Mengenal Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng dan Nilai Sejarahnya

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Minggu, 22 Mar 2026 10:47 WIB
Candi Arjuna (Foto: Uje Hartono/detikJateng)
Solo -

Dataran Tinggi Dieng merupakan salah satu kawasan percandian tertua di Pulau Jawa yang terletak di ketinggian sekitar 2.093 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini memanjang kurang lebih 1.900 meter dari utara ke selatan dengan lebar sekitar 800 meter. Keberadaannya menjadi bukti penting perkembangan awal agama Hindu di Jawa, khususnya pada masa Mataram Kuno.

Di tengah kawasan tersebut berdiri Kelompok Arjuna, yang dalam buku Digital Archetypes: Adaptations of Early Temple Architecture in South and Southeast Asia karya Sambit Datta dan David Beynon disebut sebagai kompleks paling utuh dan menempati lokasi paling sentral di Dieng. Kompleks ini terdiri atas empat candi yang tersusun utara-selatan dengan Candi Arjuna berada di bagian paling selatan, serta satu candi perwara yang menghadap langsung kepadanya.

Sebagai bagian utama dari kompleks tersebut, Candi Arjuna tidak hanya penting secara arsitektural, tetapi juga memiliki nilai sejarah tinggi sebagai salah satu candi Hindu tertua di Jawa. Struktur, ornamen, dan tata ruangnya memperlihatkan pertemuan antara ajaran Brahmanik dari India dengan tradisi lokal Jawa Kuno. Simak sejarah hingga susunan arsitekturnya melalui paparan di bawah ini.

Sejarah Candi Arjuna dan Nilai Sejarahnya

Menurut keterangan di laman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Candi Arjuna diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi oleh Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno. Percandian di Dieng disebut sebagai bukti penyebaran agama Hindu tertua di Jawa, khususnya aliran Siwa.

Di kawasan Dieng ditemukan prasasti berangka tahun 731 Caka atau 808 Masehi yang menggunakan aksara Jawa Kuno. Prasasti ini menjadi salah satu prasasti tertua bertuliskan huruf Jawa Kuno yang masih ada. Selain itu, ditemukan pula arca Dewa Siwa yang kini disimpan di Museum Nasional Indonesia, mempertegas fungsi candi sebagai tempat pemujaan Siwa.

Menurut laman Desa Dieng Kulon, pembangunan Candi Dieng diperkirakan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung dari akhir abad ke-7 hingga awal abad ke-8, meliputi pembangunan Candi Arjuna dan beberapa candi lain di sekitarnya. Tahap kedua merupakan kelanjutan pembangunan hingga sekitar tahun 780 Masehi. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan Dieng telah berkembang sebagai pusat keagamaan dalam kurun waktu yang cukup panjang.

Kompleks ini pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1814 dalam kondisi tergenang air telaga. Upaya pengeringan dilakukan pada tahun 1856 dan dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1864 dengan pencatatan serta dokumentasi. Proses ini menjadi bagian penting dalam sejarah pelestarian situs Candi Arjuna.

Nilai sejarah Candi Arjuna mencakup:

  • Salah satu candi Hindu tertua di Jawa (abad ke-8 M).
  • Bukti awal penyebaran Hindu aliran Siwa di Nusantara.
  • Berkaitan dengan prasasti tertua beraksara Jawa Kuno (808 M).
  • Representasi arsitektur klasik tua Jawa.
  • Menunjukkan akulturasi budaya India dan kepercayaan lokal.

Daya Tarik Candi Arjuna

Kembali dikutip dari buku Digital Archetypes: Adaptations of Early Temple Architecture in South and Southeast Asia karya Sambit Datta dan David Beynon serta laman Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, daya tarik Candi Arjuna meliputi:

  • Termasuk kompleks paling utuh dan paling sentral di kawasan Dieng.
  • Denah bujur sangkar sekitar 6 × 6 meter dan menghadap ke barat.
  • Berdiri di atas pitha (platform) persegi dengan dua bagian vertikal yang tegas.
  • Ruang utama (cella/garbhagriha) berbentuk kubus sederhana dengan ukuran interior sekitar 2,5 meter persegi.
  • Akses melalui tangga barat dengan delapan anak tangga dan penil berhias kepala naga.
  • Hiasan kala-makara pada pintu masuk dan relung sebagai simbol kosmis kehidupan dan kematian.
  • Lima relung arca pada tubuh candi (dua di barat, masing-masing satu di utara, timur, dan selatan).
  • Jalamatra (saluran air) di sisi utara untuk mengalirkan air suci dari yoni ke luar candi.
  • Atap piramidal tiga tingkat (bhumi) yang semakin mengecil ke atas.
  • Miniatur relung dan aedicular forms (replika candi kecil) di setiap sudut atap.
  • Kemiripan bentuk atap dengan gaya India Selatan (Dravida).

Struktur dan Tata Ruang Kompleks Kelompok Arjuna

Arjuna merupakan kompleks paling lengkap di Dieng dan menempati lokasi paling sentral. Kompleks ini terdiri atas empat candi yang berjajar dari selatan ke utara: Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Seluruhnya menghadap ke barat, meskipun tidak sepenuhnya sejajar secara presisi dengan arah mata angin.

Di depan Candi Arjuna berdiri Candi Semar sebagai candi perwara yang menghadap langsung ke bangunan utama. Diduga Candi Semar berfungsi sebagai tempat penyimpanan wahana Siwa (Nandi) atau perlengkapan ritual. Di sekitar kompleks juga ditemukan sisa-sisa bangunan pendukung dan tembok pembatas pada level fondasi.

Tata ruang kompleks ini memperlihatkan konsep kesakralan pusat dengan Candi Arjuna sebagai fokus utama dalam susunan utara-selatan yang terencana.

Bentuk atap Candi Arjuna memiliki kemiripan dengan gaya arsitektur India Selatan (Dravida). Superstruktur berbentuk piramidal bertingkat yang semakin mengecil ke atas merupakan ciri utama gaya tersebut.

Namun, adaptasi lokal sangat kuat terlihat pada ornamen kala-makara, proporsi ruang, serta penyederhanaan ragam hias. Candi Arjuna tidak sekadar meniru arsitektur India, tetapi menyesuaikannya dengan kosmologi, kondisi geografis, dan tradisi Jawa Kuno.

Sebagai salah satu candi tertua di Jawa, Candi Arjuna menjadi bukti penting perjalanan sejarah, perkembangan arsitektur sakral, serta proses akulturasi budaya yang membentuk identitas peradaban Jawa pada abad ke-8 Masehi.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom



Simak Video "Siap-siap "War" Tiket Indonesia Vs Argentina Segera Dimulai"

(num/apu)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork