Belasan rumah di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, mengalami kerusakan imbas fenomena tanah bergerak. Berikut ini penampakannya.
Hingga kemarin, total ada 15 rumah yang terdampak tanah gerak, 4 rumah di antaranya sudah tidak bisa dihuni. Tanah gerak juga memutus jalan penghubung antara Jangli dengan kawasan Universitas Diponegoro (Undip).
Di Kelurahan Jangli RT 07 RW 01, Senin (9/2), terlihat rumah warga sudah porak poranda. Adapun retakan di Jalan Jangli-Undip bertambah besar sehingga motor tidak bisa melintas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suasana rumah warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (9/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Warga juga sudah mendirikan pengungsian di musala terdekat. Sejumlah warga juga tampak memperbaiki halaman rumahnya yang retak serta mengevakuasi perabotan dari dalam rumah.
Salah satu warga, Slamet Riyadi (47) mengaku sedang tidur saat terjadi tanah bergerak kemarin malam. Begitu terbangun, dia melihat rumahnya sudah porak poranda dengan retakan di setiap sudut.
"Tanah geraknya kan sudah lama, sebenarnya sudah ada 1 bulanan lebih. Tapi nggak seperti ini. Kalau dampaknya yang seperti ini hujan yang kemarin 2 malam itu. Terus tambah parah lagi malam tadi," kata Slamet saat ditemui detikJateng, Senin (9/2/2026).
Suasana rumah warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (9/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
"Tadi malam itu rumah ini masih saya tempati. Terus ada 20 cm-an ternyata yang bergerak, bangun itu sudah porak poranda. Terus evakuasi barang tadi," imbuhnya.
Kandang kambing dan ayam milik Slamet juga rusak terdampak tanah gerak.
"Kandangnya malah lebih parah. Kambingnya sekarang masih di kandang, tapi besok rencananya ya mau dipindah, terus dijual. Saya juga mau mengungsi di masjid, soalnya kan risiko, anak-anak," ujar dia.
"Pertama kan Rabu-Kamis itu sudah ada 10 rumah terdampak, satu roboh. Kalau ini tadi hujan semalam tambah lagi jadi 15 rumah, yang nggak bisa ditempati 4 rumah itu parah," ucap dia, kemarin.
Suasana rumah warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (9/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Slamet berharap pemerintah memperhatikan nasib para warga yang terdampak tanah gerak.
"Sebagai warga negara ya kita juga bukan warga liar, di sini juga punya KTP. Harapannya untuk pemerintah ya minta kebijaksanaannya, relokasi atau gimana. Kan kita was-was," harapnya.
Suasana rumah warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (9/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Warga lainnya, Kadar (58), kemarin masih tinggal di rumahnya meski dapur, kamar mandi, dan kandang ayam miliknya sudah roboh. Ia mengaku tak bisa tidur setiap malam, takut tanah gerak kembali terjadi.
"Kejadian ini sudah 2 minggu, yang parah itu hari Kamis kemarin. Dari Kamis sampai hari ini sudah berkali-kali gesernya, nggak longsor tapi sepertinya tanah melorot, bergeser dikit-dikit," kata Kadar.
Suasana kandang ternak warga terdampak tanah gerak di Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Senin (9/2/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Menurut dia, dalam sehari tanah bergerak bisa mencapai sekitar 500 meter. Bahkan akibat hujan semalaman, kemarin pagi pipa PDAM mengalami retak sekitar 1 meter sehingga mengganggu saluran air warga.
"Kalau punya saya ini samping rumah kena separuh yang buat masak sama buat mandi, septic tank-nya gelumpang, klosetnya juga jumpalik," ujar Kadar.
"Saya istilahnya pasrah saja, karena itu dari Allah, kita dikasih perhatian mungkin hidup kan ada cobaan. Tapi ya saya was-was, cuma punya rumah itu aja tok, nggak punya lain-lain," sambungnya.
Kadar menambahkan, tiap hujan, dia mendengar gemuruh disertai getaran seperti gempa yang menandakan adanya pergerakan tanah.
"Sudah terasa itu kayak gempa, terus gledak-gledak. Tadi aja itu mungkin 1 meteran yang bergeser dari jam 06.00 WIB. Was-was nanti kalau hujan lagi," tuturnya.
Kadar menjelaskan, sudah ada bantuan berupa sembako bagi warga terdampak. Dia berharap ada bantuan untuk perbaikan rumah atau relokasi.
"Saya rumahnya rumah kayu. Jadi kalau biaya ya paling butuh buat beli kayu, buat seng, mungkin sekitar Rp 10-20 juta," pungkasnya.
(dil/aku)
















































