Ini Candi Klero, Bangunan Unik yang 'Kesepian' di Tengah Ramainya Semarang

Ini Candi Klero, Bangunan Unik yang 'Kesepian' di Tengah Ramainya Semarang

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJateng
Jumat, 27 Mar 2026 14:02 WIB
Candi Klero Semarang
Candi Klero Semarang. (Foto: Fandy Aprianto Rohman/Wikimedia Commons/CC BY-SA 4.0)
Semarang -

Candi Klero merupakan salah satu peninggalan bercorak Hindu yang berada di Desa Ngentak, Klero, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Letaknya cukup strategis karena hanya berjarak sekitar 500 meter dari jalur utama Semarang-Solo, salah satu jalur paling sibuk di kawasan tersebut.

Meski berada di dekat pusat mobilitas, nama Candi Klero tidak sepopuler candi-candi besar lain di Jawa Tengah. Tidak banyak wisatawan yang secara khusus datang ke lokasi ini, dan bahkan sebagian masyarakat sekitar pun tidak menjadikannya sebagai destinasi utama.

Padahal, keberadaan Candi Klero telah diakui secara resmi sebagai situs cagar budaya melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.24/PW.007/MKP/2007. Artinya, secara hukum dan historis, candi ini memiliki nilai penting yang layak dilindungi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut buku Candi Indonesia karya Edi Sedyawati, Candi Klero memiliki koordinat sekitar 7°57' LS dan 110°31' BT, dengan ketinggian kurang lebih 169 mdpl. Data ini menunjukkan bahwa lokasi candi sebenarnya jelas dan mudah diakses, bukan situs terpencil yang sulit dijangkau.

Selain itu, kawasan candi memiliki luas yang cukup besar, yakni lebih dari 31 ribu meter persegi, dengan area bangunan utama sekitar 1.300 meter persegi. Secara fisik, ini bukan situs kecil yang tersembunyi, melainkan cukup luas dan terbuka.

ADVERTISEMENT

Namun di sinilah letak keunikannya: secara geografis Candi Klero dekat dengan keramaian, tetapi secara sosial dan kultural ia terasa jauh dari perhatian. Ia tidak hilang, tetapi seperti berada di pinggiran kesadaran publik.

Kesepian di Tengah Ramainya Semarang

Kesepian Candi Klero bukan sekadar kesan subjektif, melainkan kondisi yang dapat dijelaskan dari berbagai sisi dari lingkungan, visual, sejarah, hingga cara masyarakat memaknainya.

Dari sisi lingkungan, kontras antara lokasi candi dan sekitarnya sangat terasa. Jalur Semarang-Solo yang berada tidak jauh dari lokasi merupakan salah satu jalur padat kendaraan. Aktivitas berlangsung hampir tanpa henti, mencerminkan dinamika kehidupan modern yang cepat dan sibuk.

Namun ketika memasuki area Candi Klero, suasana berubah drastis. Area candi tampak luas, terbuka, dan relatif sepi dari aktivitas manusia. Tidak terlihat keramaian khas tempat wisata, tidak ada pedagang yang ramai, dan tidak ada arus keluar-masuk pengunjung yang signifikan.

Berbeda dengan candi besar lain yang memiliki keterkaitan jelas dengan kerajaan atau tokoh sejarah tertentu, Candi Klero tidak memiliki "cerita besar" yang dikenal luas. Ia tidak terhubung dengan narasi populer yang sering diulang dalam buku sejarah maupun pariwisata.

Ketiadaan narasi ini menciptakan jarak antara masyarakat dan situs tersebut. Tanpa cerita yang kuat, sulit bagi sebuah tempat untuk membangun daya tarik emosional maupun kultural.

Akibatnya, Candi Klero menjadi kurang diperbincangkan. Ia tidak sering muncul dalam media, tidak menjadi ikon daerah, dan tidak masuk dalam daftar utama destinasi wisata sejarah.

Kesepian Candi Klero juga bisa dipahami sebagai bentuk "ketidakhadiran dalam ingatan kolektif". Ia ada secara fisik, tetapi tidak banyak hadir dalam percakapan publik.

Orang-orang mungkin melintas di dekatnya setiap hari, tetapi tidak semua menyadari pentingnya. Ia terlihat, tetapi tidak selalu benar-benar "dilihat".

Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini menunjukkan bahwa nilai sejarah tidak selalu berbanding lurus dengan popularitas. Ada situs yang dikenal luas, tetapi ada pula yang tetap berada dalam sunyi meskipun memiliki nilai penting.

Candi Klero adalah contoh dari yang kedua: sebuah peninggalan yang tidak menonjol secara visual maupun naratif, tetapi tetap menyimpan jejak peradaban masa lalu. Kesepian yang melekat padanya bukan hanya kekurangan, tetapi juga menjadi karakter. Ia menghadirkan pengalaman yang berbeda lebih tenang, lebih reflektif, dan tidak terdistorsi oleh keramaian.

Status Resmi dan Kondisi Kawasan

Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.24/PW.007/MKP/2007, Candi Klero (Tengaran) termasuk dalam daftar situs cagar budaya yang dilindungi negara.

Dalam dokumen tersebut dijelaskan bahwa luas bangunan candi sekitar ±1.308 m², sementara luas kawasan mencapai ±31.752 m². Lahan ini tercatat sebagai milik Sri Waskito, dengan kondisi lingkungan berupa tanah tegalan serta terdapat area pemakaman di sekitarnya.

Menurut laman Desa Klero, kawasan candi telah dilengkapi pagar permanen sebagai bentuk perlindungan. Kondisi bangunan juga dilaporkan dalam keadaan terawat dan bersih, menunjukkan adanya upaya pelestarian meskipun tingkat kunjungannya rendah.

Sejarah Penemuan dan Pemugaran

Menurut buku Candi Indonesia karya Edi Sedyawati, serta laman Desa Klero dan kajian Yunita Pratiwi yang berjudul ANALISIS KURIKULUM PADA POKOK BAHASAN SEJARAH MASUKNYA AGAMA HINDU BUDHA DAN WARISAN ARSITEKTURNYA PADA SISWA X SMA 1 NEGERI PEGAJAHAN, Candi Klero ditemukan kembali pada tahun 1995 dalam kondisi runtuh.

Penemuan ini tergolong baru jika dibandingkan dengan candi lain di Jawa. Saat ditemukan, struktur bangunan belum utuh dan masih berupa susunan batu yang tersebar.

Pemugaran kemudian dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, yang kini menjadi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Proses ini menyusun kembali bagian-bagian candi hingga membentuk struktur seperti sekarang.

Arsitektur dan Simbol Keagamaan

Menurut Edi Sedyawati, Candi Klero memiliki tinggi sekitar 6 meter dengan ukuran dasar 14 x 14 meter. Struktur candi terdiri dari bagian kaki, tubuh, dan atap.

Bagian kaki berupa teras setinggi sekitar 1,4 meter, dengan tonjolan yang menurut laman Desa Klero diduga sebagai umpak. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya struktur tambahan berbahan kayu pada masa lalu.

Bagian tubuh candi memiliki satu ruang utama yang berisi yoni, simbol pemujaan dalam agama Hindu. Atap candi terdiri dari tiga tingkat dengan puncak berbentuk ratna. Meskipun strukturnya lengkap, minimnya ornamen membuat tampilan candi tetap sederhana.

Candi Klero memperlihatkan bahwa tidak semua warisan sejarah hadir dalam bentuk megah dan ramai. Dalam kesederhanaannya, justru muncul karakter yang berbeda yaitu tenang, sunyi, dan tidak banyak tersorot. Kesepian yang melekat pada candi ini bukan hanya soal minimnya pengunjung, tetapi juga hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan: bentuk arsitektur, keterbatasan informasi sejarah, hingga kurangnya eksposur publik.

Namun justru dalam kesunyian itu, Candi Klero menyimpan nilai yang tidak kalah penting. Ia menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam keramaian yang kadang ia bertahan dalam diam, menunggu untuk dipahami.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom



(sto/dil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads