Kasultanan Ngayogyakarta mengalami masa penuh perubahan dan kemajuan di bawah kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) VII. Tidak tanggung-tanggung, perkembangan pesat terlihat di bidang seni budaya hingga pendidikan.
Diringkas dari buku Kitab Terlengkap Sejarah Mataram karya Soedjipto Abimanyu, nama asli Sultan HB VII adalah Gusti Raden Mas (GRM) Murtejo. Ia lahir pada 4 Februari 1839 sebagai putra tertua Sultan HB VI.
Sosoknya diketahui memegang tampuk kekuasaan pada 13 Agustus 1877 sampai 29 Januari 1921. Sejak awal memerintah, Sultan HB VII sudah mendapat batu sandungan, baik dari internal maupun eksternal kerajaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak terkecuali saat memerintah. Menurut informasi dari buku Ensiklopedi Kerajaan-Kerajaan Nusantara tulisan Ivan Taniputera, Sultan Sugih, julukan Sultan HB VII, pernah menghadapi pemogokan buruh pabrik gula dan gerakan ratu adil pimpinan Dietz.
Namun, masalah-masalah itu berhasil diatasinya dengan baik. Terbukti dengan Jogja yang berkembang pesat menuju era modern. Peninggalan-peninggalan sang sultan, maupun dari anak turunnya, sampai sekarang masih memberikan manfaat untuk Jogja.
Mari, simak sosok Sultan HB VII secara lebih mendalam via uraian di bawah ini!
Poin Utamanya:
- Sultan HB VII adalah raja ketujuh Kasultanan Ngayogyakarta. Ia memerintah dari 13 Agustus 1877 sampai 29 Januari 1921.
- Julukan Sultan Sugih didapatnya karena kekayaan melimpah dari hasil pembangunan 17 pabrik gula dan instrumen pendukungnya. Uang itu dipergunakan untuk perbaikan keraton dan kepentingan rakyat.
- Usai turun tahta, Sultan HB VII pernah mengucapkan 'kutukan' yang terkenal, yakni "Tidak pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya."
Dua Masalah Pertama yang Dihadapi Sultan HB VII
Pertentangan antaranggota kerajaan maupun pihak luar sudah jadi makanan sehari-hari dalam dunia politik keningratan. GRM Murtejo tak terhindar dari konflik semacam itu.
Sebagaimana diketahui, Sultan HB VI meninggal dunia pada 20 Juli 1877. Untuk menggantikannya, Sultan HB VII sudah diangkat jadi putra mahkota sejak beberapa tahun sebelumnya. Pengangkatannya disetujui oleh pihak Hindia Belanda melalui residen Jogja bernama AJDHP Bosch.
Meski sudah dikukuhkan, jalannya menuju singgasana sultan tidaklah mudah. Ia ditentang oleh Kanjeng Ratu Kedaton, salah seorang permaisuri Sultan HB V yang dijadikan selir oleh Sultan HB VI. Menurut Kanjeng Ratu Kedaton, alih-aih GRM Murtejo, yang berhak naik adalah putranya sendiri, Pangeran Suryaningalogo.
Selain dari kalangan internal, GRM Murtejo juga sempat diintervensi Hindia Belanda. Pihak kolonial tidak mempermasalahkan dirinya sebagai putra mahkota, tetapi ingin mendapatkan pengaruh lebih. Alhasil, GRM Murtejo dipaksa untuk menerima sederet kepentingan Belanda.
Segera setelah dirinya dijadikan putra mahkota, GRM Murtejo yang sudah ditetapkan sebagai Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibyo Rojo Putro Narendro Mataram ing Ngayogyakarta Adiningrat terpaksa menandatangi perjanjian berisi 3 pasal.
Pihak Belanda meminta perbaikan aparat keamanan dan hukum serta peradilan di pasal 1. Lalu, di pasal 2, Sultan HB VII diminta berjanji merawat infrastruktur fisik yang ada di wilayah Kasultanan Ngayogyakarta. Adapun di pasal 3, pihak kolonial mendorong Sultan HB VII untuk turut serta menyokong rencana kerja wajib penduduk di tanah-tanah yang disewakan kepada orang Eropa.
Dua masalah inilah yang dihadapi Sultan HB VII pada masa-masa awal kenaikannya sebagai penguasa.
Asal-Muasal Julukan 'Sultan Sugih'
Sultan HB VII mendapat julukan yang membuatnya berbeda, yakni Sultan Sugih. Dalam bahasa Jawa, kata 'sugih' berarti kaya, merujuk pada kekayaan sultan ketujuh Jogja ini. Dari mana asal kekayaannya?
Ngatinah dalam Jurnal Vis Art & Des berjudul 'Karakter Busana Kebesaran Raja Surakarta dan Yogyakarta Hadiningrat Periode 1755-2005' menyebut kekayaan Sultan Sugih berasal dari pendirian total 17 pabrik gula di Jogja masa itu. Setiap pendirian pabrik membuat Sultan HB VII mendapat dana sebesar F200.000.
Di samping itu, menurut keterangan dari laman resmi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, sistem Hak Sewa Tanah yang berlaku masa itu turut memberi keuntungan kepada keraton. Belum lagi pembangunan sarana transportasi kereta api dan lori-lori tebu. Ongkos sewa penggunaan jalur-jalur pengangkutan gula atau tebu itu juga masuk keraton.
Jumlah uang yang tidak sedikit itu memampukan Sultan Sugih untuk membiayai pembangunan dan perbaikan di lingkungan keraton. Pada gilirannya, pembangunan-pembangunan itu membuat rakyat Jogja sejahtera.
Kemajuan pada Era Pemerintahan Sultan HB VII
Di bidang kebudayaan, Sultan HB VII meraih kemajuan dengan pendirian sekolah tari bernama Krido Bekso Wiromo. Sekolah ini didirikan oleh dua putranya, yakni Pangeran Tejokusumo dan Pangeran Suryodiningrat. Dari sekolah itulah, kebudayaan keraton yang semula eksklusif saja dapat tersebar luas.
Putra Sultan HB VII lainnya, Pangeran Suryo Mataram, berkontribusi dengan membuat ajaran hidup manusia. Ketimbang hidup bergelimang harta, sang pangeran memilih hidup sederhana. Kini, namanya dikenal sebagai seorang filsuf Jawa besar yang ajaran-ajarannya terus hidup.
Selain peran putra-putranya, Sultan HB VII sendiri turut andil langsung mengembangkan bidang seni kebudayaan. Di antara yang ia pelopori adalah Tari Bedaya Sumreg, Bedaya Lala, dan Srimpi Dhendhang Sumbawa
Pada era kepemimpinan Sultan HB VII, lahir pula dua organisasi besar yang terkenal, yakni Budi Utomo dan Muhammadiyah. Terhadap Budi Utomo, Sultan Sugih bersimpati dengan memberikan izin penyelenggaraan kongres pertama organisasi itu di Mataram Loge, Jalan Malioboro.
Ditinjau dari kacamata pendidikan, banyak sekolah berdiri di seantero wilayah Kasultanan Ngayogyakarta saat Sultan HB VII berkuasa, baik swasta maupun sekolah pemerintah kolonial. Pada tahun 1890, Sultan HB VII sendiri mendirikan sekolah di Bangsal Srimanganti Keraton untuk para putra pejabat keraton.
Pada tahun 1907, tercatat sudah berdiri 75 sekolah di wilayah Keraton Jogja. 51 berdiri di ibu kota kasultanan, 12 di Gunungkidul, dan 12 di Kulon Progo. Sekolah-sekolah itu diurus langsung oleh kerabat Sultan Sugih, yakni R Bekel Soeriodipoero dan Raden Riyo Poerboningrat.
'Kutukan' Sultan HB VII yang Termasyhur
Sebelum membahas ucapan Sultan HB VII yang terkenal, perlu diketahui bahwasanya sang sultan turun tahta saat masih hidup. Tercatat, Sultan HB VIII naik tahta pada 8 Februari 1921, sedangkan ayahandanya baru menghembuskan napas pada 30 Desember 1931. Hal ini membuat suksesi pemerintahannya berbeda dengan sultan-sultan lain.
Kembali pada fokus utama sub bahasan ini, usai lengser dari kursi kepemimpinan, Sultan HB VII pernah berkata, "Tidak pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya."
Pernyataan ini mengundang banyak tanda tanya sampai sekarang. Berdasarkan arsip detikJogja, Ambar Bakhtiar selaku abdi dalem yang bertugas di Pesanggrahan Ambarrukmo, tempat Sultan HB VII wafat, memberikan penjelasan.
"Itu kemungkinan waktu beliau emosi, karena lengser keprabon itu dalam keadaan beliau sedih, jadi beliau kayak mengucapkan sumpah serapah itu kan seperti sumpah karena mungkin saking jengkelnya," ujar Bakhtiar saat ditemui pada Selasa (10/10/2023).
Perkataan tersebut memang terbukti kebenarannya. Sultan HB VII tercatat meninggal dunia di Pesanggrahan Ambarrukmo yang berada di antara Royal Ambarrukmo Yogyakarta dan Ambarrukmo Plaza. Begitu pula sultan-sultan setelahnya, tidak ada yang meninggal di keraton.
"Yang saya tahu dari sejarah, HB VIII dan HB IX meninggal di kereta dalam waktu perjalanan, HB VIII itu sakit sempat dibawa ke Panti Rapih tapi meninggal. HB IX itu wafat di Washington DC, Amerika," papar Bakhtiar.
Demikian sepintas mengenai Sultan HB VII, sultan Jogja yang terkenal kaya raya. Semoga bermanfaat!
(sto/aku)












































Komentar Terbanyak
Fakta-fakta Anggota Joxzin Dibunuh Saat Tidur Bersama Anak-Istri di Bantul
Perjalanan Eks Kapolresta Sleman Didemosi Buntut Gaduh Kasus Hogi Minaya
Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel di Iran, Ini Sosoknya