Peristiwa tanah gerak yang terjadi di wilayah Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang makin mengkhawatirkan. Pergerakan tanah belum berhenti dan berdampak ke belasan rumah.
Menurut warga di RT 07 RW 01, tanah gerak terjadi sejak Kamis (5/2) dan terus terjadi. Salah satu pemicunya adalah hujan deras yang terus menerus.
15 Rumah Terdampak
Salah satu warga, Slamet Riyadi (47) mengatakan tanah gerak yang berdampak pada rumahnya terjadi pada hari Minggu (8/2) malam. Dia terkejut saat bangun tidur rumahnya sudah banyak retakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tadi malam itu rumah ini masih saya tempati. Terus ada 20 cm-an ternyata yang bergerak, bangun itu sudah porak poranda. Terus evakuasi barang tadi," kata Slamet kepada detikJateng di lokasi, Senin (9/2/2026).
Ia kemudian memilih mengungsi ke masjid demi keamanan. Kambing-kambing miliknya juga akan dijual cepat karena kandang yang juga terdampak. Slamet menyebut hingga kini sudah 15 rumah yang terdampak.
"Pertama kan Rabu-Kamis itu sudah ada 10 rumah terdampak, satu roboh. Kalau ini tadi hujan semalam tambah lagi jadi 15 rumah, yang nggak bisa ditempati 4 rumah itu parah," ungkapnya.
Selain bangunan, tanah gerak juga berdampak pada jalan yang menghubungkan Jangli dengan wilayah Undip itu. Jalan tersebut retak dan merekah sehingga berbahaya dilalui.
Musala jadi Pengungsian
Warga yang rumahnya tidak bisa lagi digunakan ada yang memilih mengungsi ke Musala Al Amin di dekat lokasi. Pengungsian sederhana itu dibuka dengan diberi terpal oranye dan meja serta kursi.
Warga bernama Agus Surono (35) menyebut awalnya satu rumah roboh pada hari Kamis (5/2). Kemudian disusul tiga lainnya dan diputuskan dibuka pengungsian di Musala.
"Makanya kita buat pengungsian dari pagi tadi. Warga nanti bisa tidur sini, terus beberapa itu mengevakuasi barangnya taruh di tempat saya, alhamdulillah masih bisa," kata Agus, Senin (9/2).
Tanah Terus Bergerak
Ketua RT 7 RW 1 Kelurahan Jangli, Joko Sukaryono mengatakan, pergerakan tanah masih terpantau hari Selasa (10/2) sejak pagi hingga siang hari.
"Saat ini masih ada pergerakan perlahan-lahan secara masif. Pergeseran itu terjadi terus tiap detik, terakhir tadi sekitar jam 08.00 WIB pagi sampai siang tadi jam 13.00 WIB," kata Joko saat dihubungi detikJateng, Selasa (10/2/2026).
Joko menyebut, total warga RT 7 RW 1 Kelurahan Jangli berjumlah 63 KK, dengan 15 rumah atau 17 KK terdampak langsung pergerakan tanah.
Ia menyebut dampak pergerakan tanah semakin terlihat dibandingkan hari sebelumnya. Retakan lantai rumah warga yang awalnya hanya beberapa sentimeter kini bertambah lebar.
"Yang kemarin lebarnya sekitar 5 sentimeter, sekarang sudah hampir 10 sentimeter. Bahkan ada rumah yang turun sekitar 5 sentimeter," jelasnya.
Berharap Relokasi
Joko menjelaskan, BPBD Kota Semarang sudah kembali melakukan peninjauan ke lokasi dan merekomendasikan agar warga di wilayah terdampak tidak menempati rumah sementara waktu.
"Saran dari BPBD, rumah-rumah yang terdampak sebaiknya tidak ditinggali dulu dan dilakukan evakuasi," jelasnya.
Bantuan yang telah diterima warga berupa sembako serta perlengkapan darurat seperti terpal dan matras.
"Kita baru menerima bantuan dari BPBD berbentuk sembako dan terpal atau matras untuk pengungsian. Tenda posko sudah berdiri cuman untuk tenda pengungsiannya yang belum," ujarnya.
Joko menyebut warga masih mengharapkan adanya relokasi ke tempat yang lebih aman, dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi warga.
"Harapannya warga yang terdampak bisa direlokasi di tempat yang lebih aman. Status rumah kami itu kan di tanah TNI AD, kita berharapnya bisa direlokasi di wilayah TNI AD," harapnya.
"Karena sebagian besar warga saya itu pekerjaannya hanya buruh. Dari faktor ekonomi kalau direlokasi lebih jauh nggak memungkinkan lah. Nanti kesulitan," lanjutnya.
Tanah Gerak Jenis Rayapan Lempung
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah (Jateng), Agus Sugiharto, menjelaskan fenomena tanah gerak di berbagai wilayah di Jateng termasuk Jangli Semarang merupakan jenis gerakan tanah rayapan (creeping), dengan tanah rayapannya disebut berjenis lempung (clay).
"Jadi kalau Tegal itu dari sisi geologi, hasil investigasi dan kajian teman-teman itu memang creeping, lapisan tanahnya jenisnya clay atau lempung," kata Agus saat dihubungi detikJateng, Selasa (10/2/2026).
"Kemudian kena air dia merayap, pelan-pelan geraknya. Itu creeping salah satu jenis gerakan tanah. Macam-macam jenis gerakan tanah, rayapan ini wilayahnya biasanya luas dan ada kemiringan lereng sehingga litologi itu bergerak," lanjutnya.
Selain di Kabupaten Tegal, creeping juga ditemui di Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali; Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang; dan beberapa titik di Kota Semarang, termasuk di Kelurahan Jangli yang berada di atas Candi Golf.
"Kayak Greenwood Kali Pancur itu creeping juga, pecahnya alon-alon, tapi lama-lama tergeser. Termasuk yang di Gombel, di atas lapangan golf itu creeping juga, clay," ujarnya.
"(Kelurahan Jangli juga termasuk creeping dengan lapisan tanahnya jenis lempung?) Kemungkinan juga sama," lanjutnya.
Faktor Hujan
Agus menjelaskan hujan menjadi faktor utama pemicu pergerakan tanah. Daerah berkarakter tanah lempung dengan potensi gerakan tanah rayapan seharusnya dihindari untuk dibangun tempat tinggal.
"Memang kalau tidak ada pemicunya itu nggak masalah. Pemicunya itu salah satunya kan air. Kemudian kita membuat salinasi apa drainase nggak bener. Sehingga air masuk ke dalam tanah yang mengakibatkan tanah itu bertambah massanya," jelasnya.
"Lempung itu kemampuan menyerapnya tinggi, tapi ngelepasnya air sulit. Jadi dia itu impermeable (kedap air) tapi bukan nggak punya porositas. Porositasnya ada tapi impermeable, nggak mau melepaskan air," lanjutnya.
Ia menerangkan, air hujan yang masuk ke dalam tanah lempung dan menambah beban massa tanah, akan melemahkan daya ikat antarbutir.
"Kalau massa airnya bertambah, daya ikat antarbutir berkurang, maka dia akan lemah dan bergerak. Jadi nek sak jane ora udan nemen-nemen yo ora obah (kalau tidak hujan terus tidak akan bergerak)," kata Agus.
(alg/alg)
