Iran Umumkan Kenaikan Upah Minimum 60 Persen di Tengah Perang

Internasional

Iran Umumkan Kenaikan Upah Minimum 60 Persen di Tengah Perang

Novi Christiastuti - detikJogja
Senin, 16 Mar 2026 18:38 WIB
Kementerian Tenaga Kerja Iran mengumumkan kenaikan upah lebih dari 60 persen bagi warganya.
Situasi di Teheran, Iran, saat perang melawan AS-Israel berkecamuk. Foto: AFP
Jogja -

Kementerian Tenaga Kerja Iran mengumumkan kenaikan upah lebih dari 60 persen bagi warganya. Pengumuman ini disampaikan di tengah perang negara tersebut melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Dilansir detikNews, beberapa bulan yang lalu masyarakat Iran melakukan demonstrasi antipemerintah, yang dipicu ketidakpuasan rakyat atas kondisi ekonomi yang buruk.

Iran akhirnya menyesuaikan upah minimumnya untuk memperhitungkan inflasi yang meroket akibat sanksi internasional dan perang. Selain itu, pemerintah Iran juga mengumumkan kenaikan tunjangan anak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan upah minimum itu, seperti dilansir AFP, Senin (16/3/2026), diumumkan oleh Menteri Tenaga Kerja Iran pada Minggu (15/3) waktu setempat.

ADVERTISEMENT

Menteri Tenaga Kerja Iran mengatakan bahwa "dengan persetujuan pemerintah", upah minimum bulanan akan naik dari 103 juta Rial Iran (Rp 1,3 juta) menjadi 166 juta Rial Iran (Rp 2,1 juta) pada tahun kalender Persia mendatang.

Sebagai informasi unjuk rasa memprotes kondisi ekonomi Iran meletus sejak Desember tahun lalu. Unjuk rasa ini mulanya dipicu oleh tingginya biaya hidup dan depresiasi mata uang nasional.

Namun, aksi protes itu meluas dan berkembang dengan cepat menjadi unjuk rasa antipemerintah. Demonstran menyerukan diakhirinya kepemimpinan ulama di Iran yang berkuasa sejak revolusi Islam tahun 1979.

Akibat demo besar-besaran ini otoritas Iran melancarkan penindakan keras. Diduga ada ribuan orang tewas akibat situasi ini.

Situasi tersebut mendorong Presiden AS Donald Trump untuk melontarkan ancaman intervensi militer terhadap Iran. AS bersama Israel mulai melancarkan serangan militer skala besar terhadap Iran pada akhir Februari.




(afn/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads