld / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / Getty Images via AFP)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Foto: Getty Images via AFP/ALEXI J. ROSENFELD
Jogja -

Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, menjadi sorotan karena membawa-bawa Yesus Kristus saat bicara agresi. Sontak, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, marah dan menyebut apa yang dilakukan Netanyahu sebagai penghinaan yang luar biasa.

Netanyahu membandingkan tokoh dalam agama Kristen itu dengan pendiri Kekaisaran Mongol, Genghis Khan, disiarkan televisi pada Kamis (19/3) waktu setempat.

"Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan. Karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi," demikian pernyataan Bibi, panggilan Netanyahu, dalam siaran televisi, dilansir detikNews.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menlu Iran Kecam Keras

Menanggapi pidato Netanyahu itu, Araghchi menyatakan ucapan Netanyahu tersebut adalah penghinaan bagi Yesus Kristus.

"Bagi seorang pria yang sangat bergantung pada niat baik umat Kristen di Amerika Serikat, penghinaan terbuka Netanyahu terhadap Yesus Kristus (SAW) sangat luar biasa," tulis Araghchi di X sambil mengunggah video yang menampilkan pernyataan Netanyahu, dilansir Anadolu, Sabtu (21/3/2026).

ADVERTISEMENT

"Pujian tanpa batas" Perdana Menteri Israel terhadap Genghis Khan, "pembantai terburuk yang pernah dilihat kawasan kita, juga sesuai dengan statusnya saat ini sebagai buronan penjahat perang," kata Araghchi.

Diketahui, Timur Tengah dilanda konflik panas buntut Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran sejak 28 Februari 2026. Serangan itu menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan.

Serangan terbaru Iran menembakkan dua rudal balistik ke arah pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia di Samudra Hindia. Diego Garcia adalah pulau terbesar di Kepulauan Chagos, digunakan sebagai pangkalan militer gabungan Inggris-AS sejak tahun 1970-an.

Menurut laporan The Wall Street Journal mengutip pejabat AS, dilansir AFP, Sabtu (21/3), dua rudal tersebut tidak mengenai sasaran, yang berjarak sekitar 2.500 mil dari wilayah Iran, tetapi peluncuran tersebut menunjukkan bahwa Teheran memiliki rudal dengan jangkauan lebih jauh daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Sementara itu, militer Israel mengatakan telah melancarkan serangan terhadap target rezim di Teheran. Serangan sekutu AS itu setelah melaporkan beberapa kali tembakan rudal Iran ke Israel.

Pernyataan singkat militer Israel mengatakan pasukan "menyerang target rezim Iran di Teheran" setelah serangan udara sebelumnya yang menargetkan kelompok militan Hizbullah yang didukung Iran di ibu kota Lebanon, Beirut.



(apu/aku)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads