Tanah Gerak di Jangli Semarang, Musala Disulap Jadi Pengungsian

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Senin, 09 Feb 2026 20:03 WIB
Suasana rumah warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (9/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng
Semarang -

Peristiwa tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mengakibatkan 15 rumah terdampak, 4 di antaranya roboh. Warga pun membuat pengungsian di musala terdekat.

Pantauan detikJateng di Kelurahan Jangli RT 07 RW 01, tampak beberapa warga berkumpul di Musala Al Amin yang disulap jadi tempat pengungsian. Pengungsian hanya berupa musala yang pelatarannya diberi terpal oranye dan meja-kursi untuk warga.

Mereka menatap rumah dan jalanan yang sudah porak poranda. Retakan di Jalan Jangli-Undip pun makin besar hingga motor tak bisa melintas. Beberapa kali warga menyetop pengendara yang hendak melintas.

Sebagian warga juga terlihat memperbaiki halaman rumahnya yang retak. Sementara sebagian lainnya mengevakuasi barang di dalam rumah untuk dibawa ke rumah kerabat.

Salah satu warga, Agus Surono (35), mengatakan tanah gerak sudah terjadi sejak dua minggu lalu. Namun, baru viral sejak terjadi tanah gerak minggu ini.

"Terjadi sudah dari dua minggu lalu, tapi yang paling parah dari Kamis (5/2) malam kemarin. Kemudian setelah itu setiap hujan tanah selalu kembali bergerak," kata Agus kepada detikJateng di lokasi, Selasa (9/2/2026).

"Kemudian yang terakhir pagi ini pukul 06.00 WIB geser lagi. Biasanya geser tanahnya itu dini hari, tapi baru ini (geser) pagi dan paling parah, getarannya semalam lebih kencang," lanjutnya.

Menurutnya, Kamis (5/2) lalu tanah gerak hanya merobohkan satu rumah warga. Namun, kali ini tanah gerak membuat empat rumah benar-benar tak bisa ditempati.

"Makanya kita buat pengungsian dari pagi tadi. Warga nanti bisa tidur sini, terus beberapa itu mengevakuasi barangnya taruh di tempat saya, alhamdulillah masih bisa," jelasnya.

Ia menjelaskan, selama dua minggu ini pergerakan tanah terus terjadi. Bahkan, dalam sehari bisa terjadi beberapa kali pergerakan.

"Awalnya kayak gempa dulu, terus baru setelah gempa geser, mletak-mletak (retak), terus pas malam langsung turun. Jalannya itu tadinya masih bisa dilewati, sekarang sudah turun banget," jelasnya.

"Gesernya itu lama, cuma (rumah dan jalan) ambruknya setelah gerak, pas posisi gerak nggak ambruk. Biasanya 1-2 menit gerak. Pertama itu cuma bentuk serabut, terus di rumah Pak Supardi mulai kelihatan. Terus yang lain menyusul sampai akhirnya pada roboh," lanjutnya.

Suasana pengungsian warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (9/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Ia mengatakan, masih ada beberapa warga yang tinggal di rumah karena bagian yang terdampak tanah gerak hanya dapur dan kamar mandi. Kendati demikian, warga terus merasa waswas hingga tak bisa tidur.

"Kebanyakan warga juga ini nganggur semua, karena kalau mau bekerja juga waswas, kepikiran terus sambil kerja. Takut rumahnya roboh," jelasnya.

Selain ke perekonomian warga, pergerakan tanah ini juga berdampak pada keseharian warga. Agus menyebut beberapa rumah mematikan arus listrik karena takut mengalami korsleting.

"Berdampaknya ke listrik, air, WiFi. Kabel WiFi tiap hari ada yang rusak, pipa air juga tiap hari ada yang rusak, airnya jadi mati, tiap hari tukang ke sini," tuturnya.

Salah satu warga, Slamet Riyadi (47), mengaku tengah tertidur saat tanah bergerak Minggu (8/2) malam tadi. Saat terbangun dari tidurnya, rumahnya sudah porak poranda dengan retakan di setiap sudut.

"Tanah geraknya kan sudah lama, sebenarnya sudah ada 1 bulanan lebih. Tapi nggak seperti ini. Kalau dampaknya yang seperti ini hujan yang kemarin 2 malam itu. Terus tambah parah lagi malam tadi," kata Slamet kepada detikJateng.

"Tadi malam itu rumah ini masih saya tempati. Terus ada 20 cm-an ternyata yang bergerak, bangun itu sudah porak poranda. Terus ngevakuasi barang tadi," jelasnya.

Tak hanya itu, kandang kambing dan ayamnya pun terdampak. Atap kandang sudah turun, sehingga mau tak mau ia berencana untuk menjual kambing-kambingnya itu.

"Kandangnya malah lebih parah. Kambingnya sekarang masih di kandang., tapi besok rencananya ya mau dipindah, terus dijual. Saya juga mau mengungsi di masjid, soalnya kan risiko anak-anak," terangnya.

"Pertama kan Rabu-Kamis itu sudah ada 10 rumah terdampak, satu roboh. Kalau ini tadi hujan semalam tambah lagi jadi 15 rumah, yang nggak bisa ditempati 4 rumah itu parah," ungkapnya.




(apu/ams)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork