- Dinasti Sanjaya yang Mendirikan Kerajaan Mataram Kuno
- Dinasti Syailendra Datang ke Jawa
- Kisah Dinasti Sanjaya dan Syailendra Bersatu Menguasai Mataram Kuno
- FAQ 1. Apa itu dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra? 2. Apakah Mataram Kuno dibangun pada Dinasti Sanjaya? 3. Bagaimana Kerajaan Mataram Kuno mempersatukan Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya?
Sejarah besar tanah Jawa tidak lepas dari peran dua dinasti legendaris. Wangsa Sanjaya dan Syailendra pernah bersaing ketat memperebutkan takhta Mataram Kuno. Keduanya membawa corak agama berbeda namun tetap mampu hidup berdampingan. Jejak kemegahan mereka masih bisa detikers saksikan melalui candi-candi megah. Mari telusuri kembali perjalanan politik dan budaya leluhur kita yang luar biasa.
Dinamika kekuasaan ini bermula dari persaingan wilayah utara dan selatan Jawa. Dinasti Sanjaya identik dengan ajaran Hindu yang berpusat di pegunungan. Sementara itu, Dinasti Syailendra membawa pengaruh Buddha Mahayana yang sangat kuat. Konflik kepentingan sempat memicu pergeseran pusat pemerintahan di masa lalu. Namun, semangat toleransi akhirnya menyatukan perbedaan yang ada menjadi kekuatan besar.
Penasaran bagaimana kisah Dinasti Sanjaya dan Syailendra yang menguasai Mataram Kuno di masa lalu, detikers? Yuk, simak penjelasan lengkap yang dihimpun detikJateng dari buku Cakrawala Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI oleh Wardaya serta artikel Internalisasi Nilai-nilai Kebhinekaan Global dalam Harmoni Kehidupan Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra pada Masa Kerajaan Mataram Kuno oleh Candra Ulfa Kusuma Dewi dkk berikut!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Poin utamanya:
- Mataram Kuno dikuasai Wangsa Sanjaya (Hindu) dan Wangsa Syailendra (Buddha).
- Persaingan berakhir damai melalui pernikahan Rakai Pikatan dengan Pramodhawardhani.
- Kolaborasi dua dinasti melahirkan mahakarya dunia seperti Borobudur dan Prambanan.
Dinasti Sanjaya yang Mendirikan Kerajaan Mataram Kuno
Awal mula Mataram Kuno berakar dari konflik di Jawa Barat. Raja Sanna dari Kerajaan Galuh diserang oleh saudaranya sendiri. Ia gugur, namun saudaranya yang bernama Sannaha berhasil melarikan diri. Sannaha membawa keluarga raja mengungsi ke lereng Gunung Merapi. Di sanalah putranya, Sanjaya, tumbuh menjadi sosok pemimpin yang tangguh.
Sanjaya resmi mendirikan Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 717 Masehi. Ia membangun pusat pemerintahan di daerah Medang di Poh Pitu. Bukti otentik pendirian ini tertuang jelas dalam Prasasti Canggal yang ditemukan di Gunung Wukir, sebelah selatan wilayah Muntilan. Angka tahun pada prasasti menunjukkan 654 Saka atau 732 Masehi.
Di Bukit Stirangga, Sanjaya membangun sebuah lingga sebagai tanda kemenangan. Lingga tersebut merupakan simbol pemujaan terhadap dewa tertinggi dalam Hindu. Masyarakat Mataram kala itu sangat memuja Syiwa, Brahma, dan Wisnu. Wilayah kekuasaan awal Sanjaya diduga berada di sekitar daerah Sleman. Nama Sanjaya juga muncul dalam Prasasti Mantyasih yang dibuat Balitung.
Sanjaya dikenal sebagai raja yang berhasil menaklukkan wilayah luar Jawa. Gelarnya adalah Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya sebagai pendiri wangsa. Setelah Sanjaya wafat, kepemimpinan beralih kepada putranya bernama Rakai Panangkaran. Pada masa inilah kedinamisan politik antara dua dinasti mulai terjadi. Panangkaran memimpin Mataram dari tahun 746 hingga tahun 784 Masehi.
Berikut ini merupakan raja-raja yang berasal dari Dinasti Sanjaya (Mataram Hindu):
- Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (717 - 746 M): Pendiri Kerajaan Mataram Kuno sekaligus leluhur wangsa Sanjaya.
- Sri Maharaja Rakai Panangkaran (746 - 784 M): Raja yang mulai mendapat desakan dari kehadiran Dinasti Syailendra.
- Sri Maharaja Rakai Panunggalan (784 - 803 M): Penerus takhta yang kekuasaannya mulai terbatas di wilayah utara.
- Sri Maharaja Rakai Warak (803 - 827 M): Memerintah dalam masa pengaruh kuat dari Dinasti Syailendra.
- Dyah Gula (827 - 828 M): Raja wanita yang memerintah dalam waktu sangat singkat.
- Sri Maharaja Rakai Garung (828 - 847 M): Raja yang beristana di wilayah Dieng, Wonosobo.
- Sri Maharaja Rakai Pikatan (847 - 855 M): Raja yang berhasil menyatukan Mataram melalui pernikahan politik.
- Sri Maharaja Kayuwangi atau Lokapala (855 - 885 M): Putra Pikatan yang menjaga stabilitas kerajaan setelah persatuan.
- Dyah Taguras (885 M): Masa pemerintahannya sangat singkat dan penuh konflik internal.
- Dyah Derendra (885 - 887 M): Memerintah di tengah masa peperangan perebutan kekuasaan.
- Rakai Gurunwangi (887 M): Salah satu raja yang tidak tercatat dalam Prasasti Mantyasih.
- Sri Maharaja Watuhumalang (894 - 898 M): Penguasa sebelum masa keemasan Raja Balitung bersatu kembali.
- Sri Maharaja Watukura Dyah Balitung (898 - 913 M): Raja terbesar yang mempersatukan wilayah hingga Jawa Timur.
- Sri Maharaja Daksa (Memerintah setelah 913 M): Penerus Balitung yang merupakan bagian dari keluarga kerajaan.
- Sri Maharaja Tulodhong Raja yang mulai mengalami pelemahan otoritas pusat kerajaan.
- Sri Maharaja Wawa Raja terakhir wangsa Sanjaya sebelum pusat kekuasaan berpindah.
Dinasti Syailendra Datang ke Jawa
Dinasti Syailendra muncul di Jawa Tengah saat Panangkaran sedang berkuasa. Beberapa ahli sejarah menyebutkan asal mereka adalah dari wilayah India. Teori lain menyebutkan mereka datang dari Funan untuk menyebarkan pengaruh. Dinasti ini menganut agama Buddha Mahayana dengan sangat taat. Kehadiran mereka membawa perubahan besar dalam peta politik di Jawa.
Syailendra berhasil mendesak wangsa Sanjaya berpindah ke wilayah bagian utara. Kelompok Sanjaya pun akhirnya menyingkir menuju dataran tinggi Dieng. Sementara itu, dinasti Syailendra menguasai wilayah subur Jawa bagian selatan. Mereka membangun pusat kebudayaan di sekitar wilayah Jogja sekarang. Raja pertama yang tercatat dari dinasti ini adalah bernama Bhanu.
Tokoh besar berikutnya adalah Raja Wisnu yang memerintah sangat kuat. Ia mendapat julukan sebagai pembunuh musuh yang sangat gagah berani. Di bawah kendali Wisnu, Panangkaran terpaksa berpindah keyakinan menjadi Buddha. Hal ini tercatat dalam Prasasti Kalasan yang bertarikh 778 Masehi. Panangkaran diminta membangun tempat suci untuk memuja sosok Dewi Tara.
Kejayaan Syailendra mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Raja Samaratungga. Ia membangun Candi Borobudur sebagai pusat spiritual agama Buddha. Candi megah ini menjadi simbol kekuatan ekonomi dan seni mereka. Namun, Samaratungga merupakan raja terakhir keturunan Syailendra di tanah Mataram. Setelah masanya, kekuasaan mulai kembali ke tangan keturunan wangsa Sanjaya.
Di bawah ini adalah daftar raja dari Dinasti Syailendra yang memimpin Mataram Kuno bercorak Buddha:
- Bhanu (752 - 775 M): Raja pertama Syailendra yang namanya ditemukan dekat Salatiga.
- Wisnu atau Dharmatunggasraya (775 - 782 M): Raja kuat yang berhasil mendesak dominasi wangsa Sanjaya.
- Indra atau Sangramadhananjaya (782 - 812 M): Tokoh yang membangun banyak candi Buddha di Jawa Tengah.
- Samaratungga (812 - 832 M): Raja yang membangun Candi Borobudur sebagai pusat spiritual.
- Pramodhawardhani: Putri mahkota yang menyatukan dua dinasti melalui jalur pernikahan.
- Balaputradewa: Pangeran yang kalah perang dan melarikan diri ke Sumatra.
Kisah Dinasti Sanjaya dan Syailendra Bersatu Menguasai Mataram Kuno
Persaingan panjang kedua dinasti ini akhirnya berakhir di pelaminan. Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya menikahi putri raja dinasti Syailendra. Putri cantik tersebut bernama Pramodhawardhani atau dikenal sebagai Sri Kahulunan.
Pernikahan antara Rakai Pikatan dan Pramodhawarhani menjadi jembatan perdamaian bagi kedua kelompok yang berbeda. Bukti pernikahan ini tercatat pada relief di dinding Candi Plaosan.
Candi Plaosan sendiri memiliki gaya bangunan yang sangat unik dan indah. Bagian atasnya menjulang tinggi seperti ciri khas candi agama Hindu. Namun, bagian dasarnya lebar sesuai dengan arsitektur candi agama Buddha. Perpaduan ini membuktikan bahwa perbedaan agama bukan lagi sebuah masalah. Rakyat Mataram mulai hidup berdampingan dengan penuh rasa toleransi.
Namun, penyatuan ini sempat ditentang oleh sosok pangeran Balaputradewa. Balaputradewa adalah putra Samaratungga yang merasa berhak atas takhta Mataram. Perang saudara pun pecah antara Rakai Pikatan melawan pihak Balaputradewa. Peperangan besar terjadi dan berakhir dengan kekalahan telak pangeran Syailendra. Balaputradewa akhirnya melarikan diri menuju daerah Ratu Boko lalu Sumatra.
Kekuasaan penuh Mataram Kuno kini kembali ke tangan wangsa Sanjaya. Rakai Pikatan membangun Candi Prambanan untuk menunjukkan kejayaan agama Hindu. Candi ini dibangun sebagai tandingan bagi kemegahan bangunan Candi Borobudur.
Setelah Pikatan, muncul Raja Balitung yang menjadi pemimpin terbesar Mataram. Ia berhasil mempersatukan seluruh wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Era Balitung membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat yang bercocok tanam. Ia sangat memperhatikan kesejahteraan penduduk di sekitar Sungai Bengawan Solo.
Hubungan antara penganut Hindu dan Buddha tetap terjaga dengan sangat harmonis. Inilah warisan berharga Mataram Kuno tentang nilai kebhinekaan global sejati. Kisah dinasti Sanjaya dan Syailendra ini menjadi bukti toleransi luhur bangsa Indonesia. Demikian, semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan!
FAQ
1. Apa itu dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra?
Dua dinasti ini adalah keluarga penguasa yang memimpin Kerajaan Mataram Kuno. Dinasti Sanjaya didirikan oleh Raja Sanjaya dan merupakan penganut agama Hindu Syiwa. Mereka banyak meninggalkan warisan di wilayah Jawa Tengah bagian utara. Sebaliknya, Dinasti Syailendra adalah penganut Buddha Mahayana yang sangat taat. Kelompok ini dikenal sebagai pembangun candi-candi megah di wilayah selatan.
2. Apakah Mataram Kuno dibangun pada Dinasti Sanjaya?
Ya, Kerajaan Mataram Kuno resmi berdiri di bawah kepemimpinan Raja Sanjaya. Ia mendirikan kerajaan ini pada tahun 717 Masehi sebagai kelanjutan kekuasaan leluhurnya. Bukti sejarah mengenai pendirian ini tertulis dengan jelas dalam Prasasti Canggal. Sanjaya membangun fondasi pemerintahan yang kuat sebelum kedatangan pengaruh Dinasti Syailendra. Sosoknya dihormati sebagai leluhur raja-raja besar di tanah Jawa.
3. Bagaimana Kerajaan Mataram Kuno mempersatukan Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya?
Penyatuan kedua dinasti ini terjadi melalui jalur pernikahan politik yang ikonik. Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya menikahi Pramodhawardhani, putri mahkota dari wangsa Syailendra. Pernikahan ini mengakhiri ketegangan panjang dan menciptakan harmoni antarumat beragama. Simbol persatuan mereka diabadikan dalam arsitektur unik Candi Plaosan. Meskipun sempat ada penolakan dari Balaputradewa, persatuan ini tetap membawa stabilitas bagi Mataram.
(sto/alg)











































