Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengenang perjalanan pendidikannya yang ditempuh berkat berbagai beasiswa. Salah satunya saat menjadi penerima Beasiswa Supersemar pada masa pemerintahan Presiden ke-2 RI Soeharto.
Hal itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional & Anniversary FABs ke-IX Tahun 2026 bertajuk Digital Citizenship: Membangun Generasi Cerdas, Kreatif, dan Berkarakter di Era Reformasi Digital di Pendopo Museum RA Kartini, Rembang, Sabtu (4/7/2026).
Mu'ti mengaku hidupnya tidak lepas dari beasiswa sejak masih duduk di bangku sekolah hingga menempuh pendidikan pascasarjana di luar negeri. Pengalaman itu menjadi salah satu alasan dirinya mendorong semakin luasnya akses beasiswa bagi anak-anak Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya ini mungkin salah satu dari sekian banyak anak Indonesia yang hidupnya dari beasiswa ke beasiswa. Ketika sekolah alhamdulillah sering tidak bayar karena ranking satu. Ketika kuliah S1 saya termasuk penerima Beasiswa Supersemar, beasiswa dari Pak Harto," kata Mu'ti di Pendopo Museum RA Kartini, Rembang, Sabtu (4/7/2026).
Mu'ti menceritakan, pada masanya beasiswa Supersemar merupakan satu-satunya program beasiswa yang tersedia bagi mahasiswa. Namun, jumlah penerimanya sangat terbatas sehingga hanya mahasiswa dengan prestasi akademik terbaik yang bisa lolos.
"Waktu itu satu-satunya beasiswa yang ada Beasiswa Supersemar saja. Sering kalau kami di kampus diplesetkan penerima Super Bagong. Jumlahnya tidak banyak," ujarnya.
Ia mengenang saat kuliah di IAIN Walisongo, yang ketika itu masih memiliki sejumlah kampus cabang di Kudus, Pekalongan, Salatiga, dan Semarang. Dari tujuh fakultas yang ada, penerima Beasiswa Supersemar hanya berjumlah 21 mahasiswa.
"Saya ingat waktu kuliah di IAIN Walisongo, penerimanya hanya 21 mahasiswa saja. Yang IP-nya minimal 3. Waktu itu cari IP 3 susahnya luar biasa," ungkapnya.
Menurut Mu'ti, budaya akademik pada masa itu membuat nilai tinggi sulit diraih mahasiswa. Bahkan, ia menyebut ada guyonan di kalangan dosen mengenai pemberian nilai.
"Karena ada ungkapan di kalangan dosen, nilai A itu untuk malaikat, nilai B untuk dosen, mahasiswa itu C saja. Jadi kalau punya IP di atas 3 sudah termasuk kelompok yang khas, karena jarang sekali yang punya IP 3," katanya sambil disambut tawa peserta seminar.
Mu'ti menambahkan, setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia kembali memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi magister di Australia. Ia menjadi penerima Australia Awards dan menempuh pendidikan di Flinders University, Australia Selatan.
"S2 saya juga alhamdulillah beasiswa lagi dari luar negeri. Saya termasuk penerima Beasiswa Australia Awards. Kampusnya di Universitas Flinders, Australia Selatan," pungkasnya.
(alg/alg)
