Profil Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang Ditangkap Militer AS

Profil Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang Ditangkap Militer AS

Nur Umar Akashi - detikJogja
Senin, 05 Jan 2026 12:19 WIB
Profil Nicolas Maduro, Presiden Venezuela yang Ditangkap Militer AS
Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Foto: dok. Reuters
Jogja -

Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menggegerkan tataran geopolitik dunia. Suksesor Hugo Chavez itu diekstraksi Amerika Serikat (AS) pada Sabtu, 3 Januari 2026 kemarin.

Dilansir Aljazeera, operasi untuk membekuk Maduro dan istrinya, Cilia Flores, diberi sandi 'Absolute Resolve'. Perencanaannya dilakukan selama berbulan-bulan, termasuk dengan bantuan replika bangunan.

Pada Jumat malam, pukul 11.46 waktu setempat, Presiden Trump memberi lampu hijau. Sekitar 150 pesawat langsung mengudara dari 20 pangkalan udara. Listrik di Caracas, ibu kota Venezuela, dilumpuhkan guna menyukseskan operasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Helikopter AS mendarat di kompleks Maduro pada pukul 02.01 dini hari Sabtu. Dari helikopter, Maduro dan istrinya dibawa naik United States Ship (USS) Iwo Jima. Dari kapal itu, Maduro dipindahkan naik pesawat. Pesawat itu terpantau turun di New York's Stewart Air National Guard Base sekitar pukul 04.30 PM/21.30 GMT.

'Penculikan' Maduro memicu huru-hara di internet. Sebagian orang tertarik dengan keabsahan AS untuk melakukan tindakan itu. Yang lain ingin mengetahui profil Nicolas Maduro. Berikut profil ringkasnya.

ADVERTISEMENT

Tertarik dengan Dunia Politik Sejak Masih Muda

Berdasar keterangan dari Ebsco, Maduro lahir pada 23 November 1962 di Caracas. Orang tuanya adalah Jesus Nicolas Maduro dan Teresa de Jesus Moros Acevedo. Kendati ada isu bahwasanya ia lahir di Kolombia, yang berarti posisinya sebagai presiden dipertanyakan, Maduro tidak menampik bahwa kedua orang tuanya menikah di Bogota, Kolombia.

Sejak kecil, Maduro sudah menunjukkan ketertarikan di dunia politik. Terbukti ketika ia mengemban jabatan sebagai presiden serikat mahasiswa di sekolahnya, Jose Avalos. Tak heran, kemampuan public speaking-nya terlatih sedemikian rupa.

Pada usia 20 tahun, Maduro bekerja sebagai pengawal pribadi Jose Vicente Rangel, seorang politikus nasional sayap kiri. Kelak, Rangel bertugas sebagai menteri luar negeri Venezuela di bawah komando Presiden Hugo Chavez.

Meski belum bertemu dengan Hugo Chavez secara langsung, Maduro sudah mendukung ide-ide sang presiden. Ia bahkan terjun langsung berkampanye mendukung pembebasan Chavez dari penjara dan memberi sokongan untuk mengangkat Chavez ke tampuk kepemimpinan.

Dari Supir Bus Menjadi Ketua Majelis Nasional

Diringkas dari Fortune, pada 1986, Maduro pergi ke Kuba untuk mengikuti 'pelatihan ideologi' yang berlangsung selama satu tahun. Sekembalinya ke Venezuela, Maduro bekerja sebagai supir bus di Caracas.

Dari supir bus, Maduro banting setir dan masuk ke gerakan politik Chavez. Bersama anggota lain, Maduro 'mengantarkan' Chavez menduduki kursi presiden pada 1998. Dari sana, karier politiknya melesat.

Menurut laporan Britannica, sejak 1999, Maduro terdaftar sebagai anggota Majelis Konstituen Nasional. Pada saat yang sama, Maduro juga mengabdi di Chamber of Deputies (seperti Dewan Perwakilan Rakyat di Indonesia).

Chamber of Deputies kemudian diubah menjadi unicameral National Assembly. Di sana, Maduro menghabiskan waktu selama 6 tahun, dari tahun 2000 sampai 2006. Menariknya, setelah terpilih untuk kali kedua pada 2005, Maduro yang dulunya merupakan seorang supir bus, diberi amanat sebagai ketua.

Pernah Menjabat Menteri Luar Negeri, Wakil presiden, dan Presiden

Karier politik Maduro tidak berhenti di Majelis Nasional. The Guardian melaporkan, Maduro diangkat menjadi menteri luar negeri Venezuela pada 2006. Dalam tugas barunya, Maduro banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh yang 'tidak disukai' Barat, seperti Fidel dan Raul Castro dari Kuba dan Mahmoud Ahmadinejad dari Iran.

Enam tahun kemudian, pada 2012, Chavez menunjuk Maduro menjadi wakil presiden. Chavez yang kala itu mengaku mengidap kanker, mengikuti serangkaian prosedur medis di Kuba. Namun, rumornya waktu itu, tingkat kesehatan Chavez terus menurun.

Benar saja, pada 5 Maret 2013, Presiden Hugo Chavez tutup usia. Nicolas Maduro diangkat sebagai presiden sementara. Berdasar konstitusi Venezuela, jika presiden menjabat meninggal dunia, maka pemilihan baru digelar dalam waktu 30 hari setelahnya.

Maduro yang datang dari United Socialist Party of Venezuela menghadapi Henrique Capriles Radonski dalam pemilihan presiden itu. Pria yang sudah makan asam garam politik itu menang kontestasi dengan selisih suara tipis, hanya sekitar 1,8% lebih banyak ketimbang Capriles.

Kepemimpinan Presiden Nicolas Maduro

Dianggap sebagai 'tiruan lemah' Chavez, Maduro menghadapi banyak masalah saat memimpin. Contohnya, protes jalanan langsung digelar massa di Caracas dan kota-kota lain tak seberapa lama usai ia menjadi presiden. Bentrokan tak terhindarkan, menyebabkan 43 orang meninggal dan puluhan lainnya ditangkap.

Partai Sosialis Bersatu, tempat Maduro berangkat sebagai presiden, kehilangan kendali atas Majelis Nasional pada 2015. Tidak mau hilang pengaruh, Maduro mendirikan Majelis Konstituen yang pro-pemerintah sebagai 'tandingan'. Kebijakan ini memicu gelombang protes keras.

Demo yang menyala ditindas secara brutal. Korban jiwa mencapai 100 orang ditambah ribuan lainnya yang terluka. Peristiwa ini menyebabkan pengadilan kriminal internasional turun tangan. Mereka memulai penyelidikan terhadap Maduro dan para pejabat pemerintahan.

Pada 2018, pemilihan presiden kembali dilaksanakan. Maduro turut mencalonkan diri dan mengklaim telah memenangi pemilihan itu. Namun, lawan-lawan politiknya, serta organisasi internasional dan sejumlah negara, menolak mengakui hasil itu. Yang pasti, Maduro kembali disumpah jadi presiden per Januari 2019.

Menurut penjelasan dari Economics Observatory, selama pemerintahan Maduro, ekonomi Venezuela dapat dikatakan runtuh. Standar hidup masyarakat anjlok hingga 74% selama periode 2013 dan 2023.

Namun, kesalahan tidak bisa ditimpakan 100% di pundak Maduro. Mengingat, kebijakan makro ekonomi Chavez juga berperan. Alih-alih berfokus pada tabungan, pemerintah mengeluarkan banyak uang yang ternyata tidak efisien. Kebijakan pengambilan utang untuk menutup defisit keuangan negara juga terbukti bekerja layaknya bumerang.

Nasib Presiden Maduro ke Depan

Usai ditangkap AS dengan dakwaan kejahatan kriminal berupa konspirasi terorisme narkoba dan impor kokain, Maduro akan menghadapi persidangan. Menurut informasi dari NPR, persidangan akan digelar pada Senin, 5 Januari 2026 siang hari waktu setempat.

Persidangan sedianya mengambil tempat di Gedung Pengadilan Federal di Manhattan. Selain Maduro, istrinya, Cilia Flores, juga akan diajukan ke meja hijau. Lalu, bagaimana nasib pemerintahan di Venezuela?

Sementara waktu, wakil presiden Delcy Rodriguez mengisi posisi Maduro untuk memimpin Venezuela sebagaimana dilaporkan CBS News. Hal ini ditegaskan dengan putusan Supreme Court (Mahkamah Agung) yang menunjuk Rodriguez sebagai 'acting president' selama 90 hari.

Demikian profil ringkas Nicolas Maduro, presiden Venezuela yang diekstraksi AS akhir pekan lalu.




(par/apl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads