Konflik Suksesi Sultan HB II dan Campur Tangan Pemerintah Kolonial

Konflik Suksesi Sultan HB II dan Campur Tangan Pemerintah Kolonial

Anindya Milagsita - detikJogja
Sabtu, 03 Jan 2026 13:41 WIB
Konflik Suksesi Sultan HB II dan Campur Tangan Pemerintah Kolonial
Keraton Jogja. (Foto: LBM1948/Wikimedia Commons/CC BY-SA 4.0)
Jogja -

Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II adalah Raja Keraton Jogja yang menyatakan sikap menolak keras campur tangan dari pihak asing. Hal inilah yang membuatnya justru memaksanya melepas kedudukannya sebagai seorang pemimpin. Lantas, bagaimana kisah Sultan HB II?

Pada masa pemerintahan Kolonial, wilayah Keraton Jogja dipimpin oleh seorang raja dari waktu ke waktu. Salah satu yang menorehkan sejarah kepemimpinan di Keraton Jogja di masa Kolonial adalah Sultan HB II.

Setelah sang ayah, Sultan HB I, wafat pada tahun 1792, Kesultanan Yogyakarta beralih kepemimpinan di tangan Sultan HB II yang memiliki nama asli Raden Mas Sundoro. Sama halnya dengan mendiang ayahnya, Sultan HB II juga memiliki sikap antipati terhadap penjajah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai seorang pemimpin, Sultan HB II juga senantiasa mengabdikan dirinya untuk melindungi Keraton Jogja beserta rakyatnya. Namun, pada saat itu sikap tersebut justru membuat pihak pemerintah Kolonial tidak tinggal diam begitu saja. Berbagai upaya dilakukan agar Sultan HB II memberikan sedikit kelonggaran kepada mereka.

Kendati begitu, Sultan HB II memegang prinsip yang begitu kuat. Bahkan dirinya harus rela kehilangan jabatannya sebagai penguasa Keraton Jogja di tengah gempuran perlawanan yang dilakukan oleh pihak asing.

ADVERTISEMENT

Mari telusuri lebih lanjut kisah Sultan HB II dan konflik suksesinya yang penuh campur tangan pemerintah kolonial berikut ini.

Siapa Sultan HB II?

Sebelum menyelami lebih dekat kisah Sultan HB II dalam melawan pihak asing, terlebih dahulu mari berkenalan dengan sosoknya. Siapa itu Sultan HB II? Sebelumnya, sudah dijelaskan Sultan HB II memiliki nama asli Raden Mas Sundoro yang tidak lain adalah putra dari Sultan HB I.

Menurut buku 'Kitab Terlengkap Sejarah Mataram' karya Soedjipto Abimanyu, Sultan HB II lahir di tanggal 7 Maret 1750 silam. Selain dikenal sebagai Sultan HB II, sosoknya juga memiliki julukan lain berupa Sultan Sepuh. Konon, nama tersebut disematkan sesuai dengan tempat kelahirannya yang letaknya ada di lereng Gunung Sindoro atau daerah Kedu Utara.

Sebagai putra seorang raja, Sultan HB II atau Raden Mas Sundoro bisa dibilang tumbuh di dalam pengasuhan sang ibu. Ini dikarenakan setelah lahir sampai usianya 5 tahun, Perang Suksesi Jawa III sedang berlangsung. Kondisi tersebut membuat Sultan HB I tidak memiliki banyak kesempatan untuk melihat tumbuh kembang dari sang putra, yang nantinya akan bergelar sebagai Sultan HB II.

Selama menghabiskan masa kecilnya, Raden Mas Sundoro sempat tinggal di pengungsian karena kondisi tadi. Tak heran, secara tidak langsung dirinya dapat melihat kekejaman pemerintah Kolonial dalam memperlakukan rakyat. Inilah yang membuat Raden Mas Sundoro menaruh sikap keras dan tegas terhadap para penjajah.

Sikap yang diambil oleh Raden Mas Sundoro yang antipati terhadap penjajah inilah yang menjadi salah satu faktor sang ayah memilihnya sebagai putra mahkota. Sebab, Sultan HB I yakin putranya mampu mempertahankan wilayah Keraton Jogja, terutama dari desakan atau ancaman pihak asing.

Setelah Sultan HB I wafat, Raden Mas Sundoro naik takhta dengan gelar Sultan HB II. Tepatnya di tahun 1972, pada saat itu dirinya sudah mengukuhkan diri untuk bertekad menjunjung kewibawaan dari Keraton Jogja. Kendati begitu, selama pemerintahan Sultan HB II, konflik kepentingan justru semakin mencuat hingga bahkan melibatkan campur tangan asing.

Kisah Suksesi Sultan HB II yang Penuh Campur Tangan Asing

Sultan HB II bisa dibilang sebagai salah satu Raja Keraton Jogja yang paling gigih menyatakan sikap menentang terhadap penjajah. Dikatakan dalam buku karya Rizem Aizid yang berjudul 'Sejarah Lengkap Kolonial di Nusantara: Portugis, Voc, Hindia Belanda, dan Inggris', Sultan HB II tidak pernah sekali pun berkompromi terhadap bujukan atau tawaran yang diberikan oleh penjajah.

Baik itu dari pihak Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Inggris, hingga Kolonial Belanda. Tak hanya bersikap tegas, Sultan HB II juga dikenal keras kepala dan cukup kejam. Namun, ada peristiwa tertentu yang justru membuat Sultan HB II harus kehilangan kedudukannya karena desakan dari penjajah.

Pada era tahun 1972-1810, Herman Willem Daendels berhasil meraih kemenangan dalam pertempuran melawan Raden Rangga. Padahal saat itu, Raden Rangga mendapatkan dukungan penuh dari Sultan HB II.

Kemenangan tersebut dimanfaatkan oleh Daendels untuk membuat kebijakan yang dinilai tidak masuk akal oleh pihak Sultan HB II. Sebab, Daendels membebankan biaya perang terhadap Sultan HB II.

Masih mengacu dari buku yang sama, yaitu 'Kitab Terlengkap Sejarah Mataram', tidak hanya membebankan biaya perang semata, Daendels juga membuat kebijakan yang juga sulit dikompromi. Kebijakan tersebut berupa tanah-tanah yang diberikan kepada sultan hanya sebagai pinjaman, hak pengelolaan hutan dan monopoli penebangan kayu milik raja-raja Jawa diberikan kepada Belanda, hingga memperlakukan minister (wakil-wakil Belanda) diperlakukan sama seperti raja.

Kebijakan tersebut tentunya ditolak mentah-mentah oleh sang Raja, sehingga terjadinya perpecahan di antara kedua pihak tadi. Daendels membawa pasukan dan menyerang Keraton Jogja. Dengan adanya pertempuran tersebut, Sultan HB II berhasil diturunkan dari takhta.

Sultan HB II terpaksa menjalani suksesi di mana Herman Willem Daendels mengganti Raja Keraton Jogja saat itu menjadi Sultan HB III. Kondisi ini membuat kekuasaan Sultan HB II resmi berakhir.

Meskipun begitu, ternyata Sultan HB II kembali naik takhta setelah satu tahun menjalani suksesi. Pada tahun 1811, Sultan HB II bangkit kembali dan mengisi takhta di Kesultanan Jogja. Setelah membereskan pemerintahan yang sebelumnya telah mendapatkan campur tangan dari Daendels, Sultan HB II harus kembali menghadapi campur tangan asing.

Kali ini ada Inggris yang menyerang dengan Gubernur Thomas Stamford Raffles yang memimpin. Dijelaskan dalam buku 'Perempuan-Perempuan Pengukir Sejarah' tulisan Mulyono Atmosiswartoputra, sikap Sultan HB II terhadap Inggris tak jauh berbeda dengan apa yang sudah ditunjukkannya kepada Kolonial Belanda.

Keberadaan Inggris tak membuat Sultan HB II gentar. Bahkan saat Raffles meminta wilayah bekas jajahan Daendels, Sultan HB II kembali menolak mentah-mentah.

Penolakan tersebut membuat pihak Inggris tidak tinggal diam. Raffles kemudian mengirimkan armada perang agar Sultan HB II tunduk pada mereka. Tindakan ini berhasil membuat Sultan HB II takluk, sehingga suksesi kembali dilakukan. Sama halnya dengan suksesi pertama, Sultan HB II turun takhta dan digantikan oleh Sultan HB III.

Belum berhenti sampai di situ saja, Sultan HB II berkesempatan naik takhta kembali di tahun 1826. Pada saat itu, dirinya terbilang sudah lanjut usia. Sayangnya, masa pemerintahan Sultan HB II untuk ketiga kalinya ini justru berlangsung dalam waktu singkat.

Sebab, Sultan HB II hanya memimpin Keraton Jogja selama dua tahun saja sampai 1828. Pada tahun 1828, Sultan HB II dinyatakan telah wafat.

Akhir Hidup Sultan HB II

Masih dirangkum dari buku yang sama, Sultan HB II wafat pada tanggal 3 Januari 1828 di usia 77 tahun. Sebelum 'mangkat', Sultan HB II telah melalui berbagai kondisi sulit buntut dari keteguhan prinsipnya menolak campur tangan asing.

Selain menjalani suksesi sebanyak tiga kali, Sultan HB II juga sempat dibuang tiga kali di lokasi yang berbeda. Pada tahun 1812, Sultan HB II harus menjalani hukuman buang di Penang, Malaysia. Kemudian di tahun 1817 dibuang di Ambon. Terakhir, tiga tahun sebelum kepergiannya, Sultan HB II juga pernah merasakan hukuman buang di Surabaya.

Meskipun dikenal sebagai salah satu Raja Keraton Jogja yang paling 'keras kepala' terhadap penjajah, Sultan HB II membuktikan keteguhannya sebagai sosok pemimpin. Bahkan Sultan HB II juga telah meninggalkan bukti sejarah dari masa kepemimpinannya.

Sebut saja adanya Serat Surya Raja yang berisikan gubahan sastra karya Sultan HB II. Kemudian ada juga Situs Gembirowati yang menyerupai reruntuhan candi yang bisa ditemukan di daerah Gunungkidul, DIY.

Demikianlah tadi mengenai konflik suksesi Sultan HB II yang melibatkan campur tangan dari asing. Semoga dapat menambah pengetahuan baru untuk kamu ya, detikers.




(sto/dil)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads