Kisah Polisi Kulon Progo Nyambi Jadi Mentor Petani Bikin Pestisida Alami

Kisah Polisi Kulon Progo Nyambi Jadi Mentor Petani Bikin Pestisida Alami

Jalu Rahman Dewantara - detikJateng
Minggu, 19 Jun 2022 22:29 WIB
Bripka Agus Gutama saat mengajari para petani membuat agen hayati penangkal hama di area persawahan Kalibawang, Kulon Progo, DIY, Jumat (17/6/2022).
Bripka Agus Gutama saat mengajari para petani membuat agen hayati penangkal hama di area persawahan Kalibawang, Kulon Progo, DIY, Jumat (17/6/2022). (Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJateng)
Kulon Progo -

Di balik kesibukannya sebagai anggota Polri, Bripka Agus Gutama masih menyempatkan waktu untuk mengajari para petani di pelosok Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) membuat agen hayati penangkal hama. Langkah ini ditempuh untuk membantu petani yang kesulitan mendapatkan pestisida kimia karena harganya yang terus melambung. Seperti apa kisahnya?

Pak Agus. Begitu warga Kalurahan Banjarharjo, Kapanewon Kalibawang, Kulon Progo biasa menyapanya. Bapak dua anak ini sudah 6 tahun bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Banjarharjo.

Banjarharjo sendiri terletak di ujung utara Kulon Progo, yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dari pusat Kota Jogja, jarak yang ditempuh berkisar 30 km atau 1 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.


Sebagai Bhabinkamtibmas, pria 42 tahun ini kerap berkeliling kampung untuk memastikan keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga. Tidak hanya itu saja, Agus ternyata juga masih membagi waktunya untuk menjadi mentor bagi para petani dalam hal pembuatan agen hayati atau semacam pestisida non kimia.

Aktivitas yang sudah dilakoni hampir setahun belakangan ini berawal dari keluhan petani tentang mahalnya harga pestisida kimia. Ditambah bahan kimiawi penangkal hama itu kekinian tidak terlalu manjur. Akibatnya hasil tanam tak maksimal sehingga perlu solusi konkrit untuk mengatasi persoalan tersebut.

"Awalnya kami menerima keluhan dari warga masyarakat, di kelompok tani-kelompok tani kami yang mengeluhkan bahwa hasil tanam dari para kelompok tani ini mengalami penurunan akibat adanya hama," ucap Agus saat ditemui di sela-sela aktivitasnya menjadi mentor di sebuah saung area persawahan Banjarharjo, Kalibawang, Jumat (17/6/2022).

"Selain itu di masa pandemi COVID-19 para petani kami merasa kesulitan dalam membeli ataupun mengolah lahan pertaniannya menggunakan pestisida yang harganya semakin meninggi. Oleh karena itu kami merasa prihatin dan berupaya untuk menangani hal tersebut," imbuhnya.

Upaya membantu petani itu diawali dengan mencari informasi tentang alternatif penangkal hama yang bersifat non kimia di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kalibawang. Di sinilah, muncul ide pemanfaatan salah satu agen hayati yaitu beauvaria bassiana.

Untuk diketahui, beauvaria bassiana merupakan salah satu cendawan atau jamur yang menguntungkan bagi berbagai tanaman. Cendawan ini memiliki kemampuan untuk menginfeksi beragam serangga yang menjadi hama tanaman tanpa menyebabkan penyakit tanaman atau merusak produk hasil tanaman.

"Setelah kami berkoordinasi dengan BPP Kapanewon Kalibawang, dan melaksanakan uji coba-uji coba terkait dengan agen hayati beauvaria bassiana. Hasilnya 95 persen beauvaria bassiana ini sangat baik dalam penanganan hama-hama tanaman milik para petani kami," ujarnya.

Ilmu berharga itu kemudian ditularkan kepada masyarakat. Hampir setiap pekan, Agus turun ke persawahan, menyambangi kelompok-kelompok tani, lalu mengajari mereka membuat sendiri agen hayati, sebagai alternatif pestisida kimia.

Laiknya guru yang mengajar murid-muridnya, Agus pun menjelaskan secara detail bagaimana langkah memproduksi pestisida alami tersebut. Ia juga menyiapkan sendiri alat-alat yang dibutuhkan.

Bripka Agus Gutama saat mengajari para petani membuat agen hayati penangkal hama di area persawahan Kalibawang, Kulon Progo, DIY, Jumat (17/6/2022).Bripka Agus Gutama saat mengajari para petani membuat agen hayati penangkal hama di area persawahan Kalibawang, Kulon Progo, DIY, Jumat (17/6/2022). Foto: Jalu Rahman Dewantara/detikJateng

Proses pembuatan

Adapun proses pembuatan agen hayati ini diawali dengan menyiapkan beras sebagai bahan utama. "Untuk cara pembuatan sendiri kami memerlukan bahan dan alat. Untuk bahan sendiri sangat mudah ditemukan di tengah masyarakat yaitu beras. Jadi hanya beras saja yang kita butuhkan," jelasnya.

Sebelum diproses, beras terlebih dulu dibersihkan. Selanjutnya dikukus selama 10 menit untuk kemudian didinginkan. Beras yang sudah sudah dingin itu lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik ukuran 0,5 kg. Namun isiannya tidak boleh lebih dari sepertiga plastik tersebut.

"Setelah sepertiga terisi kemudian kita lipat-lipat, kita isolasi dan kita kukus lagi selama setengah jam. Setelah itu kita campur antara media tadi dengan stater jamur. Kita campur dalam media berupa incase. Setelah dicampur kita diamkan di alat itu selama 10-14 hari. Setelah itu siap untuk dimplementasikan di lapangan, disemprotkan di lahan pertanian," terang Agus.

Lebih aman dan murah

Upaya yang dilakukan Agus untuk membantu para petani lepas dari ketergantungan pestisida kimia nampaknya membuahkan hasil. Hal itu dirasakan oleh Suranto, salah satu petani dari Kelompok Tani Margo Basuki, di Dusun Salam, Banjarharjo.

Ia menyebut penggunaan agen hayati ini lebih aman dibandingkan pestisida kimia. Beras produksi petani pun dirasa lebih enak.

"Terus terang penggunaan pestisida agen hayati ini ramah lingkungan. Kemudian hasil panenan, nasi lebih enak dirasakan dibandingkan dengan penggunaan bahan kimia," ujarnya.

"Kemudian yang lain, kita dalam penggunaan berlebihan itu tidak ada resiko, jadi tidak ada efek samping, lebih bermanfaat. Lebih banyak keuntungannya menggunakan agen hayati," sambungnya.

Dari segi biaya, penggunaan agen hayati ini kata Sutanto juga lebih ramah di kantong. Ini mengingat biaya produksi petani kebanyakan membengkak, salah satu faktornya karena harga pestisida yang terus naik.

"Untuk segi harga kita lebih murah. Karena akhir-akhir ini untuk pestisida kimia, harga lama kelamaan semakin naik sementara hama semakin kebal. Karena penggunaan kimia secara terus menerus hama itu semakin kebal. Namun kita dalam penggunaan agen hayati, pestisida bassiana ini hama lama kelamaan semakin berkurang populasinya dan sebagian juga mati, lama kelamaan akan kena jamur, kemudian jamur ini menular ke sesama hama dan akhirnya bisa mati," terangnya.

Suranto pun mengungkap perbedaan biaya produksi antara penggunaan agen hayati dengan pestisida kimia. Selisihnya disebut mencapai 100 persen.

"Untuk nominal jika diuangkan, setiap 1.000 meter penggunaan agen hayati mungkin biaya kisaran Rp 20.000. Namun untuk penggunaan pestisida kimia, tiap luasan 1.000 meter kita membutuhkan sekitar Rp 40.000 sampai Rp 60.000," ungkapnya.

Sementara itu Lurah Banjarharjo, Susanto mengatakan program pelatihan produksi agen hayati yang dijalankan Agus sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Yang paling mencolok menurutnya adalah peningkatan hasil tanam petani, khususnya padi pasca beralih ke pestisida alami tersebut.

"Program bapak Bhabinkamtibmas mengenai agen hayati atau beauvaria bassiana ini di masyarakat sangat-sangat dirasakan manfaatnya. Karena beberapa tahun yang lalu, atau beberapa bulan yang lalu sebelum menggunakan agen hayati ini produktivitasnya sangat rendah karena sudah kebanyakan menggunakan obat-obat kimia," ujarnya.

Ia menjelaskan sejauh ini sudah ada 7 kelompok tani di Banjarharjo yang telah beralih menggunakan agen hayati berkat program pelatihan tersebut.

"Untuk petani yang menggunakan ini sudah ada beberapa kelompok, dari 7 kelompok terutama petani-petani padi. Karena kegiatan ini memang sangat-sangat efektif. Karena setelah adanya pelatihan ini ada beberapa kali aplikasi, dan perkembangannya (hasil tanam) memang baik," ucapnya.



Simak Video "Jamu Gendong, Minuman Tradisional Berkhasiat, Kulon Progo "
[Gambas:Video 20detik]
(aku/aku)