Deretan kursi di depan agen bus malam di Terminal Jombor, Kabupaten Sleman mulai dipenuhi calon pemudik pada pekan terakhir Bulan Ramadan tahun 2026. Di salah satu sudut, Levia (20) tampak resah menanti kedatangan bus.
Tangannya erat menggenggam tiket yang didapatkannya jauh sebelum Bulan Ramadan tiba. Beberapa kali, ia mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Levia datang ke terminal diantar salah satu saudaranya. Namun, perjalanan pulang menuju Palembang akan ditempuh seorang diri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesekali, ekor matanya mengikuti tiap kali ada bus yang masuk terminal. Namun, bus yang masuk bukan yang membawanya kembali ke kampung halaman di Palembang, Sumatera Selatan.
"Saya kerja di Jogja ini. Kebetulan baru kali ini pulang kampung, baru setahun (merantau)," kata Levia saat berbincang dengan detikJogja, Senin (16/3/2026).
Levia baru bisa pulang kampung hari ini setelah tempat kerjanya memberikan libur hari raya. Selama dua pekan ke depan, ia akan menghabiskan waktu di tanah kelahiran.
"Karena dapat cuti perusahaan tanggal 16 ini. Kebetulan dapat libur 2 minggu," ucapnya.
Bagi Levia, bus menjadi salah satu moda transportasi yang murah. Selain itu, jarak tempat pemberhentiannya tak terlalu jauh dari rumahnya.
"Karena lebih nyaman pakai bus, kalau pakai udara agak jauh juga bandara ke rumah," katanya.
Jadilah ia mencari tiket jauh sebelum Bulan Ramadan. Selain menghindari antrean, juga agar tidak kehabisan tiket.
"Kebetulan saya nyari jauh-jauh hari, persiapan untuk pulang biar kebagian," katanya.
Jika Levia harus menempuh perjalanan panjang ke Palembang seorang diri, lain halnya dengan Hasuri. Pria asal Serang itu pulang bersama tiga kawannya.
Hasuri mengaku baru dua bulan merantau ke Jogja. Proyek pembangunan Tol Jogja-Solo yang membawanya ke Kota Pelajar.
"Mudik sama saudara berempat, kerja di tol semua. Baru dua bulan (merantau di Jogja)," kata Hasuri.
Setidaknya, pada momen Lebaran ini ia bisa melepas rindu dengan sanak famili di Banten lebih lama sebelum kembali ke Jogja. Sebab, proyek tol baru akan berlanjut setelah liburan usai.
"Libur mungkin sampai bulan depan. Insyaallah ke sini lagi," ujarnya.
Bagi sebagian orang, momen Lebaran merupakan waktunya berkumpul bersama keluarga. Tapi tidak dengan Rasimin (56).
Bertahun-tahun, warga Banyumas itu menghabiskan Lebaran di jalan. Maklum, profesinya sebagai sopir bus antar kota antar provinsi (AKAP) mengharuskannya terus mengaspal. Kebutuhan agar dapur tetap mengepul yang jadi alasan utamanya.
"Sekitar 10 tahunan lebih di Sinar Jaya. Wah, insyaallah di Lebaran ini nonstop lah. Kebutuhan," kata Rasimin.
Bagi Rasimin, jalanan sudah menjadi teman akrab. Rasa rindu pada keluarga di rumah pun perlahan ia biasakan, selama kebutuhan mereka tetap tercukupi.
"Ya, kalau saya udah biasa di jalanan ya enjoy aja. Yang penting di rumah udah ada buat kebutuhan, udah," katanya.
Setidaknya, untuk mengobati rindu, ia menyempatkan telepon keluarga di rumah. Baru setelah Lebaran nanti, ia memiliki waktu untuk berkumpul bersama keluarga. Toh selama ini anak dan istrinya tak pernah protes.
"Sudah biasa. Sudah biasa istri saya, anak-anak saya sudah biasa. Paling ya itu cuma kirim kalau sempet ya nelpon, silaturahmi di telepon," ujarnya.
Lonjakan calon pemudik itu juga dirasakan oleh para agen tiket bus di Terminal Jombor. Meskipun tidak seramai pada Lebaran dua tahun sebelumnya.
"Iya lebih rame dua tahun sebelumnya ya, karena tahun lebaran kemarin juga enggak begitu ramai," kata Ambar Yanti, salah satu agen bus sekaligus Ketua Paguyuban Agen dan Perwakilan Bus Malam (Papbima) Terminal Jombor.
Ia menyebut lonjakan penumpang mulai terasa sejak 13 Maret lalu. Sementara, puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada 18 Maret mendatang.
"Kalau mulai ramainya itu sejak tanggal 13 sudah mulai terasa. Kayaknya puncaknya itu tanggal 18," kata Yanti.
Rata-rata dalam satu hari terdapat 30 calon penumpang yang akan berangkat dari Terminal Jombor. Rata-rata tujuannya ke Pulau Sumatera. Jumlah ini masih lebih baik dibanding hari biasa.
"Lebaran ini ya kalau untuk Sumatera-nan itu tempat saya lo ya, itu ada sekitar 30 orang, iya per hari, saya bikin rata-rata aja," ujarnya.
Terkait harga tiket, Ambar menyebut terjadi kenaikan yang ditentukan oleh masing-masing perusahaan otobus (PO). Agen hanya mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh perusahaan.
Ia mencontohkan harga tiket tujuan Sumatera yang sebelumnya sekitar Rp490 ribu kini bisa mencapai Rp 640 ribu mendekati Lebaran.
"Kenaikannya bertahap. Awalnya sekitar Rp490 ribu, lalu naik jadi Rp 550 ribu, dan sekarang sekitar Rp 640 ribu," ujarnya.
Saat ini sebagian besar tiket keberangkatan hingga mendekati Lebaran sudah terjual. Penumpang yang ingin bepergian biasanya hanya bisa berharap ada pembatalan tiket.
"Kalau sampai tanggal 20 itu kebanyakan sudah penuh. Biasanya kalau ada yang mau berangkat ya menunggu ada yang cancel," pungkasnya.
(par/aku)












































Komentar Terbanyak
Iran soal Video Kemunculan Netanyahu: Jika Masih Hidup Akan Terus Kami Kejar
Rismon Sianipar Kini Bilang Ijazah Jokowi-Gibran Asli, Begini Temuannya
Terungkap Alasan Alvi Tega Mutilasi Kekasih Jadi Ratusan Potong