Operasi Militer AS Tangkap Maduro Tewaskan 56 Tentara Venezuela-Kuba

Internasional

Operasi Militer AS Tangkap Maduro Tewaskan 56 Tentara Venezuela-Kuba

Novi Christiastuti - detikJogja
Rabu, 07 Jan 2026 12:43 WIB
Operasi Militer AS Tangkap Maduro Tewaskan 56 Tentara Venezuela-Kuba
Momen api membara di ibu kota Venezuela, Caracas, usai AS mengerahkan operasi militer menangkap Presiden Nicolas Maduro. Foto: via REUTERS/VIDEO OBTAINED BY REUTERS
Jogja -

Amerika Serikat (AS) menggelar operasi militer menyerbu ibu kota Venezuela, Caracas, untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro. Sedikitnya 56 tentara Venezuela dan Kuba tewas dalam kontak senjata yang terjadi Sabtu (3/1) waktu setempat.

Dilansir detikNews dari Associated Press dan AFP, Rabu (7/1/2026), militer Venezuela mengonfirmasi 24 personel militernya terbunuh dalam invasi kilat pasukan AS 3 Januari lalu. Operasi itu juga mengebom sejumlah lokasi militer Venezuela di Caracas.

Dari 24 personel yang tewas, setidaknya ada lima perwira tinggi berpangkat Laksamana.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain merenggut nyawa militer Venezuela, serangan AS itu juga membunuh setidaknya 32 anggota Angkatan Bersenjata dan Kepolisian Kuba yang tengah bertugas di Caracas.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, Havana sudah mengumumkan bahwa ada 32 warganya yang tewas di Venezuela, memicu masa berkabung selama dua hari.

Para personel militer dan kepolisian Kuba yang tewas ini dilaporkan berusia antara 26 tahun hingga 67 tahun, dengan dua personel di antaranya berpangkat Kolonel dan satu personel lainnya berpangkat Letnan Kolonel.

Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, menuturkan sebagian besar personel militer Kuba yang tewas diyakini merupakan pengawal pribadi Maduro. Lopez menyebut sebagian besar pengawal keamanan Maduro dibantai "dengan kejam" oleh pasukan AS yang membombardir Caracas.

Selama 12 tahun kekuasaannya, Maduro -- sama seperti pendahulunya Hugo Chavez -- memilih untuk menggunakan tentara-tentara KUba yang terlatih untuk melindungi dirinya.

Sementara itu, menurut laporan Associated Press, ada lebih banyak warga sipil di Venezuela yang tewas dalam serangan militer AS tersebut. Namun belum diketahui secara jelas berapa jumlahnya. Otoritas Caracas sejauh ini belum merilis data korban sipil secara resmi ke publik.

Serangan militer AS itu dimulai dengan gelombang pengeboman terhadap target-target militer Venezuela, dan berpuncak pada kedatangan pasukan khusus Washington menggunakan sejumlah helikopter tempur untuk menangkap Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dari sebuah kompleks yang menjadi persembunyiannya.

Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke New York dan ditahan di penjara di kota terpadat di AS tersebut. Keduanya baru saja diadili di pengadilan Manhattan pada Senin (5/1) waktu setempat atas serentetan dakwaan pidana federal, termasuk tuduhan konspirasi narkoterorisme.

Baik Maduro maupun istrinya sama-sama mengaku tidak bersalah atas dakwaan-dakwaan yang dijeratkan jaksa federal AS.




(apu/apl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads