Total 8,2 juta orang diprediksi masuk ke Provinsi DIY selama arus mudik Lebaran tahun ini. Jutaan orang itu diperkirakan masuk secara berkala sepanjang masa mudik Lebaran dan dengan berbagai alat transportasi.
Hal itu disampaikan Kapolda DIY Irjen Anggoro Sukartono usai rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) DIY jelang Idulfitri 1447 H di kompleks Kepatihan, Kota Jogja, hari ini.
"Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi tujuan dari mobilitas masyarakat pada puncak arus mudik yang diprediksi mencapai 8,2 juta orang," jelas Anggoro di Kompleks Kepatihan, Selasa (10/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"8,2 juta ini dimaksudkan berdasarkan survei Kementerian Perhubungan itu datang tidak sekaligus, tapi berdasarkan hasil survei dari perhitungan jumlah pengguna kendaraan pribadi, juga penumpang kereta di Stasiun Tugu dan Lempuyangan," sambungnya.
Anggoro melanjutkan, pemudik mayoritas tetap berasal dari Jabodetabek. Untuk itu prediksi kendaraan pribadi yang menuju ke DIY dipantau sejak dari Gerbang Tol Kalikangkung Semarang, Jawa Tengah.
"Kita prediksi pada H-5 dan H-3 Lebaran ini prediksi arus masuk padat," ungkap Anggoro.
"Pengamanan hari libur Idulfitri yang nanti akan dikedepankan dalam Operasi Ketupat Progo 2026 yang akan dilaksanakan mulai 13 hingga 25 Maret secara serentak," imbuhnya.
Banyaknya pemudik yang diprediksi masuk DIY ini pastinya akan menimbulkan simpul kemacetan. Seperti di stasiun, bandara, hingga beberapa tempat destinasi wisata.
Untuk itu, selain mendirikan 25 pos pengamanan yang tersebar di seluruh DIY, polisi bersama stake holder terkait juga melakukan beberapa upaya dalam mengurai kemacetan hingga memastikan keselamatan pemudik.
"Setiap orang yang datang harus mengetahui tentang keadaan Jogja. Komunikasi akan dilakukan melalui media elektronik dan media sosial," ujar Anggoro.
Kepolisian juga melakukan koordinasi dengan penyedia layanan aplikasi navigasi untuk melakukan pencegahan mapping ke jalur-jalur yang minim informasi.
"Kita akan komunikasi untuk membatasi jalur-jalur yang informasinya tidak akurat karena keberadaan personel polri pada pos-pos harus memastikan bahwa jalur-jalur kecil tidak boleh terjadi apabila tidak ada petugas," ujarnya.
"Sehingga kita koordinasi dengan Waze dengan Google untuk meng-adjust jalur-jalur yang tidak boleh dilalui," lanjut Anggoro.
Untuk itu, kata Anggoro, update kondisi lalu lintas akan dinamis per harinya sehingga masyarakat bisa mendapat informasi terkini. Hal ini akan berdampak pada masyarakat untuk tetap disiplin menggunakan jalur.
"Dalam perkembangannya per hari bisa berubah, apabila ada jalur yang berpotensi menimbulkan kerawanan, apabila dialihkan melalui Google ini yang kita cegah," terang Anggoro.
"Tetap dalam pemilihan jalur dan lajur yang ada petugasnya, inilah imbauan tentang disiplin menggunakan lajur dari informasi yang diterima masyarakat. Sehingga masyarakat tahu bahwa kemacetannya hanya 1 jam, atau 15 atau 10 menit," pungkasnya.
(afn/dil)












































Komentar Terbanyak
Pengirim Sapi Kurban 'TIW' ke Masjid Dekat Rumah Amien Rais dari Jakarta
Misteri Tewasnya Fotografer Keraton Jogja Sekeluarga Dalam Tenda Saat Kamping
Fakta Sejauh Ini soal Pembubaran Ibadah Jemaat Gereja di Bantul