Selamat Jalan John Tobing Pencipta Lagu Perlawanan 'Darah Juang'

Round-Up

Selamat Jalan John Tobing Pencipta Lagu Perlawanan 'Darah Juang'

Tim detikJogja - detikJogja
Jumat, 27 Feb 2026 03:19 WIB
Sederet fakta seputar sosok mendiang Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing, pencipta lagu perlawanan Darah Juang.
Potret John Tobing pencipta lagu ''Darah Juang' di rumah duka Arimatea RS Bethesda Kota Jogja, Kamis (27/2/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Kabar duka datang dari dunia musik dan aktivisme Indonesia. Pencipta lagu 'Darah Juang', Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing, meninggal dunia. Berikut sederet fakta seputar sosok pencipta lagu simbol perlawanan itu.

Meninggal di RSA UGM

Rekannya, Joko Utomo, mengatakan John Tobing meninggal di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Joko bilang, John yang menjalani perawatan di RSA UGM dinyatakan meninggal pada pukul 20.45 WIB, Rabu (25/2).

"Masuk ke RS subuh tadi. (Dinyatakan) Meninggal pukul 20.45 WIB di RSA UGM," kata Joko saat dihubungi wartawan, Rabu (25/2/2026) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disemayamkan di Rumah Duka Bethesda

Jenazah John Tobing disemayamkan di rumah duka Arimatea RS Bethesda Kota Jogja.

Pantauan detikJogja, Kamis (26/2), sejumlah karangan bunga terpajang di luar rumah duka, beberapa karangan bunga tampak terpajang. Di antaranya dari Mensesneg Prasetyo Hadi hingga Ketua Komisi XII DPR RI Willy Aditya.

ADVERTISEMENT

Keluar-Masuk RS Sebelum Meninggal

Putra bungsu John, Gopas Kibar Syang Proudy (18) menyebut ayahnya meninggal akibat henti jantung mendadak. Dia bilang kondisi kesehatan ayahnya mulai menurun hingga harus dirawat di rumah sakit sejak November 2025.

"(masuk rumah sakit) Semenjak 29 November (2025), balik ke rumah 28 Januari (2026). Terus masuk lagi itu awal Februari, tanggal 8 Februari masuk lagi di Hermina, semingguan di Hermina, terus sudah balik lagi ke rumah," kata Gopas di Rumah Duka Bethesda, Kamis (26/2/2026).

John pun harus kembali ke rumah sakit pada Rabu (25/2) dini hari dan langsung masuk ke ruang ICU akibat penurunan kesadaran.

"Terus barulah hari Rabu ini dini hari, minggu ini, masuk lagi karena penurunan kesadaran itu. Awalnya saya ke Rumah Sakit Hermina, cuma karena belum tercover BPJS karena terakhir dirawat di Hermina, kemudian dibawa ke RSA UGM lagi," paparnya.

Rabu malam, John tiba-tiba mengalami henti jantung. Ia meninggal dunia di ruang ICU tanpa didampingi keluarganya.

"Ini mendadak sih. Memang kami dari keluarga itu pas sedang di rumah memang, karena di rumah sakit itu dimasukkan ke ruang ICU, tidak bisa ditunggu," ungkap Gopas.

"Dan juga malam itu, jam 20.45 ditelepon pihak keluarga, terus katanya memang Bapak henti jantung dan memang tidak kembali berdetak lagi, dan akhirnya kami semua langsung datang ke rumah sakit. Memang kami belum cukup siap juga sebetulnya karena dadakan itu kan," sambungnya.

Dimakamkan Sabtu Besok

John meninggal dunia di usia 59 tahun 3 bulan. Jenazahnya akan dimakamkan Sabtu (28/2) mendatang di TPU Madurejo, Prambanan, Sleman.

"Hari ini nanti jam 18.30 penghiburan gereja, besok juga sama jam 18.30 malem. Dan ada (prosesi) adat Matonggo Raja, adat itu untuk persiapan hari Sabtunya. Kalau pemberangkatannya (ke pemakaman) itu ada (prosesi) kebaktian," ujar Gopas, kemarin.

Kisah di Balik Lagu Darah Juang

John Tobing adalah aktivis PRD dan mahasiswa Filsafat UGM angkatan 1991 yang dikenal gigih melawan rezim Orde Baru melalui musik. Lagu Darah Juang diciptakan tahun 1991 melalui kolaborasi lirik bersama tokoh seperti Dadang Juliantara dan Budiman Sudjatmiko.

Berdasarkan artikel bertajuk Representasi Perlawanan Mahasiswa dalam Lirik Lagu Darah Juang dan Pembebasan oleh Johanes Gerung dkk, John dikenal sebagai musisi sekaligus aktivis yang gigih memperjuangkan keadilan.

Sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat UGM angkatan 1991, ia terlibat aktif dalam gerakan politik bawah tanah. John tercatat sebagai anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD). Organisasi ini pada masanya menjadi salah satu kelompok yang berseberangan dengan rezim Soeharto.

Hingga masa tuanya, John tetap dikenang sebagai sosok yang sederhana namun memiliki integritas tinggi. Kedekatannya dengan almamaternya pun terlihat hingga akhir hayat, di mana ia dirawat dan mengembuskan napas terakhir di rumah sakit milik UGM.

R Toto Sugiharto dalam buku Tradisi Akademik Mengakomodasi Kearifan Lokal menceritakan bahwa benih semangat lagu ini muncul pasca-Sumpah Mahasiswa tahun 1988 yang disusun oleh Afnan Malay. Tiga tahun kemudian, pada 1991, John Tobing mulai mengaransemen sebuah melodi instrumental menggunakan gitar akustiknya di sela-sela sebuah diskusi.

Melodi tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah lagu yang utuh. Dadang Juliantara, mahasiswa MIPA UGM, membantu melengkapi syairnya. Lirik tersebut kemudian direvisi kembali bersama Budiman Sudjatmiko yang saat itu merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM. Menariknya, lagu ini awalnya lahir tanpa judul yang pasti.

Judul 'Darah Juang' muncul secara tidak sengaja ketika John Tobing diundang dalam sebuah pertemuan mahasiswa. Saat ia diminta menyanyikan lagu tersebut, seseorang dari kerumunan memberikan celetukan 'Darah Juang' sebagai judulnya. John pun sepakat, dan sejak saat itu nama tersebut resmi melekat pada karyanya.

Lagu ini pertama kali dikumandangkan secara luas pada Kongres Pertama Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY). Liriknya yang menggambarkan penderitaan rakyat dan semangat pengabdian menjadikannya abadi. Bahkan, setelah rezim Orde Baru tumbang, UGM secara resmi memasukkan lagu ini dalam materi Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) sebagai bagian dari pengenalan jati diri mahasiswa.

Pantang Bilang Menyerah

Menurut putra bungsunya, Gopas Kibar Syang Proudy (18), mendiang John adalah sosok yang pantang bilang menyerah.

"Saya sangat menganggap ayah saya itu idola saya. Saya baru sadar karena memang dia itu kalau di rumah tidak semenonjol itu, jadi seperti layaknya bapak-bapak biasa," ujar Gopas saat ditemui di rumah duka Bethesda, Jogja, Kamis (26/2/2026).

"Dan saya takjubnya karena melihat kawan-kawan yang datang semuanya, dengan lagu-lagu yang diciptakannya. Dan saat bapak lagi dirawat di rumah sakit, bahkan di rumah pun saya juga menyanyikan lagu-lagu yang biasa Bapak nyanyikan di rumah, juga lagu-lagu kesukaan kami berdua," sambungnya.

Gopas mengenangkan bahwa ayah memang gemar bercerita. Satu ungkapan John yang membekas di benak Gopas ialah betapa besar keinginannya untuk sembuh seperti sedia kala.

"Yang buat saya sedih itu karena terakhir itu bapak bilangnya dia ingin bebas. Dia ingin bebas, dia tanya dia kapan sembuh, dia kapan bisa kayak dulu lagi. Itu sih yang saya sedihkan," kata Gopas.

Gopas juga mengagumi betapa besar semangat yang dimiliki ayahnya.

"Semangatnya, wah itu sangat (besar). Saya membaca artikel-artikel tentang bapak juga, bahwa memang semangat bapak ini tidak pernah padam untuk memikirkan bangsa," ucap Gopas.

"Dia memang sangat semangat, bahkan sampai di ICU saya sampai bilang 'kayaknya Gopas sudah nggak usah ngomong semangat lagi sama Bapak, karena Gopas tahu Bapak itu pantang banget buat bilang menyerah'," ungkapnya.

'Darah Juang' Jadi Milik Publik

Lagu 'Darah Juang' ciptaan Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau John Tobing harusnya menjadi warisan berharga bagi keluarga sepeninggalnya. Tapi putra bungsu John, Gopas Kibar Syang Proudy (18), menyebut ayahnya pernah berpesan bahwa lagu Darah Juang adalah milik bangsa.

"Harapan saya sih ya, semoga ya sesuai dengan yang bapak harapkan juga, bahwa Darah Juang ini untuk bangsa, memang untuk bangsa, dan kalaupun dinyanyikan di mana pun, Bapak malah senang," ujarnya saat ditemui di rumah duka Bethesda, Kamis (26/2/2026).

"Tidak perlu hak cipta segala macam karena dia ingin lagunya dikenal di seluruh penjuru Indonesia, bahkan mancanegara, karena itu doang harapan dia. Lagunya dikenal dan dia juga mempunyai karya yang membekas," sambungnya.

Halaman 2 dari 2
(dil/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads