Terpopuler Sepekan

Kisah Tragis Bocah Dila Tewas Disiksa 2 Kakak Sepupu di Kartasura

Tim detikJateng - detikJateng
Sabtu, 16 Apr 2022 02:47 WIB
Bocah Dila yang tewas dianiaya kakak sepupunya di Kartasura
Bocah Dila yang tewas dianiaya kakak sepupunya di Kartasura. (Foto: dok. Istimewa)
Solo -

Bocah perempuan yatim piatu berinisial UF (7 ) asal Desa Ngabeyan, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, tewas dengan luka lebam di sekujur tubuh, Selasa (12/4). Bocah yang akrab disapa Dila ini ternyata mengalami serangkaian penganiayaan dari dua kakak sepupunya.

Sebelum tewas, Dila ternyata sempat mendapatkan serangkaian penganiayaan dari kedua pelaku. Dua pelaku yakni Fajar (18) dan Galih (24) kini telah diamankan oleh aparat kepolisian.

Dila yang sudah tidak punya orang tua itu diasuh oleh tantenya, Kartini. Dila tinggal di rumah tantenya di Desa Ngabeyan, Kartasura, Kabupaten Sukoharjo.


Momen terakhir Dila sekolah

Guru TK Aisyiyah 2, Pro Agustin, mengatakan Dila sudah sepekan tidak masuk sekolah. Dila baru masuk sekolah lagi pada Selasa (12/4). Namun, saat itu sudah ada beberapa luka lebam pada beberapa bagian tubuh Dila.

"Pipinya dan semua tangannya sudah lebam. Saya tidak berani membuka bajunya, yang buka kepala sekolah," ujar Agustin, Selasa (12/4). Kepala TK Aisyiyah 2, Rusmiyati Hidayah, menambahkan Dila mengaku dipukul kakaknya (F) dengan kayu karena ngeyel.

Saat masuk sekolah, setelah tidak masuk selama sepekan, Dila susah berjalan karena kakinya luka. "Tadi kaki yang kanan luka, tidak bisa pakai sandal. Katanya luka sudah lama," kata Rusmiyati. Namun, dia tidak menjelaskan secara detail tentang luka itu.

Sebelum tewas, Dila dijemput pelaku di sekolahnya, Selasa (12/4). Rusmiyati sempat menasihati F agar berhenti menganiaya Dila. Sebab, Rusmiyati mendapati beberapa bagian tubuh Dila lebam.

"Kakaknya ada di luar (sekolah) kemudian saya panggil. Saya tanya, ini kenapa? Dia jawab dipukul, karena ngeyel (tidak menurut)," kata Rusmiyati, Selasa (12/4).

Menurut Rusmiyati, kedatangan F ke sekolah untuk menjemput Dila terbilang tidak biasa. "Biasanya tidak pernah jemput," ujar dia.

Saat menjemput Dila, F sempat ditegur Rusmiyati. "Ini tidak benar, ini namanya penganiayaan, kalau nanti divisum kamu bisa masuk penjara," kata Rusmiyati kepada F.

"Saya juga berpesan tadi, 'mas sudah sekali ini saja, ini anak-anak, mau kamu apakan pun dia tidak bisa balas'," imbuh Rusmiyati.

Detik-detik kematian Dila

Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan mengungkapkan, kejadian bermula ketika Fajar menganiaya Dila di lantai dua rumahnya pada Selasa (12/4) sekitar pukul 11.00 WIB.

"Saat saksi Amirotu (kakak ipar Fajar) di kamar di lantai 1, dia mendengar tangisan histeris korban di lantai 2," kata Wahyu, Selasa (12/4). Saksi pun ke lantai 2 dan mendapati Dila sudah lemas.

"Kemudian saksi tanya ke pelaku 'ini kenapa' dan dijawab 'tak banting, dia mengambil uangku'," ungkap Wahyu.

Setelah itu, Amirotu meminta pelaku Fajar membawa Dila turun. Sesampainya di lantai 1, Dila pamit masuk kamar karena ingin beristirahat. Menurut AKBP Wahyu, saat itu Dila terus mengeluh sakit di bagian pipi kanan dan punggungnya.

Selasa (12/4) sekitar pukul 16.00 WIB, Wahyu menjelaskan, saksi membangunkan Dila yang tidur di kamar. "Namun tidak ada respons. Bibir korban pucat biru," terang Wahyu. Kemudian, saksi menelepon suaminya agar segera pulang dan membawa Dila ke rumah sakit.

"Korban dibawa ke RS Muhammadiyah Kartasura, setelah diperiksa ternyata sudah meninggal. Kemudian korban dibawa pulang," kata Wahyu.

Polisi membawa jenazah bocah yang tewas dianiaya di Kartasura, Selasa (12/4/2022).Polisi membawa jenazah bocah yang tewas dianiaya di Kartasura, Selasa (12/4/2022). Foto: Ari Purnomo/detikJateng

Kisah hidup bocah Dila

Ketua RT 1 Dukuh Blateran Desa Ngabeyan, Suraji MS mengatakan Dila anak dari adik perempuan Kartini (ibu tersangka). Ayahnya meninggal sejak Dila masih di kandungan. Karena ibunya tidak mampu merawat, Dila diangkat anak oleh Kartini sejak umur 35 hari.

Dila kemudian diasuh Kartini. Sedangkan ibu Dila pergi. "Disebut anak angkat atau anak kandung (Kartini) tidak apa-apa, itu (Dila) sudah masuk KK keluarganya (Kartini)," kata Suraji, Rabu (13/4).

Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan menambahkan, suami Kartini sudah lama meninggalkan keluarganya. "Ibunya (Kartini) sudah tiga bulan merantau (ke Jakarta) untuk mencukupi kebutuhan," kata Wahyu saat jumpa pers di Mapolres Sukoharjo, Rabu (13/4).

Selama Kartini merantau, Dila tinggal bersama Fajar dan Galih beserta istrinya. "G (Galih) anak pertama, sudah menikah. F (Fajar) adik kandungnya," ujar Wahyu. Galih berstatus wiraswasta, sedangkan Fajar masih pelajar.

Berbagai siksaan 2 pelaku ke Dila

Belakangan, polisi juga menetapkan kakak Fajar, Galih (24), sebagai pelaku penganiayaan. Keduanya telah ditahan Polres Sukoharjo, Rabu (13/4/2022).

AKBP Wahyu mengungkapkan, Fajar dan Galih menganiaya Dila sejak 3 bulan lalu. Galih pernah memukul kepala Dila dengan tangan lebih dari sekali pada Februari lalu. "Alasannya korban tidak mau belajar hafalan Al-Qur'an, tapi malah bermain," kata Wahyu, Rabu (13/4).

Galih juga menganiaya Dila menggunakan gagang pel lantai. Dila juga pernah diikat dengan rafia. "Tapi korban bisa kabur. Kemudian korban diajak pulang dan dipukul dengan seblak kasur dari rotan dan diikat lagi dengan rafia," imbuh Wahyu.

Sedangkan Fajar pernah memukul Dila dengan tangan kosong maupun dengan potongan bambu. Selasa (12/4) lalu, Fajar menendang Dila hingga terjatuh dan kepala belakangnya terbentur lantai. Siksaan terakhir itu menyebabkan Dila meninggal.

Galih mengaku menganiaya Dila dengan alasan bandel. "Sudah diberi uang jajan tapi masih ambil uang di warung saya," dalih dia saat dihadirkan dalam jumpa pers di Mapolres Sukoharjo, Rabu (13/4).

"Dulu saya sempat digitukan (dianiaya) sama orang tua," ujar Galih.

Niat pelaku tutupi kematian Dila

Selasa (12/4) sore lalu, Fajar sempat ke rumah Ketua RT 1 Blateran Suraji. Dia hendak meminjam keranda untuk memandikan jenazah. Karena curiga, Suraji dan istrinya mendatangi rumah Fajar. Kepada Suraji, Fajar berdalih Dila meninggal karena terjatuh dari lantai dua.

"Kalau terjatuh pasti warga tahu, wong di samping rumahnya itu ada pekerja yang merenovasi rumah," kata Suraji. Setelah didesak, Fajar mengakui perbuatannya.

"Warga sempat emosi, ada yang mau membakar (rumah), tetapi bisa dicegah," imbuh Suraji.

2 pelaku penyiksa bocah Dila hingga tewas di Mapolres Sukoharjo, Rabu (13/4/2022).2 pelaku penyiksa bocah Dila hingga tewas di Mapolres Sukoharjo, Rabu (13/4/2022). Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng

Kondisi jasad Dila memprihatinkan

Menurut Suraji, banyak lebam di sekujur jenazah Dila. "Saat saya lihat itu sekujur tubuhnya ada lebam-lebam, di kaki, di tangan, di punggung. Saya tidak tega melihatnya," ungkap Suraji saat ditemui wartawan di rumahnya, Rabu (13/4).

Suraji menambahkan, dokter yang mengautopsi jenazah Dila bahkan ikut syok. "Ada 10 dokter yang keluar dari ruangan usai melakukan autopsi. Ada (dokter) yang pingsan karena tidak tega mengetahui kerusakan organ dalam jenazah," urainya.

Mendapat kabar Dila meninggal, Kartini langsung pulang dari Jakarta dengan mobil travel. Kartini terus menangis saat mengetahui anak angkatnya akan dimakamkan di Astana Laya Tegalan, sekitar 200 meter dari rumahnya, Rabu (13/4) sekitar pukul 10.00 WIB.

Kartini juga sempat membopong jenazah Dila sebelum dimasukkan ke liang lahat. Begitu prosesi pemakaman berlangsung, Kartini pun pingsan.

Jeratan hukum bagi kedua pelaku

Tim penyidik Polres Sukoharjo masih terus mendalami kasus kematian Dila alias Dila (7), bocah Kartasura yang tewas akibat disiksa kakak sepupunya. Polisi terus memeriksa bukti dan saksi untuk menjerat kedua tersangka.

Polisi kini telah memanggil beberapa saksi yang dianggap mengetahui soal penyiksaan itu. Keterangan saksi lain masih diperlukan kendati kedua tersangka sudah mengakui perbuatannya di hadapan penyidik.

"Sampai hari ini sudah ada lima orang yang kami periksa, tersangka G dan F, kemudian adik tersangka, dan juga warga," terang Kapolres Sukoharjo AKBP Wahyu Nugroho Setyawan saat dihubungi detikJateng, Kamis (14/4).

Kini, kedua tersangka harus menghadapi jeratan sangkaan kejahatan yang diatur dalam pasal 80 ayat 3 juncto Pasal 76C UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman 15 tahun penjara.

Sedangkan kakaknya, Galih disangka dengan pasal serupa dan/atau pasal 351 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan dengan ancaman 3 tahun 6 bulan penjara.



Simak Video "Mobil Bawa Anggota DPRD Solo Tabrak Bocah di Sulut!"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/aku)