Melihat Produksi Kertas Dluwang di Bantul

Melihat Produksi Kertas Dluwang di Bantul

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Jumat, 04 Mar 2022 01:10 WIB
Proses pembuatan kertas dluwang di Pedukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Rabu (2/3/2022).
Kertas dluwang hasil produksi perajin di Pedukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Rabu (2/3/2022). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng
Bantul -

Pernah mendengar kertas dluwang? Konon, dluwang merupakan cikal bakal kertas yang ada saat ini. Seperti apa cara pembuatannya?

detikJateng mendatangi salah seorang perajin kertas dluwang di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Indra Suroinggeno. Di rumahnya, Indra menekuni produksi kertas dluwang.

"Mulai memproduksi kertas dluwang ini sekitar 2 tahunan. Awalnya hanya dari kekaguman saja, bahwa kertas dluwang itu seumuran dengan lontar. Setelah relief candi dulu kita menulis itu kalau tidak lontar ya dluwang," kata Indra saat ditemui di rumahnya, Pedukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Bantul, Rabu (2/3/2022).


Pemilik museum wayang Beber Sekartaji ini menceritakan, sejak abad 8, kertas lontar dan dluwang digunakan untuk bahan pembuatan pakaian hingga karya sastra. Sehingga pembuatan kertas dluwang yang dia lakukan saat ini seperti merefleksikan kembali sejarah nusantara.

"Jadi paling tidak dari proses seperti itu mencipta laku," ucapnya.

Lebih lanjut, dia menilai tetap ada peminat kertas dluwang di tengah era globalisasi seperti saat ini. Untuk itu dia ingin melestarikannya dengan menyediakan kertas dluwang bagi kalangan yang benar-benar membutuhkannya.

"Kehidupan itu menurut saya tetap ada yang namanya hukum alam. Misal batik sekarang perkembangannya ada batik cap dan printing. Tapi di sisi lain pasti ada yang suka atau kangen dengan batik tulis. Nah untuk aksara Jawa ini, untuk kertas dluwang ini biasanya ada seniman yang ingin selembar dua lembar dan Dinas Kebudayaan juga kadang memesan," imbuhnya.

Selain itu, dia menilai dapat memproduksi kertas dluwang menjadi kebanggaan tersendiri. Mengingat dengan adanya kertas dluwang membuktikan bahwa bangsa Indonesia sudah mengenal kertas sejak lama.

"Sehingga ini juga bentuk kebanggaan kalau di sini punya kertas yang bisa bertahan mereka ratusan tahun dengan pengerjaan yang alami. Di situ kekuatan kita dan jadi bukti jika sebelum industri kertas masuk kita sudah punya kertas tempa sendiri," katanya.

Proses pembuatan kertas dluwang di Pedukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Rabu (2/3/2022).Proses pembuatan kertas dluwang di Pedukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Rabu (2/3/2022). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng

Cara membuat kertas dluwang

Indra menjelaskan pembuatan kertas dluwang menggunakan bahan baku pohon glugu (paper mulberry).

"Pertama kembangkan bibitnya kertas, selanjutnya memotong dan yang diambil kulit ketiganya dengan cara diklocopi. Terus direndam dulu minimal 1-2 hari jangan sampai 3 hari," paparnya.

"Setelah direndam baru ditempa, sekitar 1.000 kali. Kalau sudah selesai ditempa kita bungkus pakai daun pisang selama 3 hari agar lendir-lendir alami pembentuk kertas muncul," lanjutnya.

Proses pembuatan kertas dluwang di Pedukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Rabu (2/3/2022).Proses pembuatan kertas dluwang di Pedukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Rabu (2/3/2022). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng

Selanjutnya lembaran itu diangin-anginkan, dan setelah kering nanti tahap terakhir digosok menggunakan keong atau menggunakan batu halus. Dengan teknik itu akan menciptakan hasil kertas dluwang yang kualitasnya bagus.

"Nah, kalau sehari dapat 4 (lembar) sudah bagus sekali, tapi kan saya ulik-ulik sendiri dan pakai formula khusus juga ternyata bisa (lebih dari 4 lembar per hari)," katanya.

"Karena selembar kertas ukuran A4 kuarto itu bisa sekitar 1.000 pukulan (tempaan) dengan alat tempa dari bahan kuningan. Memang berat tapi kalau laku Jawa ini kalau sudah dijalani terasa ringan nantinya," imbuh Indra.

Proses pembuatan kertas dluwang di Pedukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Rabu (2/3/2022).Proses pembuatan kertas dluwang di Pedukuhan Kanutan, Kalurahan Sumbermulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Rabu (2/3/2022). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng

Harga jual kertas dluwang

Indra mengaku menjual kertas dluwang dengan hitungan per sentimeter.

"Kalau kebanyakan orang hitungannya per lembar pakai per sentimeter, per sentimeter Rp 75. Jadi dibayangkan saja kalau per lembar sudah Rp 117 ribu, itu kalau di Jawa Barat seperti itu," ujarnya.

Sedangkan Indra tidak menerapkan sistem tersebut.

"Kalau saya cuma memberitahu hitungannya per sentimeter dan total Rp 117 ribu per lembar, tapi monggo Rp 75 ribu saja tidak apa-apa. Jadi tidak saklek harganya harus segitu (menyesuaikan per sentimeter)," katanya.

Indra menambahkan, bahan pembuatan kertas dluwang di sejumlah daerah sama, hanya beda dalam penyebutan hasilnya. Seperti di Jawa Barat kertas dluwang bernama daluang, di Jawa Timur kertas delancang, dan di Yogya dluwang.

Dalam pembuatan kertas dluwang ini, Indra di bantu oleh Dwi Handoko (18). Dwi mengaku tertarik membantu membuat kertas dluwang.

"Kalau yang paling sulit itu proses penempaannya (kulit kayu), karena keras kan, itu yang bikin sulit," kata Dwi.



Simak Video "Bermodalkan Gunting, Mahasiswi Yogyakarta Melahirkan dan Buang Bayinya"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/rih)