Kantor biro perjalanan haji dan umrah yang berada di Java Mall Semarang digeruduk sejumlah orang. Mereka merasa jadi korban karena batal berangkat umrah meski pembayaran sudah lunas.
Pantauan detikJateng di kantor agen travel yang berada di basement Java Mall sekitar pukul 22.04 WIB masih cukup banyak orang. Mereka terlihat berkumpul di depan kantor agen tersebut.
Mobil polisi juga sudah terparkir di halaman mall. Di pelang yang tertulis di kantor tersebut, tertera tulisan 'Al Amanah penyelenggara resmi umroh dan haji khusus'.
Seorang pria yang diduga merupakan pemilik agen travel tersebut hanya bisa diam tak berkutik usai kantornya didatangi para korban sekaligus aparat kepolisian. Ia pasrah saat diminta polisi ikut ke Mapolrestabes Semarang.
Salah satu korban yang ikut menggeruduk malam ini, Endang (54), mengaku telah mendaftar umrah sejak bulan Januari 2025 bersama adiknya.
"Saya berdua dengan adik saya menyetor uang sebesar Rp 46 juta, tapi baru dikembalikan Rp 25 juta," kata Endang di lokasi, Minggu (26/4/2026) malam.
Ia mengatakan, pihak agen selalu beralasan keberangkatan ditunda bulan berikutnya dengan berbagai alasan, padahal dia dan para korban lainnya sudah membayar lunas.
"Saya sudah membayar, dijanjikan berangkat 5 Desember 2025, mundur tanggal 30, mundur lagi tanggal 5 Januari," ungkapnya.
"(Alasannya?) Pokoknya katanya crowded, katanya apa," ujarnya.
Hal serupa dialami Sustiowati. Ia mengaku telah membayar Rp 26 juta untuk keberangkatan seorang diri, tetapi baru menerima pengembalian Rp 3 juta.
"Pokoknya setiap kita tanya 'berangkat umrah bulan ini ada nggak?' dia selalu bilang ada. Nanti dia bikin drafnya dan langsung suruh bayar," jelasnya.
Kemudian warga lainnya asal Mijen, Reza Tongga (43), mengaku seharusnya berangkat pada 5 Januari 2026 setelah melunasi pembayaran pada Desember 2025. Namun, dua hari sebelum keberangkatan, ia diminta menjadwal ulang.
"Saya nggak mau (jadwal ulang). Saya curiga ada indikasi bahwa orang ini nipu, sehingga hari itu saya laporkan beliau (pemilik) ke Polda. Saat ini sudah ditangani Polrestabes, cuma tindak lanjutnya belum signifikan," ujar Reza.
Reza menyebut, dirinya mengalami kerugian mencapai Rp 50 juta untuk dua orang. Dari jumlah tersebut, baru Rp 30 juta yang dikembalikan, itu pun setelah ia melapor ke Polda Jateng. Para korban pun menggeruduk kantor malam ini karena mengetahui agen tersebut masih terus beroperasional usai dilaporkan.
"Dia ada bilang kalau laporan dicabut, saya akan kembalikan. Tapi kita tidak tahu, masa seperti itu, kan nggak fair," tegasnya.
Ia mengungkapkan, berdasarkan pendataan sementara, terdapat sedikitnya 12 korban dengan rata-rata kerugian sekitar Rp 25-50 juta per orang. Bahkan, ada korban dengan nilai kerugian hingga Rp 275 juta.
"Rata-rata Rp 25-50 juta, paling banyak ke (masjid) Al Aqsa, terdiri dari 5 orang," ucapnya
Menurutnya, praktik yang dilakukan terduga pelaku juga terkesan sistematis, dengan memisahkan para calon jemaah agar tidak saling mengenal.
"Korban yang masuk hitungan saya ada 12 orang, itu yang kita tahu. Karena kita dipisah-pisah, biar nggak kenal sama teman-temannya," ungkapnya.
Para korban pun berharap pihak berwenang segera mengambil tindakan tegas, termasuk menutup operasional biro tersebut agar tidak menimbulkan korban baru. Para korban itu ikut pihak kepolisian ke Mapolrestabes Semarang untuk melakukan pelaporan.
"Harapan saya adalah ditindaklanjuti. Secara operasional, secara izin, kalau memang valid (terbukti melakukan pelanggaran) harusnya ditutup sehingga tidak ada korban jemaah lain," pungkas Reza.
Sementara itu dari pihak kepolisian hingga malam ini belum memberikan keterangan terkait perkara tersebut.
Simak Video "Video Timwas Haji DPR Bahas Persiapan Puncak Ibadah Haji 2026"
(azu/alg)