Kabar Nasional

Siap-siap Hadapi Serangan El Nino 'Godzilla', Begini Dampaknya

Rachmatunnisa - detikJatim
Senin, 23 Mar 2026 07:31 WIB
Ilustrasi. (Foto: ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Surabaya -

Jangan senang dulu dengan hujan yang sesekali lewat. Para peneliti baru saja mengeluarkan peringatan bahwa El Nino "Godzilla" diprediksi akan mampir ke Indonesia pada 2026. Bukan sekadar panas biasa, fenomena ini masuk dalam kategori ekstrem yang siap mengacak-acak pola cuaca.

Kenapa dijuluki 'Godzilla'? Karena kekuatannya yang raksasa. El Nino jenis ini bukan cuma bikin keringat bercucuran, tapi berpotensi bikin kemarau di tanah air jadi jauh lebih panjang dan lebih "kerontang" dari biasanya.

Masalahnya bukan cuma Godzilla, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi adanya potensi "keroyokan" cuaca. El Nino kemungkinan besar akan berduet dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Secara lebih sederhana, imbas dari kolaborasi El Nino Godzila dengan IOD poisitf itu akan mengakibatkan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa mendingin, awan hujan pun enggan mampir dan malah lari menjauh dari Indonesia. Hasilnya? Curah hujan merosot tajam tepat saat kita membutuhkan air.

Berdasarkan hitung-hitungan model iklim global, "serangan" ini diprediksi mulai terasa sejak April hingga Oktober 2026. Catat bulannya, karena ini adalah periode krusial di mana dampaknya bakal terasa paling menyengat.

Tapi tunggu dulu, dampak Godzilla ini ternyata pilih kasih. Indonesia akan terbelah menjadi dua nasib yang kontras. Pulau Jawa hingga NTT diprediksi akan mengalami kekeringan lebih awal. Sementara di Wilayah Timur Indonesia, seperti di Sulawesi, Maluku, dan Halmahera justru berpotensi tetap diguyur hujan dengan intensitas tinggi.

Artinya, saat orang di Jawa pusing cari air buat sawah, warga di Timur mungkin harus berjaga-jaga menghadapi risiko banjir dan longsor. Benar-benar anomali.

Dampak paling nyata yang mengancam adalah pangan. Wilayah Pantura Jawa yang merupakan lumbung pangan nasional terancam kekeringan hebat. Belum lagi bayang-bayang kebakaran hutan (karhutla) yang siap mengintai Sumatra dan Kalimantan.

Namun, di balik ancaman itu, ada celah cuan. Kemarau panjang yang ekstrem ini sebenarnya adalah "karpet merah" bagi para petani garam nasional menggenjot produksi secara maksimal.

Dilansir dari detikInet, Peneliti Pusat Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin mewanti-wanti pemerintah agar tidak pakai strategi "satu ukuran untuk semua". Mitigasinya harus beda-beda tiap daerah.

"Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang mengancam lumbung pangan di Pantura Jawa, tapi di saat yang sama harus siap menghadapi risiko banjir di Sulawesi dan Maluku," tegasnya lewat unggahan di akun Instagram BRIN.

Singkatnya, 2026 bukan tahun untuk bersantai. Indonesia butuh manajemen air yang cerdas di Barat, dan pengendalian banjir yang sigap di Timur. Jika tidak siap, Godzilla ini benar-benar akan melumat sektor pangan tanpa ampun.



Simak Video "Video: Hutan Harz JermanTerancam Dampak Iklim Ekstrem"

(irb/dpe)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork