Pedagang di Pasar Johar, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, mengeluh lantaran sepi pembeli. Mereka menyebut sepinya pembeli itu akibat harga jual terus tinggi.
Pantauan detikJateng di lokasi pada Sabtu (6/6/2026), tampak tidak banyak pembeli di Pasar Johar, terutama di bagian selatan. Adapun Pasar Johar Selatan merupakan tempat melapaknya pedagang kebutuhan pokok.
Tak banyak stan penjual yang tutup, sebagian besar masih membuka lapak. Meski begitu, aktivitas niaga di salah satu pasar terbesar di Kota Semarang itu terlihat sepi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa penjual menghabiskan waktu dengan mengupas bawang putih atau membersihkan bawang merah. Sebagian lainnya hanya termenung.
Seorang pedagang bawang di Pasar Johar, Tum (60), mengaku tempatnya melapak sepi pembeli sejak sebulan belakangan. Dia menduga, kondisi tersebut terjadi lantaran harga jual dagangannya yang masih bertahan tinggi.
"Pasarnya sepi sekali, kelamaan mahal (harga jual). Jadinya harga nggak kuat," ungkap Tum saat ditemui di Pasar Johar siang ini, Sabtu (6/6/2026).
Meski sempat harga bawang merah mengalami penurunan dari Rp 45 ribu per kg menjadi Rp 41 kg, Tum menilai harga tersebut masih mahal. Dia mengatakan, dirinya menyetok bawang merah dari Bima, Nusa Tenggara Barat.
"Bawang merah agak turun sedikit. Biasanya yang Rp 45 ribu itu jadi Rp 41 ribu. Tapi dari Bima ya, kalau Jawa agak agak sulit. Sebenarnya ya harganya terlalu tinggi," sebutnya.
Tak hanya sepi, pelanggannya juga mengurangi jumlah belanjaan. Dia menyebut, biasanya pembeli membeli bawang sebanyak 10 kg menjadi 4-3 kg.
"Orang belanja biasa beli 10 kilo, belinya 3 kilo, 4 kilo. Karena harganya sudah tinggi, akhirnya pasar sekarang jadi sepi," bebernya.
Kondisi Pasar Johar di Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, Sabtu (6/6/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
Sepinya pembeli membuat Tum harus mengurangi stok bawang. Dia biasa membawa stok 20 karung bawang, kini hanya 10 karung.
"Saya itu ya sampai 20 karung. Tapi sekarang paling ya 10 karung, 12 karung kalau ada pesanan," katanya.
Kondisi serupa juga dialami penjual cabai, Riyanti (63). Dia mengatakan harga cabai rawit merah saat ini dinilai masih mahal mencapai Rp 60 ribu per kg, meski sebelumnya seharga Rp 65 ribu.
"Kemarin Rp 65 ribu, hari ini Rp 60 ribu, yang rawit merah ini," kata Riyanti.
Dia juga menyangka sepinya pembeli lantaran harga jual yang masih bertahan mahal. Bahkan tetangganya hanya membeli cabai Rp 3 ribu untuk berhemat.
"Barang mahal. Kadang ada yang di rumah beli Rp 2.000, Rp 3.000 sudah bungkusan, nggak mau ke pasar kan, ngirit," jelasnya.
Riyanti menyebut penjualannya selama sebulan ini turun hingga 50 persen. Meski begitu, dia masih bersyukur.
"Separuhnya turunnya penjualan dibanding sebelumnya," terangnya.
Dia pun turut mengurangi stok barangnya untuk dijual yang mulanya bisa mencapai 15 dus cabai, kini hanya 10 dus.
"Biasanya umpamanya 15 dus, cuma 10," sebutnya.
Pedangan lainnya pun terdampak sepinya pembeli di Pasar Johar. Tumini (60) sebagai pedagang kebutuhan pokok bahkan pernah hanya mendapat Rp 100 ribu dalam sehari.
"Kadang itu blong, pernah loh blong Rp 100 ribu," kata Tumini.
Dari Rp 100 ribu itu, Tumini hanya membawa uang Rp 50 ribu. Sebab, masih ada beberapa kewajiban hingga kebutuhan yang perlu dibayarkan.
"Itu buat karcis Rp 7 ribu, buat kamar mandi juga, buat makan juga. Eh, bawa pulang Rp 50 ribu. Nanti cucu, 'uti, jajan'," ungkapnya.
Tumini juga ikut mengurangi stok penjualannya. Biasanya dia membawa bawang sebanyak 3 kg, sekarang hanya 2 kg.
"Ini bawang ambil dua, biasanya ambil tiga (kg)," katanya.

