Waspada Dampak El Nino Ekstrem 2026, Ini Risiko yang Perlu Diantisipasi

Waspada Dampak El Nino Ekstrem 2026, Ini Risiko yang Perlu Diantisipasi

Salma Nisrina Fahriyyah - detikJatim
Senin, 30 Mar 2026 17:00 WIB
Ilustrasi El Nino, cuaca panas ekstrem.
Ilustrasi El Nino, cuaca panas ekstrem. Foto: Dok. detikcom
Surabaya -

Fenomena El Nino ekstrem kembali jadi perhatian, terutama setelah adanya prediksi kemunculannya pada 2026. Kondisi ini tidak hanya membuat cuaca terasa lebih panas, tetapi berpotensi memicu kemarau panjang dan kekeringan di berbagai wilayah Indonesia.

Yang perlu diwaspadai bukan hanya cuaca, tapi bisa merembet ke ketersediaan air, pangan, hingga kesehatan. Lalu, seperti apa sebenarnya dampak suhu El Nino ekstrem, dan apa saja yang perlu diantisipasi?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Prediksi El Nino Ekstrem Mulai April 2026

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN memprediksi kemunculan El Nino dengan intensitas kuat pada April 2026. Fenomena ini bahkan dijuluki sebagai "Godzilla El Nino" karena potensi dampaknya yang besar dan luas.

Menurut Instagram Profesor Riset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin menjelaskan El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Ketika menguat, pembentukan awan dan hujan akan bergeser ke wilayah Pasifik, sehingga Indonesia mengalami penurunan curah hujan.

ADVERTISEMENT

Kemarau Lebih Panjang dan Kering

Masih dikutip dari postingan yang sama, penguatan El Nino ini diprediksi terjadi bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole positif. Kondisi ini ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatra dan Jawa yang semakin mengurangi potensi pembentukan awan.

Akibatnya, musim kemarau di Indonesia berpotensi berlangsung lebih panjang, dimulai sekitar April hingga Oktober 2026. Selama periode ini, curah hujan diperkirakan menurun signifikan dan suhu udara terasa lebih panas dari biasanya.

Risiko Kekeringan dan Gangguan Stok Air

Kondisi cuaca yang lebih kering membawa dampak langsung pada ketersediaan air. Sejumlah wilayah, terutama di bagian selatan Indonesia, berisiko mengalami kekeringan yang cukup serius.

Dalam unggahannya di X pada Rabu 19 Maret 2026, Erma mengimbau masyarakat untuk mulai mengantisipasi kondisi ini sejak dini. Hal ini termasuk memastikan ketersediaan air. Ia menekankan bahwa wilayah selatan ekuator akan lebih rentan terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino dan IOD positif.

Selain itu, sektor pertanian juga berpotensi terdampak. Pengalaman pada El Nino sebelumnya menunjukkan bahwa penurunan curah hujan dapat memicu gagal panen, termasuk di wilayah sentra produksi pangan, seperti pantai utara Jawa dan sebagian Sumatra.

Risiko Kesehatan Akibat Cuaca Panas Ekstrem

Selain dampak lingkungan, suhu panas ekstrem juga berdampak serius bagi kesehatan. Dilansir detikHealth, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman menyebut pemerintah tengah menyiapkan surat edaran untuk meningkatkan kesiapsiagaan sektor kesehatan menghadapi potensi dampak musim kemarau panjang.

Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari sakit kepala akibat panas berlebih, gangguan jantung karena kerja tubuh yang meningkat, hingga kondisi serius seperti heat stroke yang memerlukan penanganan medis segera.

Selain itu, dehidrasi juga menjadi risiko yang sering terjadi, terutama ketika tubuh kehilangan cairan lebih cepat dibandingkan dengan asupan yang masuk. Dalam kondisi ekstrem, hal ini bisa mempengaruhi tekanan darah dan fungsi organ tubuh.




(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads