Pintu Butulan Keraton, Saksi Bisu Banjir yang Nyaris Tenggelamkan Solo

Bayu Ardi Isnanto - detikJateng
Kamis, 20 Jan 2022 11:58 WIB
Pintu butulan Keraton Solo.
Pintu butulan Keraton Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng)
Solo -

Pada 55 tahun yang lalu, banjir besar pernah melumpuhkan roda pemerintahan dan perekonomian Kota Solo. Jebolnya sejumlah tanggul membuat tiga perempat wilayah Kota Solo tergenang banjir.

Ketinggian air bahkan mencapai empat meter di sejumlah tempat. Wilayah Keraton Kasunanan Surakarta yang dikelilingi benteng-benteng tinggi pun seakan menjadi kedung (lubuk).

Sejarah banjir 1966 di Kota Bengawan tersebut melahirkan peninggalan berupa dua pintu tembusan, yakni di kampung Gambuhan, sisi barat laut Baluwarti serta di tembok selatan Baluwarti. Sampai sekarang, kedua tembusan tersebut terkenal sebagai pintu butulan.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo, menceritakan pintu keraton saat itu hanya dibuka di sisi utara atau lawang gapit lor. Memang setiap malam, tiga pintu lainnya di timur, selatan dan barat dikunci.

"Banjir 1966 itu kan malam hari, pintu-pintu keraton dikunci, hanya utara yang buka. Karena tidak bisa keluar maka tembok itu dibutul atau dijebol," kata Dipo kepada detikJateng, Minggu (19/12/2021).

Masyarakat keluar lewat Gambuhan karena lokasi tersebut tidak begitu tergenang air. Di luar tembok Gambuhan itu pun, air tidak begitu menggenang.

"Di Gambuhan itu relatif tanahnya tinggi, tidak kena genangan. Di Kalilarangan (barat pintu butulan) kan sebagian juga nggak kena banjir," ujar dia.

Dari segi bentuk, pintu butulan lebih pendek dan sempit. Tingginya sekitar 160 cm dan lebarnya sekitar 80 cm.

Karena ukurannya yang sempit, pintu tersebut hanya bisa dilewati satu sepeda motor secara bergantian. Saat melintas pun, orang biasanya harus menunduk agar kepalanya tidak terbentur.

Pintu butulan Keraton Solo.Pintu Butulan Keraton Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng)

Setelah banjir surut dan kondisi telah pulih, keberadaan pintu butulan itu tak diperbaiki. Rupanya pihak keraton menjadikannya sebagai sebuah penanda sejarah.

"Setelah selesai banjir memang tidak dikembalikan lagi, untuk tetenger atau penanda. Sekarang masih menjadi jalan aternatif warga sekitar," kata dia.

Masyarakat diminta waspada ketika melintasi pintu butulan ini, terutama jika mengarah keluar Baluwarti. Sebab Jalan Reksoniten yang berdampingan dengan tembok keraton merupakan jalan yang cukup ramai.

Pintu tembus di selatan

Sementara itu, di tembok sisi selatan Baluwarti juga terdapat pintu tembusan yang menghubungkan Baluwarti dengan Kampung Gurawan, Kelurahan Pasar Kliwon. Sejarah pintu ini juga berawal dari banjir 1966.

Warga Gurawan RT 02 RW 07, Sugeng Sutarto (64) mengatakan banjir 1966 itu juga membuat separuh tembok sisi selatan roboh. Sejak saat itu, bagian tembok roboh ditutup dengan bambu.

"Dulu setengah tembok ke timur ini ambruk karena banjir. Warga sini mengungsi ke pabrik barat situ," kata Sugeng yang saat itu masih duduk di bangku SD.

Kemudian sekitar tahun 1985, giliran sebagian tembok yang barat roboh karena banjir. Baru setelah kejadian itu, seluruh tembok di sisi selatan keraton dibangun kembali.

"Saya ingat tembok ini roboh kemudian beberapa waktu kemudian keraton kebakaran, jadi sekitar 1984-1985 lah itu. Kemudian tembok ini dibangun semua, tapi tidak setinggi aslinya," ujar dia.

Selama tembok belum diperbaiki, warga Baluwarti bisa leluasa menuju Gurawan, begitu pula sebaliknya. Saat pembangunan tembok, warga kemudian meminta keraton untuk tetap memberi akses jalan di tembok sisi selatan.

"Sebetulnya nggak boleh ada pintu, soalnya dulu mobil pun bisa keluar masuk lewat sini. Tapi akhirnya diperbolehkan untuk darurat, makanya cuma dibuat kecil, untuk lewat satu motor," katanya.

Pintu butulan Keraton Solo.Pintu butulan Keraton Solo. (Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikJateng)

Lurah Baluwarti, Danang Agung Warsiyanto, mengatakan keberadaan dua akses pintu tembusan itu banyak dimanfaatkan warga sekitar. Sebab ketika malam hari, seluruh pintu Baluwarti harus ditutup.

"Setelah pukul 22.00 WIB, pintu-pintu Baluwarti ditutup. Hanya pintu utara yang masih dibuka, itu pun hanya dibuka sedikit, ada penjaganya. Makanya warga banyak menggunakan butulan sebagai akses keluar masuk," ujar Danang.

Terkait sistem keamanan, Danang menilai selama ini keberadaan pintu butulan tidak dipermasalahkan. Menurutnya, masyarakat pun masih selalu melakukan ronda malam untuk menjaga kampung.

"Kalau keamanan, di situ sudah ada CCTV juga. Warga kampung pun masih aktif ronda malam. Di pintu utara pun penjaganya banyak, orang keluar masuk pasti diketahui," tutupnya.



Simak Video "Keraton Solo Adakan Kirab Bawa Seribu Tumpeng Dan Pawai Lampu"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/sip)