Bantul dan Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro di Gua Selarong

Bantul dan Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro di Gua Selarong

Tim detikJateng - detikJateng
Kamis, 20 Jan 2022 11:29 WIB
Gerbang masuk pusat Kabupaten Bantul, Senin (29/11/2021).
Gerbang masuk pusat Kabupaten Bantul, Senin (29/11/2021). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng)
Bantul -

Bantul tak bisa dilepaskan dari sejarah Jogja sebagai kota perjuangan. Sehingga ada banyak catatan kepahlawanan dari Bantul. Apa saja?

Dikutip dari website Pemkab Bantul, kisah kepahlawanan antara lain perlawanan Pangeran Mangkubumi di Ambar Ketawang, upaya pertahanan Sultan Agung di Pleret, dan perjuangan Pangeran Diponegoro di Selarong. Kemudian kisah perjuangan pionir penerbangan Indonesia, Adisutjipto,di mana pesawat yang ditumpanginya jatuh ditembak Belanda di Desa Ngoto.

Peristiwa penting lainnya adalah Perang Gerilya melawan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman (1948), yang banyak bergerak di sekitar wilayah Bantul. Wilayah ini pula yang menjadi basis Serangan Oemoem 1 Maret (1949) yang dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX.


Awal pembentukan wilayah Kabupaten Bantul adalah perjuangan gigih Pangeran Diponegoro melawan penjajah bermarkas di Selarong sejak tahun 1825 hingga 1830. Seusai meredam perjuangan Diponegoro, Pemeritah Hindia Belanda kemudian membentuk komisi khusus untuk menangani daerah Vortenlanden yang antara lain bertugas menangani pemerintahan daerah Mataram, Pajang, Sokawati, dan Gunungkidul. Kontrak Kasunanan Surakarta dengan Kesultanan Yogyakarta dilakukan baik hal pembagian wilayah maupun pembayaran ongkos perang, penyerahan pemimpin pemberontak, dan pembentukan wilayah administratif.

Pada tanggal 26 dan 31 Maret 1831 Pemerintah Hindia Belanda dan Sultan Yogyakarta mengadakan kontrak kerja sama tentang pembagian wilayah administratif baru dalam Kesultanan disertai penetapan jabatan kepala wilayahnya. Saat itu Kesultanan Yogyakarta dibagi menjadi tiga kabupaten yaitu Bantulkarang untuk kawasan selatan, Denggung untuk kawasan utara, dan Kalasan untuk kawasan timur. Menindaklanjuti pembagian wilayah baru Kesultanan Yogyakarta, tanggal 20 Juli 1831 atau Rabu Kliwon 10 sapar tahun Dal 1759 (Jawa) secara resmi ditetapkan pembentukan Kabupaten Bantul yang sebelumnya dikenal bernama Bantulkarang.

Seorang Nayaka Kesultanan Yogyakarata bernama Raden Tumenggung Mangun Negoro kemudian dipercaya Sri Sultan Hamengku Buwono V untuk memangku jabatan sebagai Bupati Bantul.

Tanggal 20 Juli setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Bantul. Selain itu tanggal 20 Juli tersebut juga memiliki nilai simbol kepahlawanan dan kekeramatan bagi masyarakat Bantul mengingat Perang Diponegoro dikobarkan tanggal 20 Juli 1825. Pada masa pendudukan Jepang, pemerintahan berdasarkan pada Usamu Seirei nomor 13 sedangakan stadsgemente ordonantie dihapus. Kabupaten memiliki hak mengelola rumah tangga sendiri (otonom).

Kemudian setelah kemerdekaan, pemerintahan ditangani oleh Komite Nasional Daerah untuk melaksanakan UU No. 1 Tahun 1945. Tetapi di Yogyakarta dan Surakarta undang-undang tersebut tidak diberlakukan hingga dikeluarkannya UU Pokok Pemerintah Daerah No. 22 Tahun 1948, dan selanjutnya mengacu UU Nomor 15 Tahun 1950 yang isinya pembentukan Pemerintahan Daerah Otonom di seluruh Indonesia.

Bupati yang Pernah Memimpin Bantul


Membuka lembaran sejarah Bantul setelah Sri Sultan HB V mewisuda R.T. Mangku Negoro, yang pada intinya hampir sama dengan membuka perjalanan Bangsa Indonesia pada umumnya. Dari pemerintahan satu bupati ke bupati yang lain, Bantul terus mengalami perkembangan dan dinamika. Adapun Bupati yang memimpin Kabupaten Bantul yaitu:

1. Raden Tumenggung Mangun Negoro 20 Juli 1831
2. Raden Tumenggung Jayadiningrat 1845 - 1851
3. Raden Tumenggung Tirtonegara 1851 - 1852
4. Raden Tumenggung Nitinegara 1852 - 1855
5. Raden Tumenggung Danukusuma 1855 - 1878
6. Raden Tumenggung Djojowinoto 1878 -
7. Raden Tumenggung Djojodipuro 1878 -
8. Raden Tumenggung Surjokusumo -
9. Raden Tumenggung Mangunyudo 1899 - 1913
10. K.R.T. Purbadiningrat 1913 - 1918
11. K.R.T. Dirdjokusumo 1918 - 1943
12. K.R.T. Djojodiningrat 1943 - 1947
13. K.R.T. Tirtadiningrat 1947 - 1951
14. K.R.T. Purwaningrat 1951 - 1955
15. K.R.T. Partaningrat 1955 - 1958
16. K.R.T. Wiraningrat 1958
17. K.R.T. Setyosudono 1958 - 1960
18. K.R.T. Sosrodiningrat 1960 - 1969
19. K.R.T. Prodjohardjono (Pejabat) 1969 - 1970
20. R. Sutomo Mangkusasmito, SH. 1970 - 1980
21. Suherman Partosaputro 1980 - 1985
22. K.R.T. Suryo Padmo Hadiningrat ( Moerwanto Suprapto) 1986 - 1991
23. K.R.T. Yudadiningrat (Sri Roso Sudarmo) 1991 - 1998
24. Drs. H. Kismosukirdo (PJ) 1998 - 1999
25. Drs. HM. Idham Samawi 1999 - 2004
26. Drs. Mujono NA , Desember 2004 - Januari 2005 (Penjabat)
27. Drs. HM. Idham Samawi 2005 - 2010 (Terpilih kembali melalui PILKADA Langsung 2005)
28. Hj. Sri Surya Widati 2010 - 2015
29. Drs. H. Suharsono 2016 - 2021
30. H. Abdul Halim Muslih 2021 - sekarang



Simak Video "Bermodalkan Gunting, Mahasiswi Yogyakarta Melahirkan dan Buang Bayinya"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/sip)