Kemarau Diprediksi Lebih Kering, Peternak Diminta Simpan Stok Pakan

Kemarau Diprediksi Lebih Kering, Peternak Diminta Simpan Stok Pakan

Jihan Navira - detikJatim
Kamis, 12 Mar 2026 14:15 WIB
Ilustrasi Musim Kemarau
Ilustrasi kemarau/Foto: Getty Images/iStockphoto/happy8790
Surabaya -

Musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga peternakan yang menjadi salah satu penopang ketahanan pangan nasional.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi,, musim kemarau mulai terjadi pada April 2026 dengan puncak pada Agustus. Fenomena El Nino membuat kondisi cuaca lebih panas dan kering sehingga potensi kekeringan diperkirakan meluas di berbagai wilayah seperti Sumatra, Jawa, Kalimantan, Papua, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku.

Merespons kondisi tersebut, Dosen Peternakan Kedokteran Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (Unair) Drh Bodhi Agustono Msi mengingatkan peternak untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia juga membeberkan sejumlah strategi dan langkah mitigasi yang dapat dilakukan peternak untuk menghadapi ancaman kemarau panjang, khususnya terkait ketersediaan pakan ternak.

ADVERTISEMENT

Ganti Pakan Hijauan

Di ranah peternakan, kekeringan berkepanjangan membuat hijauan segar sebagai sumber pakan utama bagi ternak ruminansia menjadi langka. Padahal ketersediaan hijauan segar sangat menentukan produktivitas ternak baik pertumbuhan maupun produksi susu dan daging.

Bodhi menjelaskan, ketersediaan hijauan segar untuk ternak seperti sapi, kambing, domba, maupun ruminansia lainnya akan sangat terbatas.

"Peternak konvensional yang masih mengandalkan hijauan segar harus mulai beralih ke sistem semi intensif atau intensif dengan memperhatikan manajemen pakan," ujar Bodhi.

Menurut Bodhi, untuk mengatasi hal tersebut, perlu adanya strategi yang dilakukan, salah satunya mulai menyimpan stok pakan sejak musim hujan. Hijauan yang melimpah saat musim penghujan dapat diawetkan sehingga tetap tersedia ketika kemarau panjang tiba.

"Kalau begini peternak tidak lagi kebingungan mencari pakan di saat rumput mulai mengering," kata Bodhi.

Kenali Metode Silase dan Hay

Dalam penjelasannya, Bodhi turut memaparkan dua metode utama pengawetan hijauan yang disarankan yaitu silase dan hay (hein).

Silase adalah metode pengawetan hijauan segar melalui proses fermentasi anaerob. Tumbuhan yang bisa digunakan oleh peternak antara lain rumput gajah, jagung, atau tanaman berdaun hijau dengan kadar air tinggi. Proses ini menghasilkan pakan dengan kandungan nutrisi yang relatif stabil dan bisa disimpan dalam kurun waktu lama.

Hay (hein) adalah metode pengeringan hijauan hingga kadar airnya rendah sehingga dapat disimpan berbulan-bulan tanpa mengalami pembusukan. Rumput lapangan atau leguminosa seperti alfalfa biasanya dijadikan bahan utama.

Meski kedua metode tersebut sudah lama dikenal di dunia peternakan modern, Bodhi menilai masih banyak peternak di Indonesia yang belum memahami atau bahkan menerapkannya.

"Tantangan terbesar adalah minimnya pengetahuan dan keterampilan peternak dalam membuat silase atau hay. Padahal, metode ini bisa menjadi solusi nyata menghadapi kemarau panjang," ujarnya.

Oleh karena itu, Bodhi menyebut perguruan tinggi dan civitas akademika tidak hanya berfungsi sebagai pusat penelitian melainkan juga sebagai agen transfer teknologi kepada masyarakat misalnya melalui program pengabdian masyarakat, pelatihan, dan pendampingan langsung kepada masyarakat khususnya peternak.

"Di situ akademisi dapat membantu peternak memahami teknik pengawetan pakan, mengajarkan praktik yang baik, serta memastikan keberlanjutan usaha di sektor peternakan," kata Bodhi.

Bodhi juga menyoroti langkah antisipasi yang bisa dilakukan pemerintah terutama di daerah dengan potensi kekeringan ekstrim. Ia mengatakan peringatan dini BMKG menjadi alarm bagi pemerintah dan dinas terkait untuk mengantisipasi kekeringan, terutama dalam hal suplai air bersih.

"Tidak hanya untuk ternak melainkan juga masyarakat yang terdampak langsung. Di sisi lain kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan kelompok peternak akan mempercepat adopsi teknologi ini di lapangan," pungkasnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads