Tak Banyak Yang Tahu, Ternyata Keraton Jogja Punya 21 Gamelan Pusaka

Tim detikjateng - detikJateng
Kamis, 20 Jan 2022 11:43 WIB
Gamelan Kanjeng Kiai Nagawilaga dalam perayaan Sekaten.
Gamelan Kanjeng Kiai Nagawilaga dalam perayaan Sekaten. (Foto: dok laman resmi Keraton Jogja)
Jogja -

Gamelan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Keraton Jogja. Tahukah kamu, Keraton Jogja bahkan memiliki 21 perangkat gamelan yang memiliki sejarah dan kegunaan masing-masing.

Banyak dikenal sebagai alat musik tradisional Jawa, gamelan juga menjadi satu di antara berbagai benda pusaka di Keraton Jogja. Gamelan sendiri merupakan seperangkat ansambel yang memiliki tangga nada pentatonis dalam sistem tangga nada slendro dan pelog. Masyarakat Jawa menyebut gamelan sebagai gangsa yang merupakan akromin dari tiga sedasa (tiga dan sepuluh).

Tiga sedasa merujuk pada elemen pembuat gamelan berupa perpaduan tiga bagian tembaga dan sepuluh bagian timah. Perpaduan tersebut menghasilkan perunggu, yang dianggap sebagai bahan baku terbaik untuk membuat gamelan.

Dikutip dari laman resmi Keraton Jogja, Keraton Jogja memiliki sekitar 21 perangkat gamelan yang dikelompokkan menjadi dua, yakni Gangsa Pakurmatan dan Gangsa Ageng.

"Gangsa Pakurmatan dimainkan untuk mengiringi Hajad Dalem atau upacara adat keraton. Gangsa Pakurmatan terdiri dari Kanjeng Kiai Guntur Laut, Kanjeng Kiai Kebo Ganggang, Kanjeng Kiai Guntur Madu, Kanjeng Kiai Nagawilaga, dan Gangsa Carabalen," demikian keterangan di laman resmi Keraton Jogja, seperti dikutip detikJateng.

  • Kanjeng Kiai Guntur Laut atau disebut juga Gangsa Monggang hanya dimainkan dalam upacara kenegaraan yang penting seperti Jumenengan (upacara penobatan) Sultan, menyambut tamu yang sangat terhormat di keraton, pernikahan kerajaan, dan Garebeg.
  • Kanjeng Kiai Kebo Ganggang atau disebut pula Gamelan Kodhok Ngorek biasa dimainkan bersama Kanjeng Kiai Guntur Laut. Seperti pada Jumenengan Sultan dan Garebeg.
  • Kanjeng Kiai Sekati yang terdiri dari dua perangkat yakni Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga. Gamelan Sekati khusus dimainkan pada perayaan Sekaten.
  • Gangsa Carabalen pada masa lalu berfungsi antara lain untuk menyambut kedatangan tamu keraton, mengiringi latihan baris-berbaris prajurit putri, dan Garebeg.

"Berbeda dengan Gangsa Pakurmatan, Gangsa Ageng dimainkan sebagai pengiring pergelaran seni budaya keraton. Selain itu, Gangsa Ageng memiliki instrumen lebih lengkap dibanding Gangsa Pakurmatan," tulis Keraton Jogja yang dikutip detikJateng dari laman resmi keraton.

Gangsa Ageng yang dimiliki Keraton Jogja antara lain;

  • Kanjeng Kiai Surak, merupakan gamelan yang dibawa oleh Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengku Buwono I) saat masih berperang melawan VOC. Saat itu, gamelan ini dimainkan untuk menggugah semangat juang para prajurit.
  • Kanjeng Kiai Kancil Belik, dibawa dari Kasunanan Surakarta setelah perjanjian Giyanti. Gamelan yang berlaras pelog ini ditabuh untuk mengiring kedatangan Sultan pada upacara Ngabekten, mengiringi Krama Dalem (pernikahan Sultan), dan Supitan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom (Putra Mahkota).
  • Kanjeng Kiai Guntur Sari, merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Gamelan berlaras pelog ini digunakan untuk mengiringi tari Beksan Trunajaya, Hajad Dalem Supitan dan Tetesan, dan Prajurit Langenastra saat Grebeg Mulud.
  • Kanjeng Kiai Marikangen merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono III. Pada masa lalu gamelan berlaras slendro ini digunakan untuk mengiringi prajurit putri Langenkusuma menuju alun-alun untuk berlatih perang.
  • Kanjeng Kiai Panji dan Kanjeng Kiai Pusparana merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono V. Kanjeng Kiai Panji berlaras pelog dan Kanjeng Kiai Pusparana berlaras slendro.
  • Kanjeng Kiai Madukintir dan Kanjeng Kiai Siratmadu, merupakan peninggalan masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Keduanya dibuat atas prakarsa Pangeran Purubaya, yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, pada tahun 1901.
  • Kanjeng Kiai Medharsih dan Kanjeng Kiai Mikatsih merupakan peninggalan masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII, kemungkinan beliau dapatkan ketika masih menjadi putra mahkota. Kanjeng Kiai Medharsih memiliki laras slendro sedang Kanjeng Kiai Mikatsih memiliki laras pelog.
  • Kanjeng Kiai Harjanagara dan Kanjeng Kiai Harjamulya merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Kanjeng Kiai Harjanegara memiliki laras slendro sedang Kanjeng Kiai Harjamulya memiliki laras pelog.
  • Kanjeng Kiai Madumurti dan Kanjeng Kiai Madu Kusumo merupakan pemberian Li Jing Kim kepada Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1930. Li Jing Kim merupakan seorang warga Yogyakarta keturunan Cina yang sangat mencintai budaya Jawa.
  • Kanjeng Kiai Sangumulya dan Kanjeng Kiai Sangumukti dibuat pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tahun 1998. Kanjeng Kiai Sangumulya berlaras pelog sedang Kanjeng Kiai Sangumukti berlaras slendro.

"Kecuali Kanjeng Kiai Kancil Belik dan Kanjeng Kiai Surak, penempatan Gangsa Ageng dirotasi tiap beberapa tahun untuk memastikan semuanya diperhatikan dan dirawat dengan baik. Sedang Kanjeng Kiai Kancil Belik selalu diletakkan di Gedhong Gangsa Lor, dan Kanjeng Kiai Surak, karena lebih tua, diletakkan di Gedhong Gangsa Kidul," tulis Keraton Jogja yang dikutip detikJateng dari laman resmi keraton.

Tiap hari Jumat, salah satu dari gamelan ini akan dibersihkan dan diperiksa secara bergilir oleh Abdi Dalem Kanca Gendhing. Apabila ditemukan kerusakan, maka perbaikan segera dilakukan. Sedang gamelan yang tidak dapat diperbaiki kembali, akan dilebur untuk kemudian dibuat menjadi baru kembali tanpa mengubah unsur logam pembuatnya.

"Hingga saat ini, di tengah perkembangan alat-alat musik modern, gamelan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari Keraton Yogyakarta. Perpaduan sempurna antara denting lembut dan dentum megah yang dihasilkan oleh logam perunggu bermutu prima itu selalu menjiwai setiap upacara kerajaan dan memberi warna pada setiap pergelaran seni budaya di Keraton Yogyakarta," tulis Keraton Jogja yang dikutip detikJateng dari laman resmi keraton.



Simak Video "Kagumnya Presiden Jerman dengan Tarian Beksan Lawung Keraton Yogya"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/aku)