Dunia aktivisme dan musik Indonesia tengah berduka atas kepergian salah satu tokoh ikoniknya. Johnsony Maharsak Lumban Tobing, atau yang lebih dikenal sebagai John Tobing, dikabarkan meninggal dunia pada Rabu, 25 Februari 2026 malam pukul 20.45 WIB.
Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh rekannya, Joko Utomo, sebagaimana diberitakan detikJogja. John Tobing mengembuskan napas terakhir di RSA UGM setelah sempat menjalani perawatan sejak waktu subuh di hari yang sama.
Penasaran seperti apa sosok John Tobing yang menciptakan lagu Darah Juang, detikers? Simak penjelasan lengkap di bawah ini!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- John Tobing adalah aktivis PRD dan mahasiswa Filsafat UGM angkatan 1991 yang dikenal gigih melawan rezim Orde Baru melalui musik.
- Lagu Darah Juang diciptakan tahun 1991 melalui kolaborasi lirik bersama tokoh seperti Dadang Juliantara dan Budiman Sudjatmiko.
- Meski rezim telah berganti, lagu ini tetap menjadi identitas resmi mahasiswa UGM dan lagu pengobar semangat dalam aksi massa di seluruh Indonesia.
Mengenal Sosok John Tobing
John Tobing merupakan figur yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perlawanan mahasiswa pada masa Orde Baru. Berdasarkan artikel bertajuk Representasi Perlawanan Mahasiswa dalam Lirik Lagu Darah Juang dan Pembebasan oleh Johanes Gerung dkk, John dikenal sebagai musisi sekaligus aktivis yang gigih memperjuangkan keadilan.
Sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 1991, ia terlibat aktif dalam gerakan politik bawah tanah. John tercatat sebagai anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD). Organisasi ini pada masanya menjadi salah satu kelompok yang paling berseberangan dengan rezim Soeharto.
Karakternya sebagai seniman sekaligus aktivis membuatnya mampu melahirkan karya yang menyentuh akar rumput. Bagi banyak aktivis, John bukan sekadar pencipta lagu, melainkan simbol semangat juang yang tidak pernah padam. Di kalangan kampus UGM sendiri, namanya sangat dihormati karena kontribusinya dalam membangun tradisi kritis di kalangan mahasiswa.
Hingga masa tuanya, John tetap dikenang sebagai sosok yang sederhana namun memiliki integritas tinggi. Kedekatannya dengan almamaternya pun terlihat hingga akhir hayat, di mana ia dirawat dan mengembuskan napas terakhir di rumah sakit milik universitas tempat ia pernah menimba ilmu.
Kisah di Balik Lagu Darah Juang
Lagu Darah Juang telah menjadi 'lagu wajib' dalam setiap aksi demonstrasi mahasiswa sejak era reformasi hingga saat ini. Namun, proses terciptanya lagu ini memiliki sejarah yang cukup panjang dan melibatkan kolaborasi banyak tokoh mahasiswa di Jogja.
R Toto Sugiharto dalam buku Tradisi Akademik Mengakomodasi Kearifan Lokal menceritakan bahwa benih semangat lagu ini muncul pasca-Sumpah Mahasiswa tahun 1988 yang disusun oleh Afnan Malay. Tiga tahun kemudian, pada 1991, John Tobing mulai mengaransemen sebuah melodi instrumental menggunakan gitar akustiknya di sela-sela sebuah diskusi.
Melodi tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah lagu yang utuh. Dadang Juliantara, mahasiswa MIPA UGM, membantu melengkapi syairnya. Lirik tersebut kemudian direvisi kembali bersama Budiman Sudjatmiko yang saat itu merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi UGM. Menariknya, lagu ini awalnya lahir tanpa judul yang pasti.
Judul 'Darah Juang' muncul secara tidak sengaja ketika John Tobing diundang dalam sebuah pertemuan mahasiswa. Saat ia diminta menyanyikan lagu tersebut, seseorang dari kerumunan memberikan celetukan 'Darah Juang' sebagai judulnya. John pun sepakat, dan sejak saat itu nama tersebut resmi melekat pada karyanya.
Lagu ini pertama kali dikumandangkan secara luas pada Kongres Pertama Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta (FKMY). Liriknya yang menggambarkan penderitaan rakyat dan semangat pengabdian menjadikannya abadi. Bahkan, setelah rezim Orde Baru tumbang, UGM secara resmi memasukkan lagu ini dalam materi Pelatihan Pembelajar Sukses bagi Mahasiswa Baru (PPSMB) sebagai bagian dari pengenalan jati diri mahasiswa.
Demikianlah penjelasan singkat mengenai sosok John Tobing yang menciptakan lagu Darah Juang. Semoga bermanfaat!
FAQ John Tobing
Siapa pencipta lagu Darah Juang?
Lagu Darah Juang diciptakan oleh John Tobing, seorang musisi sekaligus aktivis mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) pada tahun 1991. Dalam penyusunan liriknya, John berkolaborasi dengan sesama rekan aktivis mahasiswa saat itu, yakni Dadang Juliantara dan Budiman Sudjatmiko.
Apa makna puisi Darah Juang?
Makna dari syair Darah Juang adalah bentuk pengabdian dan empati mendalam mahasiswa terhadap penderitaan rakyat kecil. Lagu ini menggambarkan janji mahasiswa untuk tidak hanya berdiam diri di bangku kuliah, melainkan turun tangan memperjuangkan hak-hak masyarakat yang tertindas.
Darah Juang tentang apa?
Darah Juang berkisah tentang semangat perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan. Liriknya menekankan pada kesadaran mahasiswa akan jati diri mereka sebagai penyambung lidah rakyat yang harus rela berkorban demi mewujudkan perubahan dan pembebasan bagi bangsa.
