Para pedagang Pasar Maling di Pasar Johar, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, ternyata memiliki kode bahasa sendiri. Bahasa tersebut digunakan untuk berniaga.
Hal tersebut disampaikan oleh salah satu tokoh Pasar Maling (PM) Johar, Yuli Eko. Pria yang telah membuka lapak di Pasar Maling Johar sejak 1981 itu mengungkap para pedagang menggunakan kode bahasa khusus.
"Kadang-kadang kita tuh kreatif, ada bahasa sendiri," kata Eko saat ditemui detikJateng di lantai 2 Pasar Johar Selatan, Jumat (26/6).
Adapun kodefikasi bahasa yang digunakan berupa simbol-simbol tertentu yang merujuk kepada harga jual. Bahasa prokem itu diklaim tidak diketahui masyarakat luas, hanya golongan pedagang PM Johar.
"Dan masih ingat, satu itu rojo, dua itu kirik. Bahasa prokem kita toh. Jadi kalau kita nyang-nyangan (tawar-menawar) tuh pakai bahasa kita, nggak ada yang tahu," ungkapnya.
Eko mencontohkan, jika seorang pembeli hendak menawar harga, terkadang penjual berdiskusi soal harga dengan pelapak lainnya. Pembahasan tersebut tidak akan dipahami oleh pembeli lantaran mereka menggunakan bahasa prokem.
"Misalkan, celana njenengan harga Rp 45 ribu. 'Piro harga iki? Gendero jaran. Gendero jaran cilik opo gede? Cilik gede.' (berapa harganya? Bendera kuda. Bendera kuda kecil atau besar? Kecil besar)," ucapnya sembari menirukan gaya diskusi antarpedagang.
"Itu kalau yang kecil Rp 4.500. Kalau besar Rp 45 ribu. Bahasa-bahasa itu yang tahu kita, bahasa Pasar Maling," lanjutnya.
Hingga kini, kode-kode bahasa niaga itu masih digunakan oleh para pedagang PM Johar. Pedagang anyar di PM Johar pun ikut belajar prokem itu.
"Bakul-bakul (penjual baru) juga banyak yang belajar bahasa itu," sebutnya.
Asal-usul Nama Pasar Maling
Eko menuturkan, mulanya para pedagang di PM Johar mendapat barang luar negeri dari pelabuhan. Barang-barang bermerek itu pun dijual dengan harga murah.
"Kita tuh waktu itu banyak barang-barang dari pelabuhan mungkin dari Singapura. Itu semua kan larinya ke pasar. Dan situ memang kita memang nggak matok harga mahal. Harganya yang murah-murah," ungkapnya.
Seiring waktu, pedagang di PM Johar semakin banyak. Pada malam harinya, mereka berjualan di sekitar wilayah Kanjengan, tidak jauh dari Pasar Johar.
"Seiring kemudian, dari pihak pedagang semakin banyak. Terus ada yang jualan malam di depan Kanjengan. Kita jualnya pakai petromax-petromax. Terus pakaian di samping," jelasnya.
Lantaran berjualan pada malam hari dengan penerangan yang minim itu, Eko menyebut, barang yang dijual seperti didapat dari maling. Terlebih barang yang dijual di bawah harga pasar. Dari situlah penyebutan "Pasar Maling" mulai ramai.
"Lah di situ kadang-kadang, maaf, jualnya kan murah, peteng-peteng (gelap) kok kayak barang malingan (hasil maling). Jadi terkenal kebetulan barangnya murah-murah do plesetke wong (diplesetkan) barang ini murah-murah kayak barang colongan, kayak barang malingan," bebernya.
Adapun barang yang dijual bukanlah curian. Eko menilai, saat itu barang yang dijual tidak juga terlalu murah. Hanya saja pedagang mengambil sedikit untung.
"Barangnya juga enggak murah-murah amat. Cuma kita memang jualnya nggak ngambil untung banyak. Kalau di toko waktu itu kan belum ada seperti ini supermarket," tuturnya.
"Dari situ semuanya timbul nama barang kok murah-murah, barang malingan. Akhirnya timbulnya seperti 'Pasar Maling'," lanjutnya.
Eko menyebut, saat itu para pedagang menjual berbagai barang seperti gitar. Barang yang dijual pun dari jenama terkenal.
"Ada gitar. Ada sepatu-sepatu branded," sebutnya.
Pada awal mula PM Johar bergeliat, Eko tidak menampik jika kemungkinan ada barang hasil curian yang dijual meskipun tidak banyak. Dia mengatakan, barang tersebut didapat pedagang dari orang lain yang menjual.
"Ada mungkin satu dua (barang hasil curian), tidak bisa menolak. Misalkan, maaf, njenengan jual pakaian sama saya, apa ada info saat itu barang itu curian apa nggak? Ya, saya beli toh sesuai dengan standar harga barang bekas," sebutnya.
Senada dengan Eko, Kepala Bidang Penataan dan Penetapan Dinas Perdagangan Kota Semarang, Bagas Yuwono Ario Negoro, menyebut barang-barang yang dijual di PM Johar memang bermerek. Murahnya barang yang dijual memunculkan penyebutan "Pasar Maling".
"Pasar Maling itu kan dulu terkenal sekali dengan adanya barang-barang branded atau barang-barang yang mungkin second. Dan itu lebih murah, makanya (namanya) Pasar Maling," kata Bagas.
Ada juga versi yang menyebutkan bahwa penamaan Pasar Maling karena lokasinya yang berdekatan dengan Masjid Agung Semarang. Sebuah amsal menyebutkan bahkan sandal yang hilang di masjid tersebut pun bisa ditemukan di PM Johar.
"Tapi ada yang omongan, karena dekat masjid, sandalnya itu hilang, biasanya dijual di Pasar Maling. Jadinya akhirnya jadinya Pasar Maling, perumpamaannya," ungkap Bagas.
Simak Video "Video: 36 Biksu Thudong yang Jalan Kaki dari Thailand Telah Sampai di Borobudur"
(alg/apl)