Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut Indonesia termasuk rawan mengalami sinkhole atau lubang runtuhan tanah. Kawasan yang paling berisiko yakni wilayah yang tersusun lapisan batu gamping (karst).
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menyebut peristiwa sinkhole relatif sering ditemukan di daerah yang memiliki bentang alam karst. Beberapa wilayah yang dikenal rawan yakni Gunungkidul DI Yogyakarta, Pacitan Jawa Timur, dan Maros Sulawesi Selatan.
Adrin menyebut risiko sinkhole perlu menjadi atensi masyarakat dan pemerintah daerah, khususnya dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan permukiman di kawasan batu gamping. Sinkhole sendiri merupakan fenomena alam yang terjadi akibat runtuhnya lapisan batu gamping di bawah permukaan tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prosesnya berlangsung dalam waktu lama dan sulit terdeteksi secara kasat mata.
"Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan," jelas Adrin dikutip detikINET dari website BRIN, Senin (19/1/2026).
Rekahan itu semakin membesar seiring seringnya dialiri air permukaan dan air tanah. Saat hujan lebat, lapisan penutup rongga itu menjadi semakin tipis hingga akhirnya runtuh.
"Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole," kata Adrin.
Adrin mengungkap tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole karena sulitnya mendeteksi tanda awal kemunculannya. Sebab, proses pembentukannya berawal di bawah permukaan tanah dan proses terbentuknya rongga berlangsung perlahan.
Meski begitu, adanya rongga di batu gamping bisa diidentifikasi melalui survei geofisika.
"Metode seperti gaya berat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah. Metode ini memberikan gambaran citra kondisi bawah permukaan sehingga potensi sinkhole bisa diantisipasi lebih dini," tuturnya.
Dia pun mewanti-wanti kawasan permukiman yang berada di atas lapisan batu gamping berisiko tinggi mengalami sinkhole. Salah satu tanda awal yang bisa diidentifikasi yakni hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.
"Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan," ujar Adrin.
Adrin mengatakan untuk mencegah pembentukan sinkhole di batu gamping bisa dilakukan dengan pendekatan berbasis sains. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah cement grouting, yaitu teknik menginjeksi semen, mortar, atau bahan kimia tertentu ke dalam rongga bawah tanah.
"Injeksi material grouting menggunakan pompa bertekanan. Tekanan dan volume injeksi dipantau dengan cermat agar tidak merusak struktur batuan di sekitar rongga. Lalu dilalukan pengecekan efektifitas grouting melalui uji permeabilitas atau pengujian geofisika lainnya untuk memastikan rongga sudah terisi dan stabilitas lapisan batuan sudah meningkat," papar Adrin.
(ams/afn)












































Komentar Terbanyak
Trump Kecewa Sudah Kirim Senjata buat Demonstran Iran, Tapi...
Mojtaba Khamenei Disebut Kritis, Begini Kondisinya
3 Kepala Daerah di Jatim Kena OTT KPK, Ini Kata Gubernur Khofifah