Siapa yang Wajib Bayar Fidyah? Ini Hukum, Waktu dan Cara Membayarnya

Siapa yang Wajib Bayar Fidyah? Ini Hukum, Waktu dan Cara Membayarnya

Nur Umar Akashi - detikJogja
Rabu, 04 Mar 2026 10:52 WIB
Holy Quran and a grain of rice in a wooden bowl in the sack on a wooden table, Islamic zakat concept. Muslims to help the poor and needy. Conceptual shoot for property, income, and fitrah zakat.
Ilustrasi fidyah. (Foto: Getty Images/maroot sudchinda)
Jogja -

Ketika membahas bab puasa, poin yang tidak mungkin terlewat diperbincangkan adalah fidyah. Perkara ini menjadi semakin penting menjelang tibanya bulan Ramadan yang identik dengan ibadah puasa sebulan penuh.

Dirujuk dari buku Taudhihul Adillah 5 tulisan KH M Syafi'i Hadzami, fidyah adalah sesuatu yang diberikan dari harta tertentu, atas jalan tertentu, diberikan kepada orang tertentu, sebagai pengganti dari yang ditebus. Biasanya, fidyah berbentuk bahan makanan pokok.

Dalam syariat Islam, terdapat beberapa golongan yang diwajibkan membayar fidyah. Siapa saja? Kapan waktu membayar fidyah? Simak pembahasan lengkapnya melalui uraian di bawah ini, yuk!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Poin Utamanya:

  • Golongan yang tidak puasa Ramadan dan wajib membayar fidyah meliputi orang tua, wanita hamil/menyusui, hingga orang sakit yang sulit diharapkan kesembuhannya.
  • Fidyah boleh dibayarkan pada awal, tengah, maupun akhir Ramadan.
  • Fidyah bisa dibayarkan dengan bentuk makanan pokok mentah, seperti beras, sesuai jumlah. Bisa pula dalam bentuk makanan jadi. 1 porsi makanan siap saji untuk setiap 1 hari puasa yang ditinggalkan.

Siapa yang Wajib Bayar Fidyah? Begini Hukumnya

Sebagaimana detikers ketahui, hukum asal puasa Ramadan adalah wajib. Namun, ada beberapa golongan yang diberi keringanan Allah SWT untuk tidak mengerjakannya. Gantinya, mereka diwajibkan membayar fidyah. Berikut daftarnya:

1. Orang Lanjut Usia

Menurut penjelasan di buku Panduan Lengkap Puasa Ramadhan Menurut Al-Qur'an dan Sunnah tulisan Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi dan Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Lukman, orang tua diwajibkan membayar fidyah saat tidak mampu lagi berpuasa Ramadhan. Dalilnya adalah firman Allah:

وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ

Artinya: "...Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin..." (QS al-Baqarah: 184)

Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata, "Lelaki dan wanita renta yang berat berpuasa, hendaknya mereka berbuka (tidak berpuasa) dan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari." (HR Bukhari no 4505)

2. Wanita Hamil dan Menyusui

Wanita hamil dan menyusui diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Akan tetapi, perlu tidaknya ia membayar fidyah masih diperselisihkan ulama.

Dirujuk dari buku Fiqih Ibadah tulisan Ahmad Fatoni, pendapat pertama menyebut wanita hamil dan menyusui hanya wajib mengganti puasa saja, tanpa fidyah. Sementara itu, pendapat kedua yang dipedomani Ibnu Umar dan Ibnu Abbas mengatakan cukup fidyah tanpa mengganti puasa.

Di sisi lain, pendapat ketiga menyatakan wanita hamil dan menyusui diwajibkan meng-qadha puasa Ramadhan sekaligus membayar fidyah. Pendapat ini dipedomani oleh Imam asy-Syafi'i. Wallahu a'lam bish-shawab.

3. Orang Sakit yang Kesembuhannya Sulit

Golongan lain yang diperbolehkan tidak mengerjakan puasa Ramadan adalah orang sakit. Dengan catatan, sakitnya tersebut tidak diharapkan lagi untuk sembuh. Dalam kondisi tersebut, orang sakit dianggap seperti orang tua yang sudah tidak mampu lagi berpuasa.

4. Orang yang Tidak Kunjung Melunasi Utang Puasa

Mereka yang memiliki utang puasa Ramadan, tetapi tidak kunjung melunasinya hingga Ramadan berikutnya tiba, menurut salah satu pendapat, dikenai kewajiban fidyah. Berdasar penjelasan di buku Rangkuman tentang Qadha Puasa oleh Abu Ghozie as-Sundawie, pendapat ini dipedomani oleh ulama-ulama Syafi'iyyah, Malikiyyah, dan Hanbaliyyah.

Sementara itu, menurut mazhab Hanafi, orang yang telat melunasi utang puasanya tidak wajib membayar fidyah, melainkan cukup qadha saja. Para ulama mazhab Hanafi berdalih dengan firman Allah SWT yang tidak merinci kewajiban fidyah. Wallahu a'lam bish-shawab.

5. Orang Meninggal yang Masih Memiliki Utang Puasa

Berdasarkan keterangan di laman Nahdlatul Ulama (NU) Lampung, orang yang meninggalkan puasa tanpa udzur atau karena udzur, tetapi ia menemukan waktu untuk mengqadha puasanya dan kemudian gagal melunasi karena keburu dijemput malaikat maut, ahli warisnya bisa membayarkan fidyah.

Ahli waris orang tersebut bisa memilih dua opsi, yakni membayar fidyah atau berpuasa untuk almarhum. Ketentuan ini berlaku jika harta peninggalan mayit mencukupi untuk membayar fidyah. Jika tidak mencukupi, maka ahli waris tidak berkewajiban untuk menggantikan berpuasa atau membayar fidyah. Hukumnya berganti menjadi sunnah.

Waktu Membayar Fidyah

Ustadz Ammi Nur Baits ST BA dalam buku Kumpulan Artikel Sya'ban dan Ramadhan menyebut waktu membayar fidyah longgar. Seorang yang dikenai kewajiban fidyah boleh membayarkannya setiap hari. Boleh pula mengakhirkan pembayaran sampai selesai Ramadan.

Dalil kebolehan membayar pada akhir Ramadan adalah perlakuan Anas bin Malik radhiyallahu anhu:

عَن أَنَسِ بْنِ مَالِكَ رَضي الله عنه أَنَّهُ ضَعُفَ عَنِ الصَّومِ عَامًا فَصَنَع جَفْنَةً ثَرِيدٍ وَدَعَا ثَلَاثِينِ مِسْكِينًا فَأَشْبَعَهُم

Artinya: "Dari Anas bin Malik RA, bahwa ketika dirinya sudah tidak mampu puasa setahun, beliau membuat adonan tepung dan mengundang 30 orang miskin, kemudian beliau kenyangkan mereka semua." (HR Ad-Daruquthni, dianggap shahih oleh Syaikh al-Albani)

Lembaga Fatwa Arab Saudi, al-Lajnah ad-Daimah, memberi keterangan serupa:

"Boleh membayar fidyah kepada satu orang miskin atau lebih di awal bulan Ramadan, atau pertengahan dan akhirnya." (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 6/380 no 15268 dan 9/128 no 17029)

Cara Membayar Fidyah Puasa

Diambil dari buku Fikih Puasa tulisan Sofyan Chalid bin Idham Ruray, ada 2 cara membayar fidyah, yakni:

  1. Membagi bahan makanan mentah untuk orang miskin. Setiap satu hari puasa yang ditinggalkan, fidyahnya adalah makanan pokok senilai kurang lebih 1,5 kilogram. Makanan pokok disesuaikan kebiasaan tiap negara.
  2. Menyiapkan makanan jadi, lalu memberikannya kepada orang miskin. Satu porsi makanan jadi untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Demikian pembahasan lengkap mengenai golongan yang wajib membayar fidyah, waktu, dan cara membayarnya. Semoga bermanfaat!

FAQ

1. Apakah boleh membayar fidyah dengan uang?

Mayoritas ulama, yakni dari mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali, berpendapat fidyah harus dibayarkan dengan bentuk makanan pokok setempat. Di sisi lain, ulama-ulama Hanafiyyah membolehkan pembayaran fidyah berbentuk uang.

2. Bolehkah bayar fidyah ke 1 orang?

Fidyah boleh dibayarkan kepada seorang miskin saja dengan besaran sebanyak hari puasa yang ditinggalkan. Boleh pula membayarkan kepada banyak orang sesuai jumlah.

3. Berapa kilo beras untuk bayar fidyah 30 hari?

Dengan standar 1,5 kilogram per hari, jumlah beras untuk fidyah 30 hari adalah 45 kilogram. Standar ini mengikuti pendapat ulama Hanafiyyah yang menyebut fidyah sebesar 2 mud. Adapun jika mengikuti pendapat lain, fidyah diwajibkan sebanyak 1 mud atau kurang lebih 750 gram. Alhasil, untuk 30 hari, beras yang dikeluarkan sebanyak 22,5 kilogram.




(sto/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads