Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah raja terbesar Kerajaan Mataram Islam. Putra Panembahan Hanyakrawati ini diketahui memiliki dua permaisuri, yakni Ratu Kulon dan Ratu Wetan.
Diringkas dari buku Ensiklopedia Pahlawan Indonesia dari Masa ke Masa yang diterbitkan Grasindo, Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah putra Panembahan Seda Krapyak alias Raden Mas Jolang, raja kedua Mataram Islam. Ia lahir pada 1591 di Jogja.
Sultan yang namanya termasyhur karena mengantarkan Mataram Islam ke zaman keemasannya ini naik tahta saat masih sangat belia, yakni 22 tahun. Terkenal cerdas dan taat beribadah, Sultan Agung juga berjiwa nasionalis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buktinya, ia memerintahkan serangan besar-besaran ke kekuasaan VOC di Batavia. Serbuan pertama dilancarkan pada 1628 lewat jalur darat dan laut, tetapi menemui kegagalan. Tak patah semangat, perang kedua dikobarkan pada 1629 dengan hasil yang tidak jauh berbeda.
Kiprah dan perjuangan Sultan Agung sudah jadi bacaan sebagian masyarakat Indonesia. Namun, sosok permaisurinya mungkin belum begitu dikenal. Yuk, baca riwayat ringkas Ratu Kulon dan Ratu Wetan via uraian berikut!
Poin Utamanya:
- Ratu Kulon adalah permaisuri pertama dan utama Sultan Agung. Nama aslinya adalah Ratu Mas Tinumpak, putri Sultan Cirebon.
- Ratu Wetan adalah permaisuri kedua Sultan Agung. Ia merupakan putri dari Tumenggung Upasanta, adipati Batang.
- Yang menjadi raja meneruskan Sultan Agung adalah Raden Mas Sayidin, putra Ratu Wetan. Ia digelari Amangkurat I.
Sosok Ratu Kulon dan Ratu Wetan
Menurut penjelasan Eka Purnama Mustikaningtyas dalam buku Raja Dan Ratu Ternama Di Tanah Jawa, Ratu Kulon adalah putri dari Sultan Cirebon. Permaisuri pertama Sultan Agung ini memiliki nama asli Ratu Mas Tinumpak.
Tidak banyak yang diketahui tentang Ratu Kulon. Dikutip dari buku Kitab Terlengkap Sejarah Mataram yang disusun Soedjipto Abimanyu, dari Ratu Kulon, Sultan Agung dikaruniai putra bernama Pangeran Alit atau aslinya, Raden Mas Syahrawat.
Lalu, siapa Ratu Wetan? Ratu Wetan adalah anak dari Adipati Batang, Tumenggung Upasanta. Febri dkk dalam tulisan ilmiah berjudul Tinjauan Historis Perjuangan Sultan Agung dalam Perluasan Kekuasaan Mataram Tahun 1613-1645 menyebut Ratu Wetan sebagai cucu Ki Juru Martani.
Ki Juru Martani merupakan sosok legendaris dalam lembaran sejarah Mataram Islam. Ia merupakan patih yang membersamai Danang Sutawijaya alias Panembahan Senopati mendirikan kerajaan itu. Namanya juga harum sebagai penasihat raja pertama Mataram Islam tersebut.
Permaisuri kedua Sultan Agung ini memiliki anak bernama Raden Mas Sayidin. Dalam sejarahnya, Raden Mas Sayidin diangkat menjadi raja setelah Sultan Agung wafat. Ia menyandang gelar Sultan Amangkurat I.
Kedua permaisuri Sultan Agung memberikan sang raja total 9 orang anak. Selain 2 yang sudah disebut, 7 lainnya adalah:
- Raden Mas Kasim (Pangeran Demang Tanpa Nangkil)
- Pangeran Rangga Kajiwan
- Raden Bagus Rinangku
- Gusti Raden Ayu Winongan
- Pangeran Ngabehi Loring Pasar
- Gusti Raden Ayu Wiramantri
- Raden Mas Alit (Pangeran Danupaya)
Perlu detikers ketahui, Ratu Kulon dan Ratu Wetan bukanlah gelar yang dikhususkan untuk kedua permaisuri Sultan Agung saja, melainkan sebuah konsep di tradisi Jawa. Muhammad As'ad dari UIN Sunan Kalijaga dalam skripsinya, Kebijakan Militer Kerajaan Mataram 1613-1688 M, menyebut Ratu Kulon sebagai gelar yang didapat permaisuri pertama raja. Sementara itu, Ratu Wetan adalah gelar untuk permaisuri kedua.
Praktis dikatakan, raja-raja Mataram Islam dahulu memiliki 'Ratu Kulon' dan 'Ratu Wetan'-nya masing-masing. Contoh, Ratu Kulon Amangkurat I adalah putri dari Pangeran Pekik. Sementara itu, Ratu Wetan-nya berasal dari keluarga Kajoran.
Konflik Tahta antara Putra Ratu Kulon dan Wetan
Apabila mengikuti adat, putra tertua dari permaisuri pertama raja-lah yang berhak menjadi putra mahkota. Dalam konteks Sultan Agung, Pangeran Syahrawat sebagai putra sulung Ratu Kulon adalah penerus 'sah' tahta Mataram Islam.
Namun, sejarah mencatat, yang akhirnya menjadi raja adalah Raden Mas Sayidin, putra Ratu Wetan. Bagaimana bisa?
Berdasarkan pembahasan yang ditulis Soedjipto Abimanyu dalam buku Babad Tanah Jawi: Terlengkap & Terasli, pergeseran putra mahkota ini tidak bisa dilepaskan dari sang ibu, Ratu Wetan. Permaisuri kedua Sultan Agung itu menyingkirkan Ratu Kulon sehingga dirinya menjadi ratu utama.
Dengan demikian, posisi putra mahkota yang sebelumnya diberikan kepada Raden Mas Syahrawat dialihkan ke Raden Mas Sayidin. Raden Mas Syahrawat juga dianggap tidak sesuai menjadi raja karena 'sakit' dan 'kurang akal' sebagaimana dijelaskan Moh Rahmat Hidayat dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam skripsinya, Cirebon di Bawah Kekuasaan Mataram Tahun 1613-1705: Kajian Historis Mengenai Hubungan Politik, Sosial, dan Agama.
Konflik tidak berhenti begitu saja. Dilihat dari buku Pendidikan Sejarah dan Perjuangan Bangsa yang ditulis Drs Suharja dkk, Raden Mas Syahrawat, dengan hasutan sejumlah punggawa yang tidak suka dengan Amangkurat I, mencoba merebut tahta. Tanpa belas kasihan, Pangeran Alit dan pendukungnya dibunuh.
Dijelaskan adanya dua kemungkinan Pangeran Alit memberontak. Pertama, rasa tidak puas akan kebijakan Amangkurat I yang membuat perjanjian persahabatan dengan VOC. Kedua, keinginan untuk berkuasa.
Demikian sekilas mengenai Ratu Kulon dan Ratu Wetan, dua permaisuri Sultan Agung Hanyakrakusuma. Semoga menambah wawasan detikers, ya!
FAQ tentang Permaisuri Sultan Agung
1. Siapa saja istri Sultan Agung?
Sultan yang berjaya mengantarkan Mataram Islam ke puncak kejayaan ini memiliki dua permaisuri utama, yakni Ratu Kulon dan Ratu Wetan.
2. Siapa nama asli Sultan Agung?
Sultan Agung memiliki nama asli Raden Mas Jatmika. Ia juga dikenal dengan nama Raden Mas Rangsang.
3. Anak Sultan Agung yang bergelar Amangkurat I itu siapa?
Nama aslinya adalah Raden Mas Sayidin, putri dari Ratu Wetan.
(sto/apl)












































Komentar Terbanyak
Momen Emak-emak di Jogja 'Hadang' Purbaya Minta MBG Disetop
Iran soal Video Kemunculan Netanyahu: Jika Masih Hidup Akan Terus Kami Kejar
Rismon Sianipar Kini Bilang Ijazah Jokowi-Gibran Asli, Begini Temuannya