Pakar Unair Beber Tips Hadapi El Nino

Pakar Unair Beber Tips Hadapi El Nino

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Minggu, 03 Mei 2026 20:30 WIB
Ilustrasi kekeringan sebagai dampak El Nino. (Freepik)
Ilustrasi kekeringan sebagai dampak El Nino. (Foto: Freepik)
Surabaya -

Potensi kemunculan fenomena El Nino pada pertengahan 2026 mulai mendapat sorotan serius. Lembaga iklim global hingga peneliti dalam negeri sama-sama memprediksi peluang terjadinya fenomena ini cukup tinggi, bahkan berpotensi mencapai intensitas ekstrem.

Pakar Manajemen Bencana Universitas Airlangga (Unair), Dr Hijrah Saputra ST MSc, mengingatkan pentingnya langkah mitigasi sejak dini. Ia menilai dampak El Nino bisa meluas ke berbagai sektor, mulai dari ketersediaan air hingga ketahanan pangan.

Berdasarkan data National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), peluang kemunculan El Nino mencapai 62 persen pada periode Juni hingga Agustus 2026. Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi fenomena ini berpotensi hadir dengan intensitas yang menyamai kejadian El Nino terkuat di masa lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hijrah menjelaskan, istilah El Nino ekstrem yang kerap disebut di ruang publik bukanlah istilah ilmiah, melainkan penyebutan populer untuk menggambarkan kekuatan fenomena yang jauh lebih tinggi dari biasanya.

ADVERTISEMENT

"El Nino biasa seperti demam 38 derajat, sedangkan El Nino Godzilla bisa diibaratkan 40 derajat atau lebih," ujarnya.

Hijrah memaparkan, El Nino terjadi akibat melemahnya angin pasat yang memicu pergeseran massa air laut hangat dari wilayah Indonesia ke Pasifik bagian tengah dan timur. Perubahan ini menyebabkan suhu permukaan laut di kawasan tersebut meningkat signifikan.

Anomali suhu permukaan laut bahkan bisa mencapai 1,5 hingga 2,5 derajat Celsius di atas normal, dan pada kondisi tertentu dapat melampaui angka tersebut. Dampaknya, pusat pembentukan awan hujan bergeser ke Pasifik sehingga wilayah Indonesia mengalami penurunan curah hujan dan musim kemarau yang lebih kering.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kekuatan El Nino diukur menggunakan Oceanic Nino Index (ONI), yang menunjukkan anomali suhu permukaan laut. Nilai di atas +0,5 derajat Celsius menandakan El Nino, sementara di bawah βˆ’0,5 derajat menunjukkan La Nina.

Kategori kekuatannya terbagi menjadi empat, yakni lemah (0,5-0,9), sedang (1-1,4), kuat (1,5-1,9), dan sangat kuat (β‰₯2). Semakin tinggi nilainya, semakin besar pula potensi dampak yang ditimbulkan.

Hijrah menegaskan, dampak El Nino terhadap Indonesia tidak bisa dianggap remeh. Fenomena ini berpotensi memicu kemarau panjang, meningkatkan risiko kebakaran hutan, hingga menyebabkan krisis air bersih di sejumlah wilayah.

Selain itu, sektor pertanian dan pangan juga ikut terdampak, yang pada akhirnya bisa berpengaruh pada stabilitas ekonomi. Bahkan, El Nino juga berkontribusi terhadap peningkatan emisi karbon dioksida secara global.

Untuk mengurangi dampak tersebut, Hijrah menekankan pentingnya langkah mitigasi sejak dini. Ia menyebut ada empat strategi utama yang bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat.

Pertama, optimalisasi cadangan air dengan mengisi bendungan secara maksimal. Kedua, melakukan modifikasi cuaca di wilayah yang rawan kekeringan.

Ketiga, mempercepat masa tanam agar kelembaban tanah tetap terjaga. Keempat, melakukan diversifikasi pangan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim.

"Langkah-langkah ini penting agar dampak El Nino dapat diminimalkan, terutama di sektor air dan pangan," tegasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads