Operasi Militer Tangkap Presiden Venezuela Maduro Lukai 7 Tentara AS

Internasional

Operasi Militer Tangkap Presiden Venezuela Maduro Lukai 7 Tentara AS

Novi Christiastuti - detikJogja
Rabu, 07 Jan 2026 17:40 WIB
Operasi Militer Tangkap Presiden Venezuela Maduro Lukai 7 Tentara AS
Penampakan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang dikawal pasukan AS usai ditangkap di Caracas. Foto: REUTERS/Eduardo Munoz
Jogja -

Operasi militer yang dilakukan Amerika Serikat (AS) untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilaporkan membawa korban. Sedikitnya 7 tentara Negeri Paman Sam terluka dalam serangan itu.

Dilansir kantor berita Anadolu seperti dikutip detikNews Rabu (7/1/2026), informasi itu diungkapkan sejumlah media AS, termasuk Fox News, yang mengutip pejabat pemerintahan AS yang tidak ingin disebut namanya.

Berdasarkan sumber internal Washington, lima personel militer AS disebut sudah kembali bertugas. Sementara dua sisanya masih dalam pemulihan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mereka menerima perawatan medis yang sangat baik dan sedang dalam proses pemulihan," kata pejabat pemerintahan AS tersebut.

ADVERTISEMENT

"Fakta bahwa misi yang sangat kompleks dan melelahkan ini berhasil dilaksanakan dengan sedikit cedera merupakan bukti keahlian para prajurit gabungan kita," sebutnya.

Adapun Associated Press melaporkan, mengutip pejabat anonim AS, luka-luka yang dialami tentara AS itu termasuk luka tembak maupun terkena serpihan peluru.

Diketahui, serangan AS yang terjadi pada Sabtu (3/1) dini hari tersebut diawali dengan serangan udara besar-besaran. AS menyasar sejumlah target di wilayah Venezuela utara, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur komunikasi.

Pada saat bersamaan, pasukan operasi khusus AS -- Menteri Pertahanan (Menhan) Pete Hegseth mengungkap jumlahnya hampir mencapai 200 personel -- menyebut ibu kota Caracas, dengan menggunakan helikopter-helikopter tempur, untuk menangkap Maduro dan istrinya di tempat persembunyian mereka.

Begitu berhasil ditangkap, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke New York dan ditahan di sana. Mereka lantas menjalani persidangan perdana pada Senin (5/1) waktu setempat, di mana mereka mendapat serentetan dakwaan, pidana federal, termasuk tuduhan konspirasi narkoterorisme.

Baik Maduro maupun istrinya sama-sama mengaku tidak bersalah atas dakwaan-dakwaan yang dijeratkan jaksa federal AS.

Pemerintahan Presiden Donald Trump menggambarkan operasi militer AS itu sebagai bagian dari penegakan Doktrin Monroe, dan penindakan terhadap dugaan perdagangan narkoba serta tindak korupsi, sekaligus secara eksplisit mengaitkannya dengan pengamanan pengaruh AS atas cadangan minyak Venezuela yang sangat besar.




(apu/alg)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads