Kangen Pak Harto? Ada Museum Memorial Soeharto di Bantul Nih

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Kamis, 27 Jan 2022 16:33 WIB
Museum Memorial Jenderal Besar HM. Soeharto
Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Bantul DIY. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng
Bantul -

Bagi anda pecinta sejarah, tak ada salahnya mengunjungi Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di museum ini, pengunjung dapat mengapresiasi perjalanan hidup Presiden ke-2 Indonesia itu dari kecil hingga akhir hayatnya.

Museum Museum Memorial Jenderal Besar HM Soeharto ini dibangun di tanah kelahiran Pak Harto, di Pedukuhan Kemusuk, Kalurahan Argomulyo, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul. Museum ini cukup besar karena dibangun di lahan seluas 3620 m2.

Patung Soeharto

Memasuki kompleks museum, pengunjung akan disambut patung Soeharto berukuran besar di bagian depan museum. Di belakang patung tersebut, terdapat joglo yang berfungsi untuk menonton film tentang Soeharto.


"Di sini pengunjung dapat mengapresiasi sejarah perjalanan hidup, kiprah, dan prestasi Presiden Republik Indonesia yang kedua ini sejak masa kecil hingga akhir hayatnya," ujar kepala museum, Gatot Nugroho, saat detikJateng berkunjung ke museum itu beberapa waktu lalu.

Gatot menjelaskan, museum tersebut terdiri atas sejumlah bangunan seperti joglo, Rumah Notosudiro, Rumah Atmosudiro dan petilasan tempat Pak Harto dilahirkan.

Gedung Atmosudiro, lanjut Gatot, berada di sisi barat joglo. Nama Atmosudiro sendiri ditabalkan dari nama eyang Pak Harto.

"Dalam bangunan ini pengunjung akan disuguhi rangkaian visualisasi tonggak-tonggak penting perjalanan hidup Pak Harto. Dirancang dengan teknologi multimedia serta tata ruang artistik, sehingga seperti berjalan melintasi lorong waktu," ucapnya.

"Terus untuk selasar ruang karya berbentuk gulungan (rol) film berhiaskan sejumlah visualisasi singkat tentang Pak Harto, serta sebuah multimedia denganlayar sentuh yang menyajikan informasi lengkap seputar museum beserta koleksinya," lanjut Gatot.

Museum Soeharto: Selasar Serangan Oemoem 1 Maret

Selanjutnya, kata Gatot, terdapat Selasar Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Di selasar tersebut pengunjung dapat menyaksikan sejumlah diorama dan floor interaktif, serta foto dokumentasi peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Lebih lanjut, di Selasar Trikora/Operasi Mandala menunjukkan karier Pak Harto di bidang militer. Khususnya saat kariernya bersinar usai dipercaya Presiden Soekarno menjadi Panglima Komando Mandala dalam rangka Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk pembebasan Irian Barat.

"Para pengunjung dapat menyaksikan sejumlah foto dan film dokumentasi serta diorama tentang kepemimpinan Mayor Jendral Soeharto dalam operasi militer terpadu ini," ujarnya.

Museum Soeharto: Selasar Kesaktian Pancasila

Sedangkan di Selasar Kesaktian Pancasila menjelaskan faktor penentu keberhasilan bangsa Indonesia keluar dari bencana nasional akibat pengkhianatan Partai Komunis Indonesia dalam peristiwa G30S pada tahun 1965. Di mana berbekal Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (Supersemar) dari Presiden Soekarno, segera Pak Harto membubarkan PKI dan melarang ajaran Marxisme Komunisme.

Museum Memorial Jenderal Besar HM. SoehartoMuseum Memorial Jenderal Besar HM. Soeharto Foto: (Pradito Rida Pertana/detikcom)

"Beliau juga bertindak cepat untuk memulihkan stabilitas ekonomi, sosial, dan politik yang terjadi pasca tragedi nasional akibat kebiadaban PKI. Pak Harto berjasa besar dalam menyelamatkan bangsa Indonesia dari usaha kaum komunis untuk mengubah falsafah negara Pancasila," katanya.

Museum Soeharto: Selasar Masa Pembangunan

Selasar Masa Pembangunan menjelaskan Jalan sejarah mengantarkan Pak Harto tampil di pucuk kepemimpinan nasional. Pasca tragedi nasional G30S/PKI dan keberhasilannya memulihkan stabilitas nasional, membuat Soeharto menjadi tumpuan harapan bangsa Indonesia era Orde Baru.

"Para pengunjung dapat menyaksikan berbagai foto dan video serta visualisasi keberhasilan Pak Harto dalam menjalankan pemerintahannya pada masa Orde Baru," ujarnya.

"Pada bagian akhir ditampilkan pula visualisasi detik-detik bersejarah serta dokumen penting ketika Pak Harto menyatakan berhenti sebagai Presiden RI (21 Mei 1998)," imbuh Gatot.

Selain itu, di museum juga terdapat Gedung Notosudiro merupakan bangunan rumah tradisional masyarakat Jawa. Menurutnya, nama tersebut diambil dari nama eyang buyut Pak Harto.

"Bangunan ini terletak di belakang joglo dan merupakan tempat persinggahan para tamu dan keluarga. Pada bagian depan rumah terdapat perpustakaan yang berisi buku-buku tentang Pak Harto yang bisa dibaca ditempat oleh para pengunjung," katanya.

Museum Soeharto: Gedung Notosudiro

Sedangkan tepat di sisi timur Gedung Notosudiro terdapat sebuah sumur yang merupakan satu-satunya petilasan Soeharto. Pada masa itu, terdapat sebuah rumah kecil dengan sumur di sudut rumah.

"Sumur inilah yang menjadi saksi sejarah masa-masa kelahiran bayi yang kelak menjadi salah satu pemimpin besar Indonesia," pungkas Gatot.



Simak Video "Pria Asal Bantul Perkosa Anak Pacarnya Sampai Belasan Kali"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/ahr)