Wayang Krucil dalam Tradisi Nyadran Nganjuk, Warisan Ritual Sarat Makna

Wayang Krucil dalam Tradisi Nyadran Nganjuk, Warisan Ritual Sarat Makna

Eka Fitria Lusiana - detikJatim
Minggu, 15 Feb 2026 08:30 WIB
Wayang Krucil dalam Tradisi Nyadran Nganjuk, Warisan Ritual Sarat Makna
Ilustrasi Pertunjukan wayang Krucil. (Foto: Achmad Niam Jamil)
Nganjuk -

Pagelaran Wayang Krucil menjadi salah satu rangkaian penting dalam Tradisi Nyadran di Desa Sonoageng, Kabupaten Nganjuk. Kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sarat makna ritual dan simbolik yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur.

Keberadaan Wayang Krucil dalam tradisi Nyadran menegaskan kuatnya relasi antara seni pertunjukan dan praktik budaya masyarakat Jawa. Cerita yang diangkat mengandung pesan moral dan nilai edukatif, sehingga pertunjukan ini menjadi sarana transmisi nilai budaya lintas generasi. Melalui pagelaran tersebut, masyarakat tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga menjaga kesinambungan identitas budaya lokal.

Sejarah Wayang Krucil

Wayang merupakan salah satu warisan budaya Indonesia dengan berbagai jenis, salah satunya Wayang Krucil. Wayang ini terbuat dari kayu pipih, sementara bagian tangan dibuat dari kulit yang digerakkan oleh dalang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karakter Wayang Krucil kerap dianggap lebih "bernyawa" dibanding wayang kulit. Kesenian ini tercatat dalam Serat Sastramiruda dan disebut diciptakan oleh Pangeran Pekik di Surabaya pada tahun 1571 Saka (1648 Masehi).

Secara visual, Wayang Krucil sering disamakan dengan wayang klitik karena sama-sama menggunakan konstruksi kayu datar. Namun, perbedaan utama terletak pada narasi cerita. Wayang Krucil mengangkat kisah Panji, seperti Panji Asmorobangun, Serat Damarwulan, Panji Kudalaleyan di Pajajaran, hingga Prabu Brawijaya di Majapahit. Cerita tersebut berbeda dari Ramayana atau Mahabharata yang lebih populer di masyarakat.

ADVERTISEMENT
Dalang Ki Kondo Brodiyanto (kanan) mementaskan wayang krucil dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (27/6/2025). Tradisi ruwatan pada tahun baru penanggalan Jawa 1 Suro melalui pementasan wayang krucil tersebut diikuti ratusan peserta dari sejumlah daerah sebagai upaya pembersihan diri dan menangkal hal buruk sekaligus menjadi hiburan gratis untuk masyarakat. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/barDalang Ki Kondo Brodiyanto (kanan) mementaskan wayang krucil dengan lakon Murwakala pada tradisi ruwatan di Kota Kediri, Jawa Timu Foto: ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani

Meski tidak seterkenal wayang kulit, Wayang Krucil pernah mengalami masa keemasan pada era 1960-an. Pertunjukan ini biasanya sarat pesan kebudayaan, termasuk nilai sejarah, etika, moral, dan hiburan edukatif.

Dalam pementasan, Wayang Krucil tidak menggunakan kelir seperti wayang kulit. Wayang ditancapkan pada kayu atau bambu panjang berlubang, dan setiap adegan diiringi tembang macapat yang dibawakan dalang.

Kini, Wayang Krucil tergolong langka karena tergeser kesenian lain. Namun, kesenian ini masih dapat dijumpai setiap pelaksanaan Tradisi Nyadran di Desa Sonoageng.

Wayang Krucil dalam Tradisi Nyadran Desa Sonoageng

Pertunjukan Wayang Krucil menjadi salah satu acara yang paling dinantikan dalam Tradisi Nyadran. Selain sebagai tontonan, pagelaran ini memberikan edukasi melalui kisah yang mengandung nilai moral dan keagamaan yang menginspirasi masyarakat.

Tradisi Nyadran merupakan ritual keagamaan dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Awalnya, tradisi ini dilakukan masyarakat Jawa sebagai bentuk penghormatan kepada arwah leluhur. Setelah masuknya ajaran Islam melalui Walisongo, tradisi ini mengalami transformasi menjadi ritual budaya bernuansa Islam.

Tradisi Nyadran di SidoarjoTradisi Nyadran di Jawa Timur Foto: Suparno

Di Desa Sonoageng, Nyadran digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Mbah Sa'id, tokoh pembuka desa yang berasal dari Surajada dan berperan menyebarkan agama Islam. Tradisi ini diawali dengan ziarah ke makam leluhur, persembahan sesaji, dan doa bersama yang dipimpin tokoh agama.

Kabupaten Nganjuk dikenal sebagai salah satu daerah yang masih melestarikan Nyadran secara konsisten. Di Desa Sonoageng, tradisi ini bahkan berlangsung sekitar 20 hari dan diikuti masyarakat dengan antusias. Pelaksanaan Nyadran juga dimeriahkan berbagai kesenian tradisional seperti jaranan, kentrung, orkes, layar tancap, hingga pasar malam.

Makna Tradisi Nyadran bagi Masyarakat Jawa

Tradisi Nyadran memiliki makna mendalam bagi masyarakat Jawa, mencakup aspek budaya, spiritual, dan sosial. Tradisi ini tidak hanya menjadi identitas kearifan lokal, tetapi juga memiliki fungsi sosial yang kuat.

Berdasarkan jurnal UIN Mahmud Yunus Batusangkar berjudul "Makna dan Fungsi Kearifan Budaya Lokal Tradisi Nyadran Bagi Masyarakat Sobowono", Nyadran memiliki beberapa makna utama:

1. Pelestarian Tradisi

Nyadran menjadi sarana pelestarian budaya dan pewarisan nilai kepada generasi muda. Tradisi ini memperkuat identitas budaya masyarakat serta menjaga warisan leluhur tetap hidup.

2. Ungkapan Rasa Syukur kepada Tuhan

Nyadran juga menjadi bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesejahteraan dan ketentraman yang dirasakan masyarakat. Ritual ini mencerminkan spiritualitas masyarakat yang terintegrasi dengan budaya.

3. Interaksi Sosial dan Gotong Royong

Tradisi Nyadran mempererat hubungan sosial melalui kegiatan seperti kembul bujono atau makan bersama. Momen ini menciptakan suasana kebersamaan, memperkuat solidaritas, dan menumbuhkan nilai gotong royong serta harmoni sosial.

Artikel ini ditulis Eka Fitria Lusiana, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.




(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads