Kenapa Trump Sebut AS Butuh Greenland untuk 'Keamanan Nasional'?

Kenapa Trump Sebut AS Butuh Greenland untuk 'Keamanan Nasional'?

Nur Umar Akashi - detikJogja
Selasa, 06 Jan 2026 19:32 WIB
Kenapa Trump Sebut AS Butuh Greenland untuk Keamanan Nasional?
Presiden US, Donald Trump. Foto: AFP/MANDEL NGAN
Jogja -

Belum selesai persoalan penangkapan Presiden Nicolas Maduro, Presiden Donald Trump kembali menggegerkan situasi geopolitik dunia. Pasangan James David Vance dalam mengomando Amerika Serikat (AS) itu menyebut Negeri Paman Sam butuh Greenland.

Dilansir Fox News, dalam sebuah wawancara pada Minggu, 4 Januari 2026 di Air Force One, Presiden Trump mulanya membahas tentang Presiden Kolombia, Gustavo Petro. Setelah itu, ia kembali mengungkit gagasan mengenai Greenland.

"Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya," ujar Trump.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional. Letaknya sangat strategis," tambah presiden berusia 79 tahun itu.

Bukan hanya Trump yang membuka perbincangan tentang Greenland, tetapi juga Katie Miller, lapor The Atlantic. Mantan pejabat White House yang menikah dengan ajudan senior Trump, Stephen Miller, itu mengunggah peta Greenland di akun X-nya, @KatieMiller.

ADVERTISEMENT

Hanya saja, gambar yang ia unggah bukanlah peta Greenland biasa. Alih-alih, gambar itu memperlihatkan pulau Greenland yang diselimuti bendera AS di sebuah globe. Dalam unggahan itu, Katie menulis singkat, 'Soon'.

Pernyataan Trump dan unggahan Katie tersebut menjadi topik panas perbincangan warganet. Salah satu fokus yang menarik diketahui adalah alasan Trump mengatakan 'butuh Greenland untuk keamanan nasional'.

Mengapa Trump memberi pernyataan itu? Simak selengkapnya di bawah ini!

Kenapa Trump Sebut AS Butuh Greenland?

Menurut penjelasan dari Channel News Asia (CNA), lokasi strategis Greenland menjadi alasan AS menginginkannya. Apabila Greenland dianeksasi, pulau itu bisa sangat berguna untuk sistem pertahanan rudal balistik. Terlebih, Greenland ada di jalur terpendek rudal antara Rusia dan AS.

Alasan ini juga didukung fakta bahwasanya AS sudah memiliki pangkalan di pulau terbesar Bumi itu. Dirujuk dari NPR, instalasi militer AS di Greenland bernama Pituffik Space Base. Sebelumnya bernama Thule Air Base, pangkalan tersebut didirikan berkat kerja sama pertahanan antara AS dan Denmark.

"Saat ini, pangkalan ini adalah lokasi geografis terpenting yang dimiliki Amerika Serikat jika terjadi serangan dari sektor tengah Arktik," papar Troy Bouffard, seorang profesor dari University of Alaska Fairbanks.

Dari pangkalan ini, militer AS melakukan berbagai kegiatan pertahanan yang sangat penting. Sebut saja misi peringatan rudal, pengawasan ruang angkasa, dan pertahanan rudal. Dengan demikian, potensi serangan dadakan dari arah barat dapat diminimalisir.

Ian Lesser, peneliti terkemuka di German Marshall Fund of the US melihat pernyataan Trump dari sudut pandang lain. Menurutnya, niat Washington untuk 'mengambil' Greenland berkaitan dengan sumber daya.

"Presiden sangat menekankan pada sumber daya, sumber daya mineral, sumber daya energi, dan peluang komersial. Meskipun sumber daya ini tidak mudah diekstraksi secara menguntungkan, saya tidak akan terkejut jika sekarang ada banyak kekhawatiran," terangnya, dikutip dari Euronews pada Selasa (6/1/2026).

Greenland memang memiliki potensi luar biasa terhadap sumber daya mineral dan material. Lanskap alamnya juga menyimpan rare earth metals yang berdasar paparan Innovation News Network, sangat penting untuk produk-produk teknologi, seperti handphone, baterai, turbin, dan komputer.

Tidak berhenti sampai di sana, The Guardian mewartakan bahwasanya Greenland memiliki salah satu deposit mineral langka dan uranium terbesar yang belum dikembangkan di dunia. Lokasinya di Kvanefjeld, bagian barat daya Greenland.

Respons Denmark terhadap Pernyataan Trump

Diringkas dari Danish Institute for International Studies (DIIS), hubungan Greenland dan Denmark dapat dilacak sejak ratusan tahun yang lalu. Mulanya, Norwegia-Denmark mengkolonialisasi Greenland pada abad ke-18.

Hubungan kolonial Denmark-Greenland terus berjalan hingga berubah akibat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendorong dekolonisasi. Pada 1953, Greenland dimasukkan ke Denmark dan mendapat dua kursi di parlemen. Tahun 1979, Greenland sudah memiliki pemerintahan sendiri.

Meski punya pemerintahan mandiri, Greenland masih bergantung dengan dana hibah tahunan Denmark yang bernilai sekitar 600 juta dolar. Belum lagi layanan yang disediakan Denmark, seperti pertahanan, penjaga pantai, dan penegakan hukum.

Dalam kapasitas itu, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen memberi tanggapan keras kepada Trump. Ia mengancam, jika Trump memerintahkan penyerangan ke Greenland yang merupakan wilayah semi otonom Denmark, maka aliansi di NATO bakal berakhir.

"Saya juga akan memperjelas bahwa jika AS memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, maka semuanya akan berhenti, termasuk NATO, dan dengan demikian keamanan yang telah dibangun sejak akhir Perang Dunia Kedua," tegas Frederiksen, dilansir The Hill.

Sebelumnya, Frederiksen sudah mengeluarkan pernyataan terkait perkataan Trump. Ia menyebut apa yang dikatakan Trump tidak masuk akal.

"Sama sekali tidak masuk akal untuk berbicara tentang perlunya Amerika Serikat mengambil alih Greenland. Amerika Serikat tidak memiliki dasar hukum untuk mencaplok salah satu dari tiga negara Kerajaan Denmark," jelasnya.

Di sisi lain, dirujuk dari Aljazeera, Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, angkat suara terkait unggahan Katie di akun X-nya. Ia menyebut unggahan itu tidak sopan. Nielsen juga mengatakan untuk tidak panik atau khawatir karena Greenland tidak dijual dan masa depan negara itu tidak bergantung kepada unggahan media sosial.

"Hubungan antarbangsa dan masyarakat dibangun atas dasar saling menghormati dan hukum internasional -bukan atas dasar isyarat simbolis yang mengabaikan status dan hak-hak kita," ujarnya.




(par/aku)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads