Kapan El Nino di Jawa Timur? Ini Kata BMKG

Kapan El Nino di Jawa Timur? Ini Kata BMKG

Anastasia Trifena - detikJatim
Senin, 11 Mei 2026 07:00 WIB
Ilustrasi cuaca panas di Sidoarjo
Ilustrasi cuaca panas di Sidoarjo (Foto: Aprilia Devi/ detikjatim)
Surabaya -

Cuaca panas menyengat yang terasa di sejumlah wilayah Jawa Timur belakangan ini ternyata belum dipengaruhi fenomena El Nino. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi iklim saat ini masih berada dalam fase netral meski potensi El Nino diperkirakan mulai muncul pada pertengahan 2026.

Belakangan, suhu udara di Jawa Timur terasa lebih panas terutama pada siang hari. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan masyarakat terkait kemungkinan munculnya El Nino yang kerap memicu cuaca lebih kering dan terik.

Prakirawan BMKG Juanda, Rendy Irawadi, menjelaskan cuaca panas yang terjadi saat ini masih dipengaruhi minimnya tutupan awan selama masa pancaroba atau peralihan menuju musim kemarau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk saat ini dari pantauan kita ataupun pantauan dari pengamat meteorologi dunia bahwa kondisinya ENSO (El Nino-Southern Oscillation) masih netral nih, belum terjadi El Nino," kata Rendy saat dikonfirmasi detikJatim, Minggu (10/5/2026).

El Nino Diperkirakan Mulai Juni-Juli 2026

Meski saat ini masih netral, BMKG memperkirakan potensi El Nino mulai muncul pada Juni hingga Juli 2026. Fenomena tersebut dapat memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur.

ADVERTISEMENT

"Jadi kondisi saat ini masih netral, memang diperkirakan nanti dimulai bulan Juni sampai Juli itu potensinya akan menjadi El Nino," ungkap Rendy.

El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik yang dapat memicu berkurangnya curah hujan di Indonesia. Dampaknya, musim kemarau bisa terasa lebih panjang, panas, dan kering dibanding biasanya.

Bedanya Kemarau Biasa dan Kemarau Saat El Nino

Rendy menjelaskan, musim kemarau normal sebenarnya masih memungkinkan terjadinya hujan meski intensitasnya lebih sedikit dibanding musim hujan.

Namun ketika El Nino terjadi, potensi hujan biasanya semakin berkurang sehingga kondisi cuaca menjadi lebih kering.

"Kalau kemarau disertai El Nino, biasanya kemarau nya akan semakin kering. Jadi biasanya potensi hujannya bisa tiga kali misalnya saat musim kemarau, kalau ada El Nino bisa jadi dua kali, bisa jadi satu kali gitu," jelasnya.

Fenomena ini juga berpotensi memicu kekeringan lebih cepat di sejumlah daerah, terutama wilayah yang selama ini bergantung pada curah hujan untuk kebutuhan pertanian dan sumber air.

Dampak El Nino Bisa Picu Cuaca Lebih Terik

BMKG menyebut dampak El Nino tidak hanya membuat curah hujan menurun, tetapi juga meningkatkan suhu udara sehingga cuaca terasa lebih panas dari biasanya.

Karena itu, masyarakat diminta mulai mewaspadai dampak cuaca panas, terutama bagi warga yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

"Jadi untuk pekerja di luar ruangan diharapkan pakai sunscreen, sunblock atau pakaian yang tertutup. Kalau memang harus bekerja di luar ruangan, sedia air putih karena efeknya bisa menyebabkan dehidrasi," imbau Rendy.

Selain itu, masyarakat juga diminta membatasi paparan sinar matahari langsung terlalu lama karena tingkat radiasi ultraviolet (UV) disebut lebih tinggi dibanding sebelumnya.

"Terus kalau bisa jangan berlama-lama terpapar oleh sinar matahari langsung karena memang kandungan UV yang berbahaya itu lebih tinggi daripada dahulu," pungkasnya.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads