Pembubaran ibadah Gereja Misi Sejahtera (GMS) menyisakan luka mendalam bagi para jemaat. Meski begitu, pihak gereja mengimbau agar jemaat tak membalas.
Hal tersebut disampaikan Humas GMS Pusat, Josiah Michael. Ia menyesalkan adanya pembubaran ibadah yang disertai intimidasi dan ancaman kepada para jemaat di Bantul pada Minggu (24/5) lalu.
"Kami sangat menyesalkan terjadinya insiden pembubaran ibadah yang diikuti dugaan tindakan intimidasi dan ancaman baik secara fisik dan verbal dari sekelompok oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap saudara-saudara GMS Bantul," kata Humas GMS Pusat, Josiah Michael dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (26/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kejadian ini menyisakan luka dan trauma pada jemaat terutama jemaat yang masih anak-anak," ujarnya.
Josiah menilai fenomena ini seharusnya tak terjadi sebab kebebasan beragama dan menjalankan ibadah secara damai merupakan hak asasi fundamental. Hal itu juga dinilai telah diatur dalam konstitusi.
"Pembatasan ibadah dengan intimidasi yang berujung pada kekerasan adalah tindakan yang mencederai nilai-nilai toleransi dan keharmonisan bangsa," ujarnya.
Imbau Jemaat Tak Membalas
Sementara itu, Humas GMS Bantul, Eko, meminta kepada seluruh jemaat agar menyikapi peristiwa ini dengan kepala dingin. Dia meminta seluruh jemaat GMS ikut mendoakan terkait peristiwa yang terjadi di Bantul.
"GMS juga menyerukan kepada semua pihak untuk tidak membalas kejadian tersebut dengan perpecahan. Sebaliknya, jalan damai dan hukum yang harus ditegakkan, diiringi dengan doa agar situasi di Bantul segera kondusif dan jemaat dapat kembali beribadah dengan tenang," kata Eko dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (26/5/2026).
Eko juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul dalam penanganan kasus tersebut.
"GMS Bantul menyerahkan penanganan atas insiden ini kepada pihak yang berwenang agar diselesaikan sesuai dengan koridor hukum," ucapnya.
Alasan Massa Bubarkan Ibadah GMS
Sebelumnya Ketua FJI DIY, Abdurrahman membenarkan FJI mendatangi GMS Minggu (24/5) kemarin sekitar pukul 08.00 WIB. Menurutnya, ibadah di gereja itu dibubarkan karena mendapat penolakan warga.
Dia mengatakan gereja telah dibangun sejak dua tahun lalu tanpa ada izin warga. Hal tersebut membuat warga bertanya-tanya, karena tiba-tiba ada gereja di wilayahnya yang mayoritas beragama Islam.
"Jadi itu bangunan itu kan sudah dua tahun, dari mulai apa, proses pembangunan. Nah, kemarin kan mau diresmikan dari pihak GMS. Itu kan namanya GMS itu. Nah, GMS itu kan warga kan tidak tahu GMS itu artinya apa, kan gitu kan. Ada yang bilang itu gudang apa, ada bilang yaitu mau buat kafe, kan gitu," katanya saat dihubungi wartawan, Senin (25/5/2026).
Terlebih, malam sebelum kejadian, Sabtu (23/5) ternyata sudah ada pertemuan antara pendeta, Polsek Sewon, Kapanewon Sewon hingga Kesbangpol Kabupaten Bantul. Pertemuan itu membahas soal peresmian GMS.
"Nah, intinya dari pihak gereja ini kan mau mengadakan acara peresmian, tapi sudah diingatkan dari Kesbangpol, dan warga pun juga menolak. Dari Kesbangpol memanggil pendetanya dan pendetanya itu hanya berdasarkan surat izin lapor di Kemenag," ucapnya.
Kesbangpol, kata, Abdurrahman, saat itu telah meminta agar mempertimbangkan peresmian GMS. Pasalnya GMS belum mengantongi izin secara penuh dan dalam pembangunannya juga tidak melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bantul.
"Terus karena itu belum ada izin, Kesbangpol sudah menyampaikan kalau itu belum kuat karena belum ada izin. Tapi kalau dari pihak gereja mau tetap bersikukuh mau mengadakan acara, nanti kalau ada apa-apa tidak bertanggung jawab," katanya.
Namun GMS tetap melaksanakan peresmian. Di mana hal itu membuat warga bergejolak dan berlanjut laporan warga ke FJI DIY.
"Kemarin akhirnya kan bergejolak kan itu kan, karena warga juga sudah menolak. FJI dapat laporan juga, akhirnya kita datang ke sana, gitu," ujarnya.

Komentar Terbanyak
Awal Mula Ide Mbah Suhan Bikin 'Sawah Rongsok' di Gunungkidul
Pekerja Tewas Tertimpa Tembok Saat Bongkar Rumah di Sleman
Dinas Pertanian Gunungkidul Akan Kembangkan 'Padi Galon' Ala Pak Dukuh Wonosari