Kenapa Greenland Milik Denmark? Ini Sejarahnya hingga Trump Ingin Ambil Alih

Kenapa Greenland Milik Denmark? Ini Sejarahnya hingga Trump Ingin Ambil Alih

Ulvia Nur Azizah - detikJogja
Kamis, 08 Jan 2026 18:38 WIB
Kenapa Greenland Milik Denmark? Ini Sejarahnya hingga Trump Ingin Ambil Alih
Ilustrasi Greenland. Foto: REUTERS/Sarah Meyssonnier
Jogja -

Greenland merupakan pulau terbesar di dunia yang bukan benua. Meski letaknya jauh dari Eropa, wilayah ini hingga kini masih menjadi bagian dari Kerajaan Denmark, sebuah fakta yang kerap memunculkan tanda tanya.

Hubungan Greenland dan Denmark bukan terbentuk secara tiba-tiba. Keterkaitan keduanya telah berlangsung hampir seribu tahun, bermula dari ekspansi bangsa Viking hingga pengaturan status politik di era modern.

Lalu, bagaimana sejarah Greenland bisa menjadi milik Denmark dan mengapa Presiden AS Donald Trump ingin mengambil alih wilayah tersebut? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini, detikers!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Poin utamanya:

  • Greenland terhubung dengan Denmark sejak era Viking dan resmi menjadi bagian Kerajaan Denmark hingga kini.
  • Meski memiliki pemerintahan sendiri, urusan luar negeri dan pertahanan Greenland masih dipegang Denmark.
  • Amerika Serikat memandang Greenland strategis dari sisi militer, geopolitik Arktik, dan sumber daya alam.

ADVERTISEMENT

Kenapa Greenland Milik Denmark?

Greenland dikenal sebagai pulau terbesar di dunia yang bukan benua. Meski letaknya sangat jauh dari Eropa, wilayah ini hingga kini masih menjadi bagian dari Kerajaan Denmark. Hubungan keduanya bukanlah hal baru, melainkan telah berlangsung selama hampir seribu tahun.

Dikutip dari laman resmi Pemerintah Denmark, keterkaitan Greenland dengan Denmark berawal dari kedatangan bangsa Norse pada abad ke-10. Kelompok Viking yang dipimpin Erik the Red menetap di Greenland bagian selatan pada sekitar tahun 1200-an.

Sejak saat itu, Greenland mulai terhubung secara politik dan budaya dengan wilayah Skandinavia. Meski pemukiman Norse kemudian menghilang sekitar tahun 1500 Masehi, klaim dan pengaruh Denmark atas Greenland tetap berlanjut.

Pada era modern, Greenland secara resmi menjadi koloni Denmark hingga tahun 1953. Setelah itu, statusnya berubah menjadi distrik Denmark, bukan lagi koloni. Perubahan ini menandai langkah awal menuju pengakuan hak politik yang lebih besar bagi penduduk Greenland, tanpa sepenuhnya lepas dari Denmark.

Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1979, ketika Greenland memperoleh hak pemerintahan sendiri atau home rule. Hak ini diperluas melalui Self-Government Act yang disetujui lewat referendum pada 2009. Melalui aturan tersebut, Greenland memiliki kewenangan luas dalam mengatur urusan dalam negeri, termasuk pendidikan, kesehatan, dan bahasa resmi yang ditetapkan sebagai bahasa Greenlandic.

Meski demikian, Denmark masih memegang kendali atas urusan penting seperti kebijakan luar negeri, pertahanan, dan keamanan. Greenland juga tetap mengirim dua wakil ke parlemen Denmark, Folketing, serta menerima dukungan dana tahunan dari pemerintah Denmark.

Kenapa Trump Ingin Ambil Alih Greenland dari Denmark?

Keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengambil alih Greenland kembali mencuat dan memicu perhatian dunia internasional. Isu ini bukan sekadar retorika politik, melainkan berkaitan erat dengan kepentingan strategis, keamanan, dan geopolitik global.

1. Penting bagi Keamanan Nasional AS

Dikutip dari CNN, Trump memandang Greenland sebagai wilayah yang sangat penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Letak Greenland dinilai strategis karena berada di jalur terpendek antara Eropa dan Amerika Utara, sekaligus menjadi titik krusial dalam sistem peringatan dini rudal balistik AS. Selain itu, pencairan es akibat perubahan iklim membuka peluang jalur pelayaran baru dan akses terhadap sumber daya alam bernilai tinggi.

2. Kunci Pengaruh di Kawasan Arktik

Menurut laporan The Globe and Mail, Amerika Serikat juga melihat Greenland sebagai kunci pengaruh di kawasan Arktik yang semakin diperebutkan oleh negara-negara besar seperti Rusia dan China. Greenland saat ini sudah menjadi lokasi pangkalan militer AS di Pituffik, yang berperan penting dalam sistem pertahanan dan radar Amerika.

3. Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi turut menjadi pertimbangan. Greenland diketahui menyimpan potensi mineral, minyak, gas, serta rare earth minerals yang penting bagi teknologi dan industri pertahanan masa depan. CNN mencatat bahwa seiring mencairnya lapisan es, sumber daya tersebut akan semakin mudah diakses, meningkatkan nilai strategis pulau tersebut.

NATO Pasang Badan untuk Greenland

Ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk merebut Greenland dari Denmark memicu keguncangan serius di tubuh NATO. Dilansir detikNews, sejumlah negara anggota NATO secara terbuka menyatakan sikap dengan menyerukan agar kedaulatan Greenland tetap dihormati dan tidak diganggu.

Pernyataan keras Trump muncul di tengah kekhawatiran Eropa bahwa rencana AS tersebut dapat menjadi ancaman eksistensial bagi NATO. Gedung Putih bahkan disebut tidak mengesampingkan kemungkinan intervensi militer untuk menguasai wilayah Arktik yang kaya mineral itu.

"Kita akan selalu ada untuk NATO, bahkan jika mereka tidak akan ada untuk kita," ujar Donald Trump dalam pernyataan di media sosial Truth Social, Kamis (8/1/2026), seperti dilansir AFP.

Trump kembali menyinggung isu lama soal kontribusi negara-negara NATO yang dinilainya tidak adil. Ia mengklaim Amerika Serikat selama ini menanggung beban pertahanan aliansi dan menyebut dirinya berhasil memaksa anggota NATO menaikkan belanja militer hingga 5 persen dari PDB.

"AS, dengan bodohnya, membayar untuk mereka! Saya, secara terhormat, membuat mereka mencapai 5 persen PDB, dan mereka membayar," tulis Trump dalam unggahan lanjutan di Truth Social.

Di sisi lain, Denmark bersama enam negara NATO, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris, menyampaikan pernyataan bersama yang menegaskan bahwa Greenland bukan untuk diperebutkan. Mereka menekankan bahwa masa depan Greenland hanya dapat ditentukan oleh Denmark dan rakyat Greenland sendiri.




(par/aku)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads