Kebakaran Kawasan Bromo Padam, Petugas Sisir Sisa Bara Api

Kebakaran Kawasan Bromo Padam, Petugas Sisir Sisa Bara Api

M Rofiq - detikJatim
Senin, 17 Agu 2026 12:30 WIB
Petugas gabungan melakukan pendinginan (mopping up) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin (17/8/2026). Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa dan berpotensi memicu kebakaran kembali.
Petugas gabungan melakukan pendinginan (mopping up) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin (17/8/2026). (Foto: Kemenhut)
Probolinggo -

Kementerian Kehutanan terus melakukan pendinginan dan penyisiran area bekas kebakaran (mopping up) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api maupun titik panas yang kembali memicu kebakaran setelah api yang berkobar sejak Senin (3/8/2026) berhasil dikendalikan.

Hampir dua pekan setelah operasi penanganan dilakukan, Manggala Agni Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Balai Dalkarhut Jabalnusra) Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan (Ditjen Gakkum Kehutanan) bersama Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS), TNI, Polri, BPBD Jawa Timur, relawan, dan masyarakat masih melakukan pemantauan serta pembasahan di sejumlah area terdampak.

Proses pendinginan difokuskan pada titik-titik yang masih berpotensi menyimpan panas. Upaya tersebut dinilai penting untuk memastikan bara api benar-benar padam dan tidak kembali merambat ke kawasan yang sebelumnya belum terdampak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kewaspadaan juga terus ditingkatkan karena kebakaran sebelumnya melanda berbagai jenis vegetasi, mulai dari savana, cemara gunung, pakis, semak belukar, hingga lapisan serasah yang cukup tebal. Kondisi tersebut memungkinkan bara api bertahan di bawah permukaan meski kobaran api sudah tidak lagi terlihat.

Tim di lapangan juga mewaspadai munculnya pusaran angin lokal atau dust devil yang dapat mengangkat material ringan dan berpotensi membawa bara api ke lokasi lain.

ADVERTISEMENT
Petugas gabungan melakukan pendinginan (mopping up) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin (17/8/2026). Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa dan berpotensi memicu kebakaran kembali.Petugas gabungan di kawasan Bromo (Foto: Kemenhut)

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, mengatakan penanganan kebakaran di Bromo menjadi pelajaran penting dalam memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama saat menghadapi musim kemarau.

"Bromo memberi satu pelajaran penting, api mungkin sudah terkendali tetapi ancaman karhutla belum selesai. Pencegahan harus diperkuat dari tingkat tapak," ujar Dwi, Senin (17/8/2026).

Menurutnya, pengelola kawasan juga perlu terus memperkuat keterlibatan masyarakat, tidak hanya dalam upaya pencegahan kebakaran, tetapi juga dalam pengelolaan taman nasional.

Petugas gabungan melakukan pendinginan (mopping up) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin (17/8/2026). Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa dan berpotensi memicu kebakaran kembali.Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa dan berpotensi memicu kebakaran kembali. (Foto: Kemenhut)

Masyarakat dinilai memiliki posisi strategis karena berada paling dekat dengan kawasan hutan dan berpotensi menjadi pihak pertama yang mengetahui adanya gangguan.

"Masyarakat adalah pihak yang paling dekat dengan kawasan, sering kali menjadi yang pertama mengetahui adanya gangguan, sekaligus yang paling terdampak ketika terjadi kebakaran. Karena itu, melindungi hutan harus dilakukan bersama masyarakat," tegasnya.

Pemerintah pada 2026 terus memperkuat pengendalian karhutla dalam menghadapi musim kemarau. Kesiapan personel Manggala Agni, deteksi dini, patroli, serta koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting dari strategi tersebut.

Direktur Pendayagunaan Sumber Daya dan Pengamanan Hutan, Suharyono, yang memantau langsung kegiatan melalui apel siaga pengendalian kebakaran hutan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel yang terlibat dalam operasi penanganan kebakaran di Bromo.

"Hampir dua pekan personel bekerja menghadapi medan dan kondisi kebakaran yang tidak mudah. Terkendalinya api bukan akhir dari pekerjaan. Fokus sekarang memastikan seluruh area bekas terbakar benar-benar aman dan tidak ada bara yang kembali menyala," kata Suharyono.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh petugas yang tetap bertahan dan bekerja hingga memasuki fase pendinginan dan penyisiran.

Petugas gabungan melakukan pendinginan (mopping up) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin (17/8/2026). Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa dan berpotensi memicu kebakaran kembali.Hamparan lahan yang menghitam terlihat di sejumlah titik di kawasan TNBTS setelah kebakaran yang terjadi sejak awal Agustus 2026 (Foto: Kemenhut)

Sementara itu, Kepala Balai Dalkarhut Jabalnusra, Bambang Setyo Antoko, menilai operasi penanganan kebakaran di Bromo menunjukkan besarnya peran kolaborasi berbagai pihak.

Menurut Bambang, BB-TNBTS, BPBD Jawa Timur, relawan, dan masyarakat turut membantu penyediaan air, logistik, akses menuju lokasi, hingga informasi yang dibutuhkan petugas selama operasi berlangsung.

"Operasi pemadaman ini memperlihatkan kuatnya gotong royong di lapangan. Dukungan itu sangat berarti bagi Manggala Agni yang bekerja di medan kebakaran. Kami mengapresiasi semua pihak yang ikut menjaga Bromo," ujar Bambang.

Petugas gabungan melakukan pendinginan (mopping up) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Senin (17/8/2026). Penyisiran dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa dan berpotensi memicu kebakaran kembali.erbagai jenis vegetasi, mulai dari savana hingga semak belukar, terdampak dalam peristiwa tersebut. (Foto: Kemenhut)

Kementerian Kehutanan menempatkan pengendalian karhutla sebagai bagian penting dari upaya melindungi hutan sekaligus menjaga keselamatan masyarakat.

Pengalaman penanganan kebakaran di Bromo juga menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat langkah pencegahan selama musim kemarau. Deteksi dini, respons cepat, serta kolaborasi antara pemerintah, pengelola kawasan, masyarakat, dan relawan dinilai menjadi kunci agar kebakaran tidak berkembang menjadi kerusakan ekologis yang lebih luas.

Selain itu, kesiapan personel dan peralatan Manggala Agni juga terus diperkuat sebagai bagian dari strategi menghadapi ancaman karhutla sepanjang 2026.



(ihc/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads