Kebakaran Bromo Belum Padam, Kemenhut Kerahkan Operasi Terpadu

M Rofiq - detikJatim
Kamis, 06 Agu 2026 13:15 WIB
Pemadaman kebakaran di Bromo/Foto: Istimewa / Dok. BPBD Probolinggo
Probolinggo -

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengerahkan operasi terpadu untuk menangani kebakaran hutan yang masih berlangsung di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Hingga Rabu (5/8) pukul 18.00 WIB, api di kawasan Blok Watu Gede dan di Jantur masih belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

Operasi pemadaman melibatkan Manggala Agni bersama tim gabungan yang terus berupaya membatasi penyebaran api sekaligus melindungi kawasan konservasi dari kerusakan yang lebih luas. Kebakaran melanda vegetasi savana, cemara gunung, pakis, dan semak belukar.

Proses pemadaman menghadapi sejumlah kendala, mulai dari medan yang curam dan berbukit, vegetasi yang mudah terbakar, hingga keterbatasan sumber air. Untuk mendukung operasi, suplai air dilakukan secara bertahap menggunakan truk tangki menuju titik-titik yang masih dapat dijangkau personel.

Kemenhut menjelaskan, indikasi awal kebakaran terdeteksi melalui Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi+) yang menerima data titik panas dari berbagai satelit, termasuk NASA-MODIS. Setelah mendeteksi hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang pada Selasa (4/8), informasi tersebut segera diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan sehingga operasi pemadaman dapat segera dilakukan.

Operasi pengendalian kebakaran dilaksanakan secara terpadu oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) bersama Manggala Agni Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dengan dukungan TNI, Polri, BPBD Kabupaten Probolinggo, Masyarakat Peduli Api, serta relawan.

BB-TNBTS memimpin pengamanan kawasan, pemetaan area terdampak, pengaturan akses menuju lokasi kebakaran, perlindungan keanekaragaman hayati, dan koordinasi penanganan di dalam kawasan. Sementara itu, Manggala Agni memimpin upaya teknis pemadaman di lapangan.

Untuk mendukung kelancaran operasi sekaligus menjamin keselamatan pengunjung, Balai Besar TNBTS menutup sementara akses wisata melalui pintu Jemplang dan Coban Trisula di Kabupaten Malang serta pintu Senduro di Kabupaten Lumajang sejak 3 Agustus 2026 pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Adapun akses melalui Cemoro Lawang di Kabupaten Probolinggo dan Wonokitri di Kabupaten Pasuruan tetap dibuka secara terbatas hingga kawasan Lautan Pasir, sedangkan kawasan Savana ditutup bagi seluruh pengunjung.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho menegaskan, kebakaran di kawasan konservasi tidak hanya mengancam hutan, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung pada fungsi ekologis kawasan tersebut.

"Bromo bukan hanya destinasi wisata, tetapi kawasan konservasi yang menopang kehidupan masyarakat dan menjadi ruang hidup berbagai jenis tumbuhan serta satwa. Api harus segera dikendalikan, penyebabnya diungkap, dan kawasan dipulihkan," ujarnya.

Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha mengatakan, keselamatan pengunjung menjadi prioritas selama proses penanganan kebakaran.

Menurutnya, penutupan sebagian akses dilakukan agar operasi pemadaman berlangsung optimal sekaligus melindungi masyarakat dari potensi bahaya. Setelah kondisi dinyatakan aman, pihaknya akan melakukan penilaian menyeluruh terhadap dampak kebakaran sebagai dasar penyusunan langkah pemulihan kawasan.

Sementara itu, Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, mengatakan strategi pemadaman terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan.

"Api masih aktif dan kondisi di lapangan terus berubah. Personel kami fokus pada sektor-sektor yang memiliki potensi rambatan tertinggi agar penyebaran api dapat ditekan secepat mungkin, dengan tetap mengutamakan keselamatan seluruh personel yang bertugas," katanya.



Simak Video "Video: Kebakaran Kaldera Bromo Berhasil Dipadamkan, Petugas Masih Lakukan Pendinginan"

(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork