Wayang kulit yang merupakan Budaya asli Indonesia sejak dahulu, kini mulai jarang ditemukan. Wayang kulit yang dulunya sangat masif, kini terkesan 'eksklusif' untuk kalangan tertentu.
Biasanya, 'boneka' yang terbuat dari kulit sapi atau kambing ini sering ditampilkan menjadi pertunjukan hiburan rakyat. Dulu, pertunjukannya begitu populer di kalangan masyarakat, terutama ketika syukuran (selamatan) dan hajatan.
Pada zaman dahulu, "nanggap wayang" merupakan sesuatu yang dapat dibanggakan bagi masyarakat-masyarakat, terlebih lagi saat mereka menikah atau hajatan.
Tak hanya sebagai hiburan, wayang juga sempat dijadikan sebagai media dakwah di masa Wali Songo berkedudukan di Jawa Tengah. Namun, budaya yang telah diakui UNESCO pada 7 November 2003 ini, mulai tergeser karena perkembangan zaman.
Dalam frekuensi satu tahun, belum tentu ada satu momen nanggap wayang atau mengadakan pertunjukan wayang yang biasanya banyak diminati di desa. Media dakwah dan syiar agama juga kini mulai digantikan oleh metode lainnya.
Menurut Slamet, seorang pemerhati wayang, kini media dakwah sudah berkembang pesat dan telah diurus oleh lembaga-lembaga keagamaan yang ada.
"Tapi dengan berkembangnya zaman kan sekarang syiar-syiar agama sudah ada majelis-majelis, lembaga-lembaga keagamaan yang menyiarkan itu," ujar Slamet, seorang pemerhati wayang ketika ditemui detikJateng di rumahnya kawasan Gabahan, Sonorejo, Sukoharjo, pada Jumat (08/12/2023).
Sehingga kini, untuk menjaga kelestarian wayang harus ada upaya pengenalan yang lebih menarik untuk ke generasi penerus.
Berikut ini beberapa fakta wayang yang wajib diketahui, seperti dirangkum detikJateng.
Benarkah Asli Jawa?
Terdapat dua pandangan mengenai asal usul dari kesenian wayang kulit, yakni pandangan menurut kelompok India dan Jawa. Akan tetapi, pandangan kelompok Jawa memiliki bukti yang lebih kuat dibandingkan pandangan kelompok India.
Kelompok India
Berdasarkan jurnal "Menelusuri Asal Usul Wayang Kulit Sebagai Warisan Budaya di Indonesia" (2023) karya Samodro, dkk, terdapat teori bahwa wayang berasal dari kebudayaan bangsa India.
Teori tersebut menyebutkan bahwa wayang kulit diciptakan berdasarkan proses Indianisasi di Tanah Jawa ketika pendatang dari India mulai berdatangan ke Jawa. Sebab, cerita di pertunjukan wayang yang paling dikenal adalah Lakon Mahabarata dan Ramayana yang dipercaya berasal dari India.
Kelompok Jawa
Sementara itu, masih dalam sumber yang sama, dalam pandangan kelompok Jawa menyebut bahwa wayang kulit ada berdasarkan sejarah Raja Jayabaya dari Kediri yang dipercaya sebagai pencipta wayang kulit. Hal ini berdasarkan temuan sejumlah prasasti yang bisa menjadi bukti bahwa wayang kulit berasal dari Tanah Jawa.
Berdasarkan kedua pandangan tersebut, dapat diartikan bahwa pandangan kelompok Jawa berdasarkan teori serta bukti yang ditemukan lebih akurat dibandingkan dengan pandangan India yang hanya berdasarkan teori Indianisasi.
Bahan Pembuatan Wayang
Menurut Kitab Centini, kesenian wayang kulit awalnya diciptakan oleh Raja Jayabaya dari Kediri. Wayang pun terus disempurnakan bahan pembuatannya dari masa ke masa, mulai dari Daun Lontar hingga Kulit Hewan.
Daun Lontar dan Kertas
Awalnya wayang dibuat menggunakan daun lontar dengan meniru relief dari cerita Ramayana yang ada di Candi Penataran Blitar. Kemudian pertunjukan wayang mulai diiringi alunan gamelan laras slendro.
Hal tersebut membuat wayang yang bahan dasar awalnya dari daun lontar pun diubah menggunakan kertas dan mulai diberi warna sesuai martabat lakon.
Kulit Hewan
Kemudian, pembuatan wayang juga berubah ketika Wali Songo mulai berdakwah di Pulau Jawa. Diketahui, Wali Songo merupakan tokoh yang memulai penggunaan wayang sebagai media dakwahnya.
Bahan pembuatan wayang pun diubah dari bahan kertas menjadi kulit kerbau. Namun, karena semakin sulit didapat, kulit kerbau akhirnya diganti menjadi kulit sapi atau kambing di masa kini.
(cln/apu)