Tepat hari ini, 29 Mei 2026, petaka lumpur panas menyembur dari dalam perut bumi akibat aktivitas pengeboran gas sumur Banjar Panji-1 milik PT Lapindo Brantas di Porong, Sidoarjo terjadi. Sejak saat itu, peta geografi, ekonomi, dan sosial kawasan Porong berubah selamanya.
Porong yang dulunya padat aktivitas dan menjadi salah satu urat nadi industri Jawa Timur kini telah berubah layaknya 'Kota Mati'. Rumah-rumah tenggelam, pabrik-pabrik gulung tikar, dan sisa-sisa atap bangunan yang mencuat dari balik tanggul raksasa menjadi monumen bisu tragedi kemanusiaan yang belum sepenuhnya usai.
Bagi sebagian orang, dua dekade adalah waktu yang cukup untuk melupakan atau memulai hidup baru. Namun bagi para korban, waktu seolah berhenti. Hingga hari ini, jeritan menuntut keadilan masih lantang terdengar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Desa Jatirejo, misalnya, masih ada sedikitnya 46 Kepala Keluarga (KK) warga setempat yang luntang-lantung karena belum menerima ganti rugi yang menjadi hak mereka.
Nasib serupa juga dialami oleh kelompok pengusaha lokal. Sektor industri yang dulu menyerap ribuan tenaga kerja lokal kini hancur lebur. Para pengusaha korban Lumpur Lapindo menjerit karena selama 20 tahun, ganti rugi atas aset pabrik dan usaha mereka tidak kunjung menemui titik terang.
Dampak masif juga memukul sektor pendidikan. Tercatat ada 23 sekolah yang tenggelam akibat luapan lumpur sejak awal tragedi. Upaya relokasi tidak sepenuhnya berjalan mulus. Saat ini, sedikitnya ada 5 Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang kondisinya mangkrak tanpa murid, menyisakan bangunan kosong yang meranggas dimakan waktu.
Belakangan ini, kondisi fisik di pusat semburan mulai menunjukkan perubahan misterius. Aliran lumpur yang biasanya dibuang ke Sungai Porong kini dilaporkan tak lagi terlihat, memicu tanda tanya besar di kalangan warga dan ahli geologi mengenai apa yang sedang terjadi di dalam perut bumi Porong.
Sisi lain yang juga terdampak adalah sektor "Wisata Bencana". Kawasan tanggul Lapindo yang sempat menjadi magnet wisatawan yang penasaran, kini mulai ditinggalkan. Para pemandu wisata lokal menjerit karena penghasilan mereka menurun drastis seiring sepinya pengunjung yang datang.
Dua puluh tahun Tragedi Lumpur Lapindo bukan sekadar tentang memperingati sebuah bencana, melainkan sebuah pengingat keras bagi pemerintah dan korporasi. Di balik angka tahun yang terus bertambah, ada hak-hak warga yang terabaikan, masa depan anak-anak yang terenggut, dan pemulihan lingkungan yang berjalan di tempat.
Berikut Dampak Tragedi 2 Dekade Lumpur Lapindo yang Masih Dirasakan hingga Kini:
Kondisi Porong Akibat Semburan Lumpur Lapindo, Kini Bak 'Kota Mati'
Dua Dekade Berlalu Tapi 46 KK Warga Jatirejo Belum Terima Ganti Rugi
Kenangan Warga Saat Ledakan Pipa Gas Sebabkan Semburan Api
Jerit Pengusaha Korban Lumpur Lapindo, 20 Tahun Tak Dapat Ganti Rugi
Tinggal di Bawah Tanggul, Warga Gempol Sari Krisis Air Bersih dan Langganan Banjir
23 Sekolah Tenggelam, 5 SDN Negeri Kini Mangkrak Tanpa Murid
Aliran Lumpur ke Sungai Porong Tak Lagi Terlihat, Warga Bertanya-tanya
Pemandu Wisata Kawasan Lumpur Lapindo Menjerit, Penghasilan Menurun Drastis
Aliran Lumpur ke Sungai Porong Terhenti, Volume Semburan Masih Misteri
2 Rumah Miring di Siring Sidoarjo Jadi Bukti Dampak Penurunan Tanah
Tanggul Lumpur Lapindo Ditinggikan, Warga Khawatir Air Meluber ke Rel KA
Makam Ulama di Porong Ini Tak Tenggelam Meski Dikepung Lumpur Lapindo
Misteri Aliran Lumpur ke Sungai Porong Tak Lagi Terlihat Usai 20 Tahun
Ritual Sambang Buyut di Lumpur Lapindo, Mengenang Kampung yang Hilang
Sudah 20 Tahun Bagio Korban Lumpur Lapindo Belum Dapat Ganti Rugi
